DIANA & DIANI

DIANA & DIANI
PADEPOKAN MUAY THAI CHI


__ADS_3

MOBIL Hitam mengkilat dan terbilang mobil mewah dan mahal itu, berhenti di depan sebuah tempat pondok pesanggrahan sebuah padepokan yang besar dan luas yang terbuat dari kayu-kayu yang diukir bagus di dalam gerbang gapura pintu masuk nya. orang yang ada di dalam mobil itu, kini sudah keluar dan itu adalah Doni dan Wawan, serta ketiga anak kecil yaitu Diana, Diani dan Febri. mereka kini sudah tiba ditempat tujuan yang mengajarkan ilmu-ilmu seni bela diri.


Mereka berjalan mendekati pos penjaga gerbang gapura tempat pesanggrahan untuk belajar ilmu seni bela diri tersebut. salah satu dari dua penjaga yang berada di dalam pos itu keluar dan menghadap Doni dan Wawan.


"maaf ada perlu apa ya pak???" tanya seorang lelaki berumur tiga puluh lima tahun.


"kami datang kemari ingin mendaftarkan ketiga anak kami ini untuk ikut less belajar ilmu seni bela diri disini mas."


"oh begitu. mari pak, ikut saya." lalu Doni dan Wawan berjalan mengikuti lelaki tadi masuk ke dalam tempat pesanggrahan tersebut. sedangkan Diana, Diani dan Febri mengikuti juga dari belakang dan masuk ke dalam halaman luas pesanggrahan itu.


Terlihat sekali ada banyak nya murid-murid yang sedang dilatih oleh para senior nya dan ada satu orang tua yang seperti nya adalah guru besar di sanggar seni bela diri tersebut. orang tua itu berpakaian serba putih model biksu, rambut nya botak plontos dan kumis serta janggut nya panjang seleher dan berwarna putih hampir sama warna dengan pakaian nya.


Orang tua itu sedang duduk tegak dan terlihat sangat berwibawa sekali di area teras pesanggrahan sembari memperhatikan para murid-murid nya yang sedang belajar gerakan-gerakan silat. Doni dan Wawan mengikuti lelaki penjaga gerbang tadi sampai ditempat orang tua tersebut duduk bersila. sedangkan ketiga bocah tadi masih berdiri mematung dijalan menuju pesanggrahan sambil menatap dengan pandangan memukau ke arah para murid-murid yang sedang belajar latihan gerakan silat tersebut. mereka bagai terkagum-kagum akan melihat gerakan-gerakan silat yang sedang diperagakan oleh para senior nya kepada para junior nya itu. beberapa ada yang sedang latihan tarung dan beberapa ada yang sedang melatih fisik mereka dengan olahraga peregangan fisik. diantara para murid itu, ada laki-laki dan perempuan. dari umur yang terbilang remaja umur sepuluh tahun sampai tiga puluh tahunan pun ada. mereka bertiga saking asyik nya melihat sesuatu yang jarang sekali mereka lihat itu seumur hidup nya.


Setelah petugas penjaga gerbang itu berbicara dengan guru pesanggrahan tersebut akan kedatangan tamu itu, ia kembali lagi ke tempat nya berjaga dan mempersilahkan Doni serta Wawan untuk langsung mengobrol dengan pemilik pesanggrahan tersebut. setelah Doni dan Wawan bersalaman dengan sopan dan ramah, kedua nya duduk bersila di depan orang tua tadi yang mulai berkata kepada Doni dan Wawan.


"apakah keperluan bapak-bapak ini akan mendaftarkan anak-anak nya ikut belajar seni bela diri disini?" tanya suara tua dari orang tua yang diperkirakan berumur tujuh puluh tahunan itu.


"iya kek. memang benar apa yang kakek katakan tadi." ujar Doni sopan dan kakek tua itu tersenyum manggut-manggut. lalu Wawan berkata kepada kakek tua itu.


"apakah kakek ini seorang guru besar dipesanggrahan ini???"


"iya memang saya guru besar di pesanggrahan ini, tetapi pemilik tempat ini bukan milik saya pribadi."

__ADS_1


"lantas siapa jika bukan kakek pemilik nya??" tanya Doni bertanya dan kakek itu menjawab nya.


"pemilik nya adalah bupati daerah ini."


"oh begitu." ujar Doni dan Wawan sambil kepala nya angguk-angguk mengerti.


Sejak tadi Diana, Diani dan Febri sedang merekam para murid-murid yang sedang latihan silat itu dengan ponsel mereka masing-masing. pada saat itu ketiga anak tersebut di panggil oleh orang tua nya dan ketiga anak tersebut segera berjalan mendekati teras pesanggrahan tersebut. setelah ketiga anak itu duduk di samping Doni dan Wawan, kakek tua itu tersenyum sembari mengusap-usap jenggot putih nya. mata sipit nya yang seperti orang chinese itu menatap gemas kepada ketiga bocah itu dan ia berkata.


"jadi ini anak yang akan ikut jadi murid di Padepokan Muay Thai Chi?"


"benar kek. mohon bimbingan nya." ujar Doni sopan dan Wawan pun berkata begitu juga.


Ketiga anak itu hanya menatap kakek tua itu dengan tatapan sedikit takut karena wajah nya yang terbilang cukup tegas dan berwibawa untuk seorang kakek berumur tujuh puluh tahunan. lalu kakek tua yang belum disebutkan nama nya itu bertanya kepada ketiga anak kecil itu.


Tanpa di pikir lama-lama, Febri segera berkata memberanikan diri karena ia takut terhadap ayah nya yang melihat nya dengan tatapan tajam.


"kami ingin bisa membela diri dari teman sekelas kami yang nakal kek. mereka sering usil dan jahil setiap kami sedang berada di dalam kelas." lalu kakek tua itu manggut-manggut paham dan tangan nya masih mengelus-elus jenggot panjang nya itu. lalu terdengar Diana berkata menambahkan ucapan Febri.


"bisakah kakek mengajari kami cara untuk bisa membela diri kami pribadi?"


"mudah saja." ujar kakek itu dan lanjut nya lagi,


"jika kalian mau cepat bisa seperti para murid padepokan ini yang sedang latihan itu, kunci utama nya adalah kerja keras dalam berusaha mendalami pelajaran yang diajarkan guru kalian jika nanti kalian sudah mulai bergabung dan latihan ditempat ini."

__ADS_1


"kami siap kek!" ujar Diana dan Febri dengan tegas dan Diani yang sejak tadi menyembunyikan wajah nya dipunggung kakak nya, segera berkata.


"dede tak ikutan lho ya!? dede cuman ingin melihat kakak dan kak febri latihan saja kek." ucapan Diani yang tergolong manja itu hanya dibalas senyuman gemas oleh kakek tua itu.


Doni sebagai ayah nya Diani dan Diana pun langsung berkata kepada Diani dan setelah itu berkata kepada kakek tua itu.


"baiklah kalau dede cuman ingin mengantar kakak mu dan kak Febri saja."


"lalu apa saja syarat pendaftaran nya kek?"


"tunggu sebentar ya. kakek memanggil ketua panitia murid nya dulu." setelah berkata begitu, kakek tua itu memanggil seorang wanita muda berperawakan tinggi dan berseragam putih seperti pakaian silat. wajah nya sangat cantik dan berkulit putih bersih. rambut nya yang panjang sepundak itu di kuncir menjuntai seperti ekor kuda betina.


Wawan dan Doni tersipu malu ketika bertatapan mata dengan wanita muda yang diperkirakan berumur dua puluh tujuh tahun itu. wanita itu sudah datang menghampiri mereka dan bertanya kepada kakek tua itu.


"iya kakek guru ada apa?" tanya wanita muda itu kepada lelaki tua yang ia panggil 'Kakek Guru' itu.


"kita kedatangan tamu Rosa. kamu siapkan pendaftaran untuk calon murid baru dipesanggrahan kita ini."


"baik kek." ujar wanita muda yang dipanggil Rosa tadi dengan patuh. wanita muda itu lalu naik ke teras pesanggrahan dan masuk ke dalam pesanggrahan yang besar dan luas yang dibangun dari kayu-kayu jati yang diukir itu untuk mengambil formulir pendaftaran.


Sejak tadi Doni dan Wawan menatap kepergian wanita muda tadi dan kakek tua itu tahu bahwa kedua bapak-bapak itu memperhatikan cucu nya dengan terkagum-kagum. tanpa diminta untuk menjelaskan, kakek tua itu berkata.


"nama nya Rosa Liandi Wanda. ia adalah cucu kakek yang mau mengikuti jejak kakek." ujar sang kakek mulai bercerita dan wajah nya menatap dua bapak-bapak yang berwajah tampan dan dewasa itu. Wawan dan Doni saling tatap dan ketiga bocah tadi yang memperhatikan ayah mereka menatap wanita muda tadi pergi, segera memandang kakek tua itu karena mereka mulai tertarik akan ucapan kakek tersebut.

__ADS_1


__ADS_2