DIANA & DIANI

DIANA & DIANI
INTROGASI


__ADS_3

KERAH Baju Yoshua dilepaskan oleh Diana setelah terdengar seruan dari ibu Sari.


"hentikan!" seru nya bernada tegas. semua pasang mata menatap ke arah ibu Sari muncul dan ibu Sari lalu mendekati keributan tersebut. Yoshua langsung mendekati ibu Sari sembari berkata mengadu.


"bu saya di pukuli Diana bu.., lihat wajah saya sampai sakit-sakit begini." Yoshua mengadu seperti itu dengan wajah memelas ingin dibelakasihani dan Beryl serta Usman pun mengadu bahwa mereka pun ikut dihajar oleh Febri.


Aduan mereka tersebut membuat Febri dan Diana geram. lalu Febri memulai berkata keras membela diri.


"mereka yang mulai bu!"


"Diana dan Febri hanya membela diri saja bu! ketiga anak bandel itu yang awal nya bikin perkara dan mengusik kami bu!" tegas Diana juga tak mau disalahkan.


Ibu Sari menatap wajah mereka satu persatu dan kemudian berkata,


"kalian semua ikut ibu ke kantor kepala sekolah!" ujar nya penuh ketegasan. setelah ibu Sari berkata begitu, ke lima anak itu mengikuti ibu Sari pergi ke kantor kepala sekolah dan di ikuti oleh para murid-murid yang kepo akan kelanjutan dari kejadian tersebut. Diani pun ikut juga bersama para murid lain nya, karena ia merasa diri nya adalah saksi yang jelas dari awal permasalahan tersebut terjadi.


Disamping itu, ketiga remaja laki-laki baru turun dari motor matic nya. ketiga nya turun di depan sebuah restorant pratama cabang satu. keadaan pagi sekitaran jam sepuluh itu masih sepi pengunjung karena jam sepuluh pagi direstorant itu baru saja buka. ketiga remaja itu bertanya-tanya kepada salah satu karyawan yang menjadi ketua direstorant tersebut yang terlihat sedang menyapu teras depan restorant itu.


"iya kak ada yang ingin saya bantu???" tanya ketua pegawai restorant yang bernama Ningsih. salah satu dari ketiga anak itu mulai berkata,


"kami bertiga ingin melamar pekerjaan ditempat ini, apakah masih ada lowongan mbak???" tanya nya dan membuat Ningsih berkata menjawab nya.


"seperti nya disini sudah tidak menerima lowongan pekerjaan lagi, tapi sebentar saya tanyakan dahulu kepada menejer restorant ini. silahkan mas-mas ini duduk dulu di kursi tunggu ini." ketiga anak remaja itu lalu duduk di kursi tunggu depan restorant itu


Sembari menunggu Ningsih memanggil menejer restorant itu, ketiga remaja itu mulai mengobrol.


"bagus sekali kak tempat nya. aku jadi ingin benar-benar bekerja ditempat ini." ujar remaja yang paling muda dan bernama Rian.


"hust jangan menghayal dulu dik! kita belum tentu diterima bekerja disini!" ujar kakak kedua nya yang bernama Herman. lalu sipaling tertua menengahi ucapan kedua adik nya sembari berkata bisik-bisik.

__ADS_1


"jangan kencang-kencang kalian bicara nya! nanti rencana kita gagal!" umpat kakak nya yang bernama Roni. kedua adik nya hanya menurut tak mau mengeyel akan perintah kakak nya itu. ketiga remaja itu ternyata sudah di utus oleh kedua orang tua nya yaitu ibu Dewi dan pak Tomi untuk memulai rencana busuk mereka.


Tak lama mereka selesai mengobrol, muncul Ningsih bersama seorang lelaki berkisar umuran tiga puluh tujuh tahunan yang memakai jas kantoran. ketiga anak tadi terperanjat menatap lelaki itu dan demikian lelaki tadi pun ikut terperanjat, walaupun hanya terperanjat dalam hati nya saja.


"wah bukankah kalian ini anak nya ibu Dewi dan pak Tomi???" tanya lelaki itu yang tak lain adalah Wawan. ketiga nya mengangguk gugup dan tak percaya akan muncul kehadiran Wawan direstorant tersebut.


Lalu Wawan berkata lagi kepada ketiga nya dengan pertanyaan.


"kata nya kalian bertiga ingin melamar pekerjaan ini tempat ini? betulkah?"


"betul bang Wawan." jawab ketiga remaja itu yang sudah mengenal siapa itu Wawan dengan sopan dan Wawan manggut-manggut, tetapi dalam hati nya ia membatin.


"pasti ketiga anak ini sudah diutus oleh kedua orang tua nya untuk mengorek informasi terkait Doni tinggal dimana sekarang! aku harus segera bertindak sebelum ketiga anak ini semakin berani!" setelah membatin begitu, Wawan segera berkata.


"maaf ya adik-adik..., disini sedang tak menerima karyawan dahulu. tetapi coba kalian melamar ke tempat sebelah ruko ini, seperti nya sedang mengadakan lowongan pekerjaan."


"memang tak ada. karyawan disini sudah cukup dan tak bisa menambah karyawan baru lagi." ketiga remaja itu saling tatap dan kemudian Roni, si anak tertua itu berkata.


"kata mbak ini, dicabang lain nya masih ada lowongan bang?" Wawan menatap Ningsih sebentar dan kemudian menatap ketiga anak itu lagi.


"memang ada, tempat nya berada di daerah Bali. tetapi kalau kalian tak keberatan sih, silahkan saja pergi kesana dengan kendaraan dan ongkos sendiri." ujar Wawan sengaja berkata mempersulit ambisi ketiga remaja itu.


Ketiga remaja itu saling tatap lagi dan Wawan sudah melihat wajah keraguan dari ketiga anak itu.


"bagaimana? apa kalian berminat?" tanya Wawan lagi dan Roni langsung berkata.


"tak perlu bang. lebih baik kami mencari lowongan ditempat lain saja. permisi bang." lalu Roni dan kedua adik nya pergi lagi dengan menaiki motor yang dibawa mereka itu untuk pulang lagi ke rumah mereka. Wawan tersenyum penuh kemenangan sembari kepala nya geleng-geleng. dalam hati ia membatin,


"rencana busuk kalian tak akan bisa terjadi untuk yang kedua kali nya lagi!" setelah membatin begitu, Wawan segera pergi lagi ke ruangan kantor nya untuk memberitahukan hal tersebut kepada Doni lewat telepon.

__ADS_1


Diruangan kepala sekolah, Diana, Febri, Yoshua, Beryl dan Usman, mereka duduk di kursi sofa yang bersebelahan. wali kelas mereka hadir disitu bersama pak kepala sekolah yang bernama pak Ali. mereka sedang di Introgasi oleh pak kepala sekolah tersebut.


"kalian ini mengapa sampai berkelahi begitu hah? coba kalian jelaskan satu persatu!" lalu ibu Sari selaku wali kelas mereka menimpali ucapan kepala sekolah itu.


"coba jelaskan dulu dari mu dulu Yoshua!?" Yoshua mengangguk dan kemudian berkata.


"awal nya kami mau pergi ke kantin bu, tetapi langkah kami dihadang oleh Febri. kami mencoba menghindar, tetapi Febri sok keras dan ingin terlihat gagah didepan para murid lain nya. ia memaksa kami untuk melawan nya, tetapi kami menolak karena kami tak punya salah kepada nya. setelah itu Diana ikut campur dan kami bertiga di hajar sampai babak belur begini oleh mereka. iyakan Beryl dan Usman?"


"iya benar bu...!" tegas kedua anak itu membela cerita Yoshua.


Diana dan Febri yang duduk bersebelahan itu sejak tadi sudah ingin mencela cerita bualan dari Yoshua tadi. tetapi mereka tak berani menyela karena mereka tak mau di anggap biang kerok nya oleh pak kepala sekolah dan wali kelas mereka. ucapan dari Yoshua tadi membuat ibu Sari dan pak Ali selaku kepala sekolah tersebut, saling tatap dan kini pak Ali bertanya kepada Diana dan Febri.


"lalu dari kalian berdua, coba jelaskan kronologi awal nya sampai kalian berdua berkelahi dengan ketiga anak ini." Diana menyenggol lengan Febri agar ia yang menjelaskan nya. Febri hanya mengangguk dan berkata sembari menatap wajah pak Ali dan ibu Sari.


"mereka bertiga pandai membual bu, pak. apa yang mereka katakan itu cuman akal-akalan mereka saja."


"kalian yang membual! bukti nya kami bertiga babak belur begini dihajar kalian! apa salah kami sebenar nya?" ucap Yoshua dan kedua teman nya segera memasang wajah sedih.


Diana melototi Yoshua sembari menuding nya.


"kau tak perlu membela diri Yoshua! banyak bukti tentang keusilan dan kejahatan kalian di kelas! diantara aku dan Febri, banyak murid yang kalian ganggu termasuk adik ku sendiri!" Yoshua tak berkutik dituding kejelekan nya seperti itu oleh Diana. Yoshua ingin berkata lagi membela diri, tetapi ibu Sari segera berkata.


"lalu permasalahan awal nya bagaimana Diana? sampai kau dan Febri menghajar mereka sampai babak belur begitu?" Diana lalu menjelaskan nya, ketika Yoshua mendekati Dirinya dan adik nya.


Diana pun membeberkan bahwa Yoshua iri terhadap diri nya yang baru saja dilantik menjadi wakil ketua kelas oleh ibu Sari, sampai Febri membela nya ketika Diana dimaki-maki Yoshua dan perkelahian pun terjadi. ibu Sari dan pak Ali menatap Yoshua dan kedua teman nya itu yang sejak tadi menunduk malu. pada saat itu pak Ali berkata,


"coba bawa satu murid yang menjadi saksi awal perkelahian mereka. kita tak tahu mana yang benar dari pengakuan murid-murid ini."


"baik pak." ujar ibu Sari dan kini ia pergi ke luar kantor kepala sekolah untuk memanggil saksi atas kejadian tersebut.

__ADS_1


__ADS_2