
DONI Sudah turun ke lantai satu dan sudah berpakaian rapi semacam jas kantoran. Diana sudah selesai mandi dan hanya memakai handuk saja. ia berjalan dengan langkah kecil nya menuju kamar nya berada. Doni yang akan pergi ke kamar anak itu pun, menghadang langkah Diana dan bertanya kepada nya.
"adik mu kemana nak? tumben kamu mandi sendiri?"
"dede lagi sama mama dikamar pa. kata nya dede masih lemas karena baru saja bangun tidur sama kakak tadi. dede masih ingin tiduran sebentar dan sekarang sedang ditemani oleh mama dikamar."
"oh begitu. yasudah ayo ke kamar nak, papa ingin lihat." Diana hanya mengangguk saja dan ia kini berjalan menuju kamar nya dan di ikuti oleh ayah nya itu.
Setelah pintu kamar terbuka, nampaklah Dona yang tertidur sembari memeluk Diani. Doni hanya geleng-geleng kepala saja melihat nya. lalu ia mencoba membangunkan ibu dan anak itu.
"sayang bangun iiihh! sudah sore lho..." lalu Dona terbangun bersama Diani. mereka berdua melihat Doni dan Diana yang hanya memakai handuk yang menutupi tubuh nya itu. lalu Dona bertanya kepada suami nya.
"papa mau kemana sudah berpakaian rapi begitu?"
"papa ada perlu sebentar dengan klien ma. paling nanti sehabis isya papa pulang lagi."
"oh begitu.. yasudah mama mau mandi dulu sama Diani." ujar Dona dan kemudian Dona pun menyuruh Diana agar segera memakai baju agar tak masuk angin. Diana menuruti nya dan pada saat itu juga Doni berkata setelah Dona mengais Diani pergi ke kamar mandi.
"kakak ganti pakaian yang bagus ya, papa mau ajak kamu jalan-jalan."
"mau ajak kemana pa?" tanya Diana bingung dan Doni menjawab nya.
"nanti kamu akan tahu sendiri sayang. sudah buruan pakai baju mu nak."
"iya papa." lalu Doni keluar kamar itu dan menunggu Diana selesai memakai pakaian.
Dalam hati Diana penuh pertanyaan yang tak disangka-sangka.
__ADS_1
"papa mau mengajak ku kemana ya? tumben sekali papa mau mengajak ku jalan-jalan dan sudah sekian lama nya papa dan mama sibuk dalam pekerjaan nya itu, baru kali ini mengajak ku jalan-jalan lagi. tapi, mengapa hanya aku seorang saja yang di ajak. sedangkan Diani mengapa tak ikut juga???" ujar batin Diana bertanya-tanya dengan penuh keheranan.
Sudah seperempat jam Doni menunggu Diana berpakaian, kini anak itu muncul dan berjalan menuju ayah nya. Doni lalu bangun dari duduk nya dan mengajak Diana keluar rumah dan menuju ke mobil nya berada. kedua pembantu rumah itu terlihat sedang mengangkat jemuran dihalaman luas rumah itu dan ibu Asih baru saja masuk setelah pintu gerbang dibuka oleh nya. Ia melihat Diana dan Doni yang sudah masuk ke dalam mobil hitam itu, Doni lalu berseru kepada ibu Asih sembari kepala nya nongol keluar dari kaca mobil.
"bu..., Doni akan mengajak Diana pergi sebentar. katakan saja nanti kepada Dona dan Diani jika kedua nya menanyakan Diana kemana..."
"iya nak." ujar ibu Asih sambil melambaikan tangan ke arah Diana yang melambaikan tangan juga ke arah nenek nya itu dari dalam mobil. pintu gerbang sudah dibuka lebar oleh pak Soleh dan kini mobil Doni sudah melaju ke tempat dimana ia akan bertemu dengan klien rekan bisnis nya nanti.
Diperjalanan, adzan maghrib sudah berkumandang. Doni masih saja mengemudikan mobil nya menuju tempat nya akan pergi kemana. Diana yang duduk disamping kemudi itu, sejak tadi diam saja dan dalam diam nya itu, batin Diana terus saja berkecamuk.
"aduuh! bagaimana cara nya aku memulai untuk mengobrol dengan papa? tak biasa nya aku gugup seperti ini!?" lalu pikiran nya lanjut berkata.
"saat ini memang waktu yang tepat untuk aku mengobrol dengan papa tentang masa lalu ku itu. tetapi, apakah papa akan berterus terang kepada ku yang hanya anak angkat nya saja?" mata Diana sesekali mencuri pandang ke arah Doni yang sedang menyetir mobil nya itu.
Tiba-tiba saja Doni berkata kepada Diani dan pandangan Doni masih tertuju ke depan.
"belum sepenuh nya papa, masih butuh latihan lagi." jawab Diana dan ayah nya berkata lagi.
"syukurlah kalau begitu. syukur-syukur kalau kamu bisa menguasai seni bela diri itu, suatu saat kamu pasti bisa menjadi atlet profesional."
"amin papa." jawab Diana tersenyum menatap ayah nya dan Doni pun tersenyum juga menatap anak gadis nya itu.
Sejurus mereka hening kembali, lalu Diana mencoba memberanikan diri untuk memulai obrolan lagi.
"pa..???"
"ya sayang? ada apa?" jawab Doni dan wajah nya menatap anak nya. sedikit terulas wajah ragu-ragu dari Diana dan Doni menyadari nya.
__ADS_1
"katakan saja nak. tak perlu takut dan ragu-ragu seperti itu." Diana lalu mencoba memberanikan diri untuk mengatakan uneg-uneg nya selama ini.
"begini pa, Diana mau bertanya sama papa."
"mau tanya apa sayang?" tanya Doni lagi sembari menatap wajah anak nya itu.
"ketika nenek menceritakan kisah papa dan mama sebelum menikah, apa benar ketika Diani masih bayi, papa yang menemukan Diani didalam kardus di atas tumpukan sampah?" Doni seketika itu juga langsung menatap Diani dengan tegang seraya bertanya.
"apakah nenek mu bercerita juga tentang asal-usul mu dahulu juga nak?" Diana mengangguk dan berkata.
"apa papa bisa menceritakan nya lagi kepada Diana? semenjak nenek menceritakan kisah lengkap mama dan papa, perasaan Diana semakin resah dan bingung jika ingat kedua orang tua Diana yang tega telah membuang Diana sejak bayi." hati Doni sedikit tersentak kaget mendengar anak sekecil Diani sudah berkata layak nya seorang perempuan yang sudah dewasa.
Padahal ketika Doni masih seumuran Diana, keadaan diri nya dulu masih berpikiran polos dan tak paham dengan hal-hal yang berhubungan dengan orang dewasa. Doni segera sadar, bahwa zaman sudah banyak berubah dan bukan seperti zaman ia masih kecil dulu lagi. anak-anak zaman sekarang sudah pintar bermain ponsel dan daya pikiran nya sudah tak kuno seperti zaman dulu. Doni paham akan ucapan dari Diana tadi, tanpa perlu menunggu lama-lama lagi. Doni segera menjawab ucapan dari anak angkat nya yang mulai dewasa itu.
"apa yang pernah dikatakan dalam cerita nenek kepada mu dan adik mu itu, memang benar-benar terjadi dan bukan sekedar cerita karangan semata. kamu memang anak angkat dari papa dan mama nya Diani. tetapi sebelum papa dan mama menikah, kamu sudah kami anggap anak kandung sendiri. jadi tak ada istilah anak angkat bagi kami kepada mu sayang." Diana menunduk haru lalu mencoba tersenyum menahan tangis.
Lalu Doni melanjutkan ucapan nya setelah Diana menatap nya.
"awal nya papa menemukan kamu sejak bayi itu, ketika papa sedang olahraga lari pagi di jalanan aspal ruko tempat kantor papa berada. papa mendengar suara tangisan bayi dari arah tumpukan sampah dan papa yang penasaran itu segera mendekati nya." lalu Doni meneruskan ucapan nya itu tentang Kebenaran Awal Cerita ia menemukan bayi perempuan yang mungil dan lucu, sampai ia bawa ke rumah nya ibu Asih untuk sementara diasuh oleh ibu Asih.
Mata Diana perlahan-lahan mulai sembab oleh air mata, ia mendengarkan cerita ayah nya itu sangat menghayati sekali dan pikiran nya sembari membayangkan apa jadi nya jika dulu diri nya tak ditemukan oleh Doni. mungkin jika Doni tak menemukan nya, bisa saja umur Diana tak akan sampai sedewasa sekarang atau kasar nya sudah lebih dulu meninggal sebelum ditemukan oleh orang lain. tetapi bisa saja nasib nya berubah dan ada orang yang menemukan nya, lalu diberikan kepada polisi untuk ditindak lanjuti. jika kedua orang tua bayi tersebut tak diketemukan identitas nya oleh kepolisian, maka yang akan terjadi selanjut nya adalah tempat penampungan anak yatim-piatu yang akan menjadi tempat tinggal Diana sampai sekarang.
Tetapi nasib baik masih berpihak kepada anak perempuan itu. tuhan masih sayang kepada nya, meskipun beberapa rumor mengatakan anak dari hubungan di luar nikah itu hukum nya anak haram. tetapi semua itu tak berlaku bagi si bayi. sang bayi masih terbilang suci dan jauh dari kata dosa jika melihat nya dari sudut pandang agama islam. sedangkan yang haram dan berdosa itu adalah kedua orang tua nya yang telah melakukan perzinahan tanpa ada nya ikatan pernikahan. ditambah dosa besar karena mereka telah tega membuang anak hasil perzinahan nya itu, sungguh kelakuan layak nya seekor binatang yang tak mempunyai pikiran dan ahklak.
Cerita masa lalu Diana sudah Doni ceritakan sampai sedetail mungkin. Diana sudah menangis meraung-raung di dalam mobil itu dan Doni yang masih fokus mengemudikan mobil nya pun ikut menangis juga, walaupun tangis nya hanyalah tangis kesedihan mengingat diri nya yang menemukan Diana sejak menjadi bayi yang terbuang, sampai mengurus dan membesarkan nya sampai sebesar sekarang menjadi anak gadis yang cantik dan imut menggemaskan. Doni bersyukur kepada tuhan karena ia sudah diberi jalan untuk mengurus bayi yang terbuang itu sampai mengadopsi nya sampai sebesar sekarang. kini cerita tentang masa lalu Diana sudah Doni ceritakan secara rinci kepada Diana sendiri. cerita tersebut terhenti dengan bertepatan dari berhenti nya mobil Doni didepan parkiran mall yang sedang ramai dikunjungi oleh orang-orang yang akan masuk ke dalam mall besar tersebut.
...*...
__ADS_1
...* *...