DIANA & DIANI

DIANA & DIANI
RENCANA BUSUK


__ADS_3

DI Suatu perkampungan penduduk pinggiran kota jakarta yang bernama kampung mangga besar itu, ternyata sedang ramai diperbincangkan oleh para penduduk tentang rumor nya ibu Dewi dan suami nya yaitu pak Tomi yang sudah keluar dari dalam penjara. mereka saling menggosip akan tingkah laku keluarga itu yang sebenar nya sudah terjadi dulu, kini mereka bahas lagi setelah ibu Dewi dan suami nya keluar dari penjara.


Rumah bercat hijau yang sudah luntur dilahap masa itu terlihat sepi-sepi saja di luar rumah itu. awal nya memang ramai dikunjungi oleh para warga yang sekedar ingin tahu keadaan ibu Dewi dan suami nya yang baru pulang dengan diantar oleh mobil tahanan itu. sekarang para tetangga tak ada yang berani datang ke rumah itu untuk melihat keadaan ibu Dewi dan pak Tomi lagi, karena kedua nya sudah mengecam siapa saja warga yang ingin menjenguk mereka dan sampai berkata kasar juga dengan mengancam siapa saja yang berani ikut campur dalam urusan rumah tangga nya itu. ketiga anak lelaki mereka yang kini sudah beranjak remaja dan diperkirakan berumur sekisar dua puluh tahunan itu, sedang memijat-mijat kaki dan tangan kedua orang tua nya itu. wajah ibu Dewi yang dulu nya lumayan cantik dan wajah pak Tomi yang dulu nya masih lumayan tampan itu, kini hanya menyisakan sisa-sisa kerupawanan nya diwajah tua nya itu. kulit nya memang mengendur, tetapi tak separah orang tua yang sangat renta. tubuh kedua orang tua itu masih sedikit berisi dan hanya kendur di area kulit wajah, lengan dan paha.


Siang itu, ketiga anak nya ibu Dewi dan pak Tomi sedang mengobrol dengan kedua orang tua nya. sembari masih memijat-mijat anggota tubuh kedua orang tua nya itu.


"selama ayah dan ibu berada di dalam penjara, siapa yang memasak makanan buat kalian?? lalu apakah kalian masih bersekolah???" tanya pak Tomi kepada ketiga anak nya.


"kami bertiga sudah lulus sekolah semua pak, bu. kami sudah bisa mandiri sejak ayah dan ibu dipenjara." ucap anak yang tertua dan bernama Roni. lalu adik kedua nya yang bernama Herman menimpali ucapan kakak nya.


"kami membeli bahan makanan dari uang yang dulu pernah ibu simpan didalam lemari. biaya sekolah pun di ambil dari situ uang nya bu. sekarang pun seperti nya masih tersisa beberapa juta lagi."


"betul ibu, ayah. kami bertiga mengirit-irit uang tersebut sampai menunggu ibu dan ayah keluar dari dalam penjara." ujar anak yang paling bungsu dan berumur tujuh belas tahun yang bernama Rian.


Ibu Dewi dan pak Tomi tersenyum bangga akan ucapan dari ketiga anak nya yang penuh kemandirian itu. lalu ibu Dewi mulai berkata kepada ketiga anak nya.


"ibu dan ayah kalian bangga sekali terhadap kalian yang patuh terhadap orang tua. lalu, apakah kakak tiri kalian pernah datang ke rumah ini lagi???"

__ADS_1


"tidak pernah bu." ujar anak yang kedua.


"semenjak ayah dan ibu tertangkap, kami tak melihat si Doni itu datang ke tempat ini." ujar anak yang pertama. ibu Dewi merenung sebentar akan ucapan dari kedua anak nya itu.


Lalu pak Tomi bertanya kepada istri nya itu.


"apakah Rencana yang sudah kita siapkan matang-matang di dalam penjara akan kita lakukan sayang?" ibu Dewi mengangguk seraya berkata.


"kita harus mengatur rencana itu lagi bersama ketiga jagoan kita ini sayang." ujar ibu Dewi menyanjung ketiga anak lelaki nya itu. pak Tomi paham bahwa nanti yang akan bergerak mencari informasi tentang tempat Doni tinggal sekarang adalah ketiga anak nya itu.


Rencana Busuk mereka belum dirundingkan kembali karena kedua orang tua itu menyuruh kedua anak nya untuk menyiapkan makan siang bagi mereka. ketiga anak remaja itu menuruti apa kata kedua orang tua nya itu dengan patuh nya. disela ketiga anak nya pergi ke dapur untuk menyiapkan makan siang, ibu Dewi berkata kepada suami nya.


"siasat bagaimana??" tanya pak Tomi penasaran. ibu Dewi lalu menjelaskan nya bahwa ia nanti akan berpura-pura jadi pengemis yang meminta-minta ke kantor CV. Group Perkasa. tujuan mereka memang tempat itu satu-satu nya informasi yang bisa di dapat tentang Doni dan juga pak Yaris. maka dari itu, usulan siasat dari ibu Dewi itu segera disetujui oleh suami nya itu.


Disebuah teras padepokan muay thai chi, Diana dan Febri sedang duduk sembari sesekali minum air mineral dalam botol. baju mereka nampak basah oleh keringat dan terlihat naik-turun dada kedua nya menghirup udara banyak-banyak. Dona dan anak kedua nya hanya melihat kedua anak itu dengan senyum mengembang karena kedua nya nampak bersemangat sekali dalam mempelajari seni bela diri itu. Koh Tian sedang mengajarkan gerakan-gerakan silat kepada murid-murid yang lain nya. sedangkan cucu nya yang bernama Rosa, ia pun masih mengajarkan gerakan-gerakan silat juga.


Ada beberapa murid yang kelelahan dan istirahat sebentar untuk minum di teras padepokan itu dan setelah itu mereka mulai latihan lagi. waktu siang hari mulai tiba dan terdengar suara adzan dzuhur sayup-sayup dikejauhan. latihan silat itu dihentikan cukup sampai di situ, karena hanya berlaku dari pagi sampai siang saja. setelah siang menuju malam, adalah waktu bebas bagi para murid yang menginap dipadepokan itu untuk melakukan hal apapun tanpa harus keluar gerbang padepokan tersebut.

__ADS_1


Siang itu Dona sudah menelepon pak Soleh untuk menjemput nya pulang, tetapi pak Soleh berkata bahwa Doni yang akan menyusul nya kesana. Dona memahami maksud apa kata pak Soleh itu dan kini Dona bersama ketiga anak kecil itu sudah pamit pulang kepada koh Tian.


Rosa yang sejak tadi duduk di teras sembari melepas lelah itu, sesekali memandang Dona secara diam-diam dan dalam hati nya segera membatin.


"apakah dia istri dari bapak-bapak yang tampan itu? hmm..., kurasa tak mungkin. paling wanita itu adalah istri dari bapak-bapak yang berkumis satu nya lagi." ucap batin nya menyangka Dona adalah istri nya Wawan.


Pada saat Dona dan ketiga anak kecil itu menunggu di depan gerbang padepokan tersebut, sebuah mobil hitam mengkilat tiba dan berhenti. lalu Doni keluar dari dalam mobil itu dan membuat Rosa tercengang sedikit mendelik mata nya. Doni yang ia kagumi ketampanan nya itu terlihat sedang mencium kening Dona dan lalu menggendong Diani masuk ke dalam mobil nya. Febri dan Diana sudah masuk lebih dulu dan kemudian di susul oleh Dona. kini mobil Doni sudah pergi melaju menuju rumah nya dan Rosa yang sejak tadi masih diam mematung melihat kejadian salah sangka nya itu, segera dikagetkan oleh suara kakek nya.


"apakah kamu naksir sama lelaki beristri itu, Rosa???" Rosa lalu memalingkan wajah nya ke arah kakek nya yang baru saja duduk di teras di samping diri nya.


"mengapa kakek berkata begitu???"


"karena kakek tahu bahwa kamu memang naksir kepada lelaki yang bernama Doni itu."


"ah kakek jangan mengada-ada! sudah kek Rosa mau pergi ke kantin dulu untuk makan siang." lalu Rosa pergi ke kantin yang ada di pojokan padepokan itu dan kakek nya hanya bergumam menatap kepergian Rosa sembari mengusap-usap jenggot panjang nya itu.


...*...

__ADS_1


...* *...


__ADS_2