
SEBUAH Kampung pinggiran kota jakarta yang bernama kampung Kebon Pisang itu, didatangi oleh mobil nya Doni. dinamakan kampung kebun pisang, karena hampir setiap pemilik kebun dikampung itu mayoritas pekerjaan nya petani pisang, dalam artian mata pencaharian nya memanen pisang baik yang masih hijau tua atau pun sudah matang untuk dijual ke pasar. kampung tersebut adalah tempat dimana para tersangka kejahatan ditangkap dirumah nya pak Yohan. pak Yohan adalah kepala desa kampung itu dan kini rumah nya yang bak seperti istana itu, terlihat sepi dan angker. lintasan pembatas polisi masih terlihat mengelilingi luar tembok rumah itu dan mobil nya Doni sudah melintasi area jalan depan rumah itu.
Mobil Doni kini berhenti di salah satu rumah depan rumah warga yang pemilik nya rumah tersebut sudah mengajak masuk Doni beserta istri dan kedua anak nya. sebelum nya Doni bertanya-tanya kepada para warga akan pemilik kebun pisang di samping rumah nya pak Yohan, setelah mendapat petunjuk itulah mobil Doni melaju ke rumah itu. Doni kini sedang dijamu bersama istri dan kedua anak nya oleh pemilik rumah yang diperkirakan seorang bapak-bapak berumur lima puluh tahun. istri bapak-bapak itu yang umur nya sama pun menemani suami nya mengobrol dengan para tamu itu.
"jadi kedatangan saya kemari bersama istri dan kedua anak saya, hanya bermaksud ingin mengganti kerugian yang sudah dilakukan oleh anak saya ini." ujar Doni dan sepasang suami istri pemilik rumah itu saling tatap setelah Doni menjelaskan maksud kedatangan nya ke rumah itu.
Pak Sobirin sang pemilik rumah itu pun bertanya.
"maaf sebelum nya pak. memang nya kerugian apa yang telah dilakukan anak bapak ini kepada kami?"
"kata anak saya, ketika ia berhasil meloloskan diri dari rumah nya pak Yohan. ia pernah menebang pohon pisang yang sudah matang di kebun bapak. anak saya berkata ia kepepet karena saat itu kelaparan. maka maksud tujuan saya datang kemari bersama istri dan kedua anak saya, tujuan nya ingin mengganti kerugian tersebut." pak Sobirin dan istri nya yang bernama ibu Anom itu manggut-manggut paham, kemudian pak Sobirin berkata.
"pantas ketika sehari sejak kejadian ditangkap nya pak Yohan itu, kebun pisang saya ada yang menebang nya. tetapi hanya beberapa bulir pisang saja yang diambil. malah sisa nya masih banyak."
"saya hanya memakan lima buah saja pak. kalau semua nya dimakan, bisa muntah-muntah saya." ujar Diana menyahut dan Diani cekikikan mendengar ucapan konyol kakak nya itu. kemudian ibu Anom berkata setelah ia pun tersenyum mendengar Diana berkata begitu.
"padahal tak usah repot-repot untuk mengganti kerugian segala. lagi pula hanya beberapa bulir nya saja yang diambil anak cantik ini." pada saat itu Dona segera berkata.
"mau banyak atau sedikit, kalau cara mengambil nya tak izin dahulu kepada sang pemilik nya. itu sama saja nama nya maling bu, saya dan suami saya tak pernah mengajarkan anak kami jadi pencuri atau untuk berbuah hal jahat lain nya."
__ADS_1
"betul apa yang dikatakan istri saya ini. maka dari itu, atas dasar maaf kami akan kesalahan putri kami. terima lah ini atas ungkapan maaf atas itu." pak Sobirin dan istri nya saling tatap ketika Doni menyodorkan amplop coklat lumayan tebal.
Wajah ragu dari sepasang suami istri itu menatap wajah Doni dan pak Sobirin bertanya.
"apa ini pak???"
"terima saja pak. ini adalah uang."
"tap..tapi mengapa sebanyak itu???" tanya ibu Anom dan Doni berkata lagi bahwa ia ingin memberi lebih kepada mereka. maka mau tak mau sepasang suami istri itu menerima nya dan mereka mendoakan keluarga Doni agar dijauhkan dari segala marabahaya dan dilancarkan rezeki nya. setelah mereka dijamu dan berbincang-bincang mengakrabkan diri, Doni beserta keluarga nya pamit kembali untuk pulang karena hari sudah semakin siang.
Setelah keluar dari dalam rumah nya pak Sobirin, Diana melihat seorang ibu-ibu yang ia kenali nya. ibu itu adalah seorang penjual nasi goreng dipinggir jalan yang telah menolong Diana. ibu Samsiah terlihat sedang menyapu teras depan rumah nya dan Diana segera menarik lengan ayah nya yang mau masuk bersama Dona.
"kenapa dengan ibu itu nak???"
"itu ibu penjual nasi goreng yang pernah menolong Diana, papa!"
"itukah orang nya???" Diana mengganguk ditanya seperti itu oleh ayah nya. Dona dan Diani yang sudah masuk ke dalam mobil pun keluar lagi, mereka diajak Doni untuk pergi ke rumah ibu Samsiah bersama Diana.
Kedatangan Diana bersama orang tua dan adik nya itu, membuat ibu Samsiah sedikit kaget dan berkata menyentak.
__ADS_1
"oh!? nak Diana kan!?"
"iya saya Diana bu." jawab Diana dan pada saat itu juga ibu Samsiah memeluk Diana tanpa malu terhadap kedua orang tua nya. Diana tersenyum dipeluk oleh ibu Samsiah, kini ibu Samsiah melepas pelukan itu dan berkata maaf kepada Dona dan Doni. sepasang suami istri itu berkata memaklumi dan tak mengecam apa yang dilakukan oleh ibu Samsiah itu kepada anak mereka. lalu ibu Samsiah mengajak masuk Doni bersama istri dan kedua anak nya itu ke dalam rumah ibu Samsiah.
Kini mereka sudah duduk diteras beralaskan samak seada nya dan sedang dijamu oleh ibu Samsiah selaku pemilik rumah tersebut. mereka memperbincangkan pembahasan Diana yang telah ditolong oleh ibu Samsiah itu dan membuat ibu Samsiah tak menyangka akan ditemukan nya lagi diri nya dengan Diana. obrolan itu terus berlanjut sampai Doni memberikan amplop coklat yang sama dengan orang-orang yang pernah ia beri sebelum nya.
"amplop apa ini pak Doni???" tanya ibu Samsiah yang sudah berkenalan dengan Doni beserta keluarga nya.
"terima saja bu. anggap saja itu sedekah dari kami atas perbuatan baik ibu kepada anak kami." ujar Dona menjawab nya dan ibu Samsiah akhir nya menangis setelah Doni berkata juga bahwa isi nya adalah uang.
Isakan tangis ibu Samsiah itu segera diredakan ketika ia mendengar suara laki-laki yang batuk-batuk di dalam salah satu kamar rumah itu. Doni dan Dona mengangguk setelah ibu Samsiah permisi sebentar pergi ke dalam kamar yang mula nya terdengar suara orang batuk tadi. Diana dan Diani duduk bersila berdampingan dan sesekali mereka memperhatikan isi rumah ibu Samsiah itu. rumah itu tak ada yang istimewa nya sama sekali, persis seperti rumah para penduduk biasa pada umum nya. tak lama muncul lagi ibu Samsiah yang sesekali mengusap air mata nya dan ia berkata.
"terima kasih atas pemberian nya ini pak Doni beserta keluarga." lalu ibu Samsiah mendoakan Doni beserta keluarga nya supaya ditambahkan rezeki nya yang melimpah. ibu Samsiah juga berkata bahwa uang itu akan ia gunakan untuk berobat suami nya yang sedang sakit.
Setelah obrolan mereka dirasa cukup, Doni bersama keluarga nya pamit kembali karena siang setelah dzuhur mereka harus menghadiri persidangan para tersangka kejahatan. ibu Samsiah hanya melambaikan tangan nya ketika Diana melambaikan tangan ke arah nya setelah mereka berpisah. kini mobil Doni sudah melaju menuju restorant cepat saji, karena mereka akan makan siang dahulu dan setelah itu akan pergi ke persidangan. kini, Urusan tentang orang yang telah menolong kesulitan Doni dan Diana pun Terselesaikan. sekarang hanya tinggal tahap akhir. yaitu, mereka akan menghadiri persidangan para pelaku kejahatan ditempat yang sudah disebutkan oleh pak Yaris kepada Doni.
...*...
...* *...
__ADS_1