DIANA & DIANI

DIANA & DIANI
WEJANGAN DARI SANG SUAMI


__ADS_3

DI DALAM Sebuah ruangan besar rumah bertingkat dua itu, Doni sedang makan siang bersama istri dan kedua anak nya. mereka makan siang sesekali bercengkrama membahas hal yang dipelajari oleh Diana ketika ia di ajari cara-cara membela diri dari lawan ketika berada dipadepokan muay thai chi.


"mbak Rosa itu pa yang mengajarkan kakak melatih fisik dan membela diri. awal-awal kakak sama Febri memang agak susah mengikuti gerakan nya, tapi lama-kelamaan bisa juga pa."


"wah hebat dong kakak kalau begitu. lalu dede kenapa gak ikutan juga?"


"kan dede cuman ingin lihat kakak latihan saja papa. masa papa lupa sih! huuh!" gerutu Diani dengan lagak manja nya dan Doni tertawa sembari meminta maaf kepada Diani karena ia mengaku lupa akan hal tersebut.


Dona hanya tersenyum saja melihat suami dan kedua anak nya itu mengobrol dengan ayah nya, dan tanpa sadar ia teringat akan tatapan sinis dari Rosa kepada nya ketika ia masih berada dipesanggrahan. wajah senyum nya perlahan menyusut dan ia menunduk sembari lanjut makan siang. setelah makan siang mereka itu selesai, Diana dan Diani pergi bermain ke rumah nenek nya yang ada di sebelah rumah itu.


Sedangkan sepasang suami istri itu, seperti biasa duduk di ruangan tengah rumah itu sembari menonton televisi dan kedua nya mulai mengobrol.


"tadi pagi bagaimana ketika mengantar anak-anak ma? baguskan tempat nya?"


"iya memang bagus sekali..., ditambah ada wanita yang bernama Rosa itu, semakin menambah indah suasana ditempat itu." ucapan Dona yang datar saja itu membuat Doni menatap ke arah nya sembari dahi nya berkerut.


Dona masih cuek saja menatap ke arah televisi. lalu Doni berkata tanya.


"mengapa kau bawa-bawa nama wanita itu sayang???" Dona lalu menatap wajah suami nya dan menjawab pertanyaan nya tadi.


"kan tadi kamu bertanya soal suasana dipesanggrahan itu, ya aku jawab bagus dan ditambah lebih indah kalau ada wanita yang bernama Rosa itu."


"lalu maksud mu apa berkata begitu???" tanya Doni lagi semakin tak mengerti akan ucapan istri nya itu.


Dona lalu menghirup napas sesak didada nya lalu menghembuskan nya dengan lepas. lalu ia berkata,


"wanita yang bernama Rosa itu memang cantik. mama pun takjub akan kecantikan nya itu. tetapi, mengapa tatapan nya itu selalu memasang wajah sinis kepada mama. seperti nya wanita itu memang benar-benar naksir sama papa dan tahu bahwa mama adalah istri nya papa. mungkin dengan cara memasang wajah sinis seperti itu kepada mama, dia seakan meremehkan mama dan sikap nya tergolong pandai memendam perasaan suka nya terhadap papa."

__ADS_1


"mama ini ngomong apa sih!?" tanya Doni semakin heran dan Dona menjelaskan nya.


"mama takut papa terjebak rupa cantik dari wanita itu." ucap Dona sedikit parau dan mata nya menatap mata Doni secara lekat-lekat. wajah Doni yang berkumis tipis itu menatap mata Dona juga dengan lekat-lekat, seakan ingin menembus relung hati Dona yang sedang dirundung gelisah itu.


Kemudian Doni mulai perdengarkan suara nya, setelah lama nya mereka saling pandang.


"apa mama ragu akan kesetiaan papa selama ini kepada mama? kita sudah lebih sepuluh tahun loh menjalani hubungan ini dari semenjak kita berpacaran sampai menikah dan memiliki Diani?"


"iya mama tahu akan hal itu pa. takut nya papa kepincut wanita muda itu dan mencoba berpaling dari mama dan anak-anak." lalu Dona menunduk sedih dan segera dipeluk oleh Doni yang berkata.


"jangan berpikiran yang macam-macam mama. sampai maut memisahkan kita pun, papa akan tetapi setia kepada mama."


"janji ya pa??"


"iya janji sayang. demi allah papa berjanji." ujar Doni lagi bersumpah dan kini Dona sudah menenangkan rasa sedih dan gelisah nya. kecupan hangat dari Doni dikening Dona terasa menyentuh kalbu nya dan telah mampu mengikis rasa gundah gulana dalam hati nya itu.


"kata Wawan, ibu dan ayah tiri papa sudah keluar dari penjara ma."


"ah masa sih pa? bukankah menurut pak Yaris masih ada waktu seminggu lagi?"


"entahlah ma. papa pun tak mengerti bisa seperti itu. tapi yang jelas pasti nya, keluarga kita pasti lamban laun akan dalam bahaya juga."


"mama jadi takut pa. apalagi kalau menimpa anak-anak, mama lebih takut lagi." ujar Dona yang mulai khawatir lagi dan Doni segera menenangkan nya.


"tak perlu khawatir dulu ma. yang kita perlukan adalah siap-siap untuk mencegah hal kemungkinan jelek itu terjadi. pasti sasaran mereka adalah kantor CV.Group Perkasa dan papa sudah membicarakan hal itu kepada pak Yono dan juga Wawan." Dona manggut-manggut mendengar nya dan ia berkata lagi.


"mengapa ibu Dewi dan suami nya itu tak ada jera nya berbuat jahat seperti itu kepada papa? padahal mereka sudah merasakan hukuman dari akibat kejahatan mereka dalam sell penjara." Doni menatap Dona dan mengelus-elus rambut Dona dengan lembut sembari berkata.

__ADS_1


"seorang manusia yang memiliki tekad dendam dalam hati nya itu, mau sampai kapan pun orang itu akan terus saja memendam dendam yang telah mendarah daging di dalam diri nya. orang itu akan terus saja mencoba untuk membalaskan dendam nya itu kepada orang yang dibenci nya tanpa memandang yang nama nya kegagalan. dendam itu ibarat air yang mengalir dan akan terus mengalir dari orang yang pedendam itu sampai tiba kepada anak dan cucu nya. seperti hal nya dengan ibu dan ayah tiri papa, mereka adalah manusia yang seperti itu dan akan terus begitu sampai ajal menjemput mereka. mungkin, dendam tersebut sudah menurun kepada ketiga anak nya dan sudah pasti suatu saat entah itu kapan waktu nya, dendam tersebut akan tiba kepada papa dan anak cucu kita nanti nya." ujaran panjang lebar dari Doni tersebut, membuat Dona yang mendengar nya sedikit merenungi ucapan suami nya itu.


Wejangan Dari Sang Suami nya itu membuat perasaan Dona perlahan merasakan kebahagiaan yang tiada tara nya dan ia membatin.


"suami ku sangat pintar, tampan, kaya, dewasa dan yang pasti nya kuat di ranjang. tak ada lagi laki-laki selain diri nya didunia ini dan aku tak mau sampai kehilangan suami yang sangat aku sayangi dan cintai ini." ucap batin Dona disaat menatap Doni dengan senyuman tadi. lalu Doni berkata lagi kepada istri nya,


"kita harus tetap waspada dengan orang asing dimanapun kita berada sayang."


"iya sayangku." ujar Dona tersenyum nakal dan ia langsung mencium bibir Doni dan Doni pun membalasnya dengan ciuman mesra.


Siang hari yang sedikit panas oleh terik matahari itu, terlihat ibu Asih sedang mengambil jemuran pakaian yang sudah kering di halaman rumah nya itu. di dalam kamar depan rumah itu, Diana dan Diani berada di dalam kamar bekas ibu nya tidur semasa masih gadis. kedua anak itu sedang tiduran sembari memainkan ponsel nya masing-masing.


"kakak?"


"ya apa de?" jawab Diana menjawab pertanyaan adik nya.


"bukankah ketua kelas itu ikut beladiri diperguruan itu juga kak?"


"hmm..., setahu kakak dari omongan si Febri itu, memang ketua kelas kita ikut less seni bela diri di tempat itu. tetapi dari kemarin sampai hari ini, kakak tak melihat anak itu berada di perguruan itu dek."


"hmm iya juga kak. apakah kak Bram itu sedang sibuk dengan keperluan pribadi nya kak?" Dona lalu menatap adik nya yang berbaring di samping nya itu sembari berkata.


"mengapa dede bertanya hal itu kepada kakak???" Diani tersenyum sembari berkata.


"bukankah kakak pacar nya kak Bram??"


"apa!? jangan becanda seperti itu dede! kakak tak suka!" ujar Diana cemberut dan membuang muka serta membalikan badan memunggungi Diani ke arah samping nya. Diani pun tertawa mengikik karena berhasil membuat kakak nya itu cemberut dan kemudian Diani berkata meminta maaf kepada kakak nya dan kakak nya pun memaafkan ucapan adik nya yang usil tadi dengan nada ucapan masih sedikit cemberut.

__ADS_1


__ADS_2