
PAK Satpam yang bernama pak Imron itu, didekati oleh Doni dan pak ali. suasana diluar sangat gaduh sekali oleh jeritan para murid-murid. hal tersebut membuat pak Ali langsung bertanya kepada pak Imron.
"di luar ada Keributan apa pak!? mengapa wajah pak Imron babak belur begitu???" pak Imron menghela napas sejenak dan kemudian menjawab nya.
"diluar ada segerombolan preman yang memakai penutup kepala kain hitam. jumlah nya ada lima dan mereka mengamuk ketika saya tak membolehkan mereka masuk. lalu mereka mendobrak gerbang sekolah dan sebagian orang itu menghajar saya. sisa nya berlari ke arah kelas untuk..., entah saya tak tahu. seperti nya ada anak yang akan di culik oleh mereka."
"apa?!! serius pak!?" sentak Doni kaget mendengar cerita tersebut. tanpa menunggu pak Imron menjelaskan awal terjadi nya keributan tersebut, Doni langsung berlari ke arah kelas Diana yang berada agak jauh dari kantor tersebut. pak Ali pun ikut berlari ke arah kelas-kelas yang para murid nya banyak yang keluar dari dalam kelas nya masing-masing.
Tiba di kelas nya Diana, ibu Sari terlihat terkulai lemas dan para murid lain nya sedang mengerumuni ibu Sari yang terkulai lemas itu. para murid itu memang sedang menolong ibu Sari untuk di bangunkan agar duduk di kursi. mata Doni menatap tegang ke setiap area ruangan kelas empat itu. ia sedang mencari kemana anak nya berada dan diantara para murid lain nya, tak ada seraut wajah Diana diantara mereka. lalu Doni segera membubarkan para murid yang sedang mengerumuni ibu Sari itu. Doni berjongkok dan bertanya kepada ibu Sari yang bertopang kepada kursi yang jatuh tergeletak juga. ibu Sari menangis terisak-isak dan di pipi nya terlihat memar membiru.
"ibu Sari kenapa!? Diana kemana bu!!?" tanya Doni menyentak karena ia sudah khawatir akan keselamatan anak nya. ibu Sari menatap Doni dengan raut wajah meringis menahan tangis sembari dan mulut nya masih membungkam dengan erat. pada saat itu Febri segera mendekati Doni dan berkata keras.
"om Doni! Diana di culik oleh orang-orang yang kepala nya memakai kain hitam! mereka sudah pergi sebelum om Doni tiba!" Doni menoleh ke arah Febri yang berkerumun bersama para murid lain nya.
Doni lalu bangun dari jongkok nya dan berkata kepada Febri dengan raut wajah menahan murka tertahan.
__ADS_1
"kau jangan kemana-mana Febri! om akan menyusul Diana dulu!" setelah berkata geram begitu, Doni segera berlari keluar kelas menuju mobil nya terparkir. pak kepala sekolah sudah tiba dikelas itu beserta para guru lain nya. mereka segera menolog ibu Sari yang masih menangis trauma, karena ia terkena tamparan keras dari salah satu perampok tadi. ibu Sari awal nya mencegah para perampok yang berjumlah tiga orang itu untuk menculik Diana yang sedang duduk dikursi meja belajar nya, tetapi ia terkena tamparan keras dari salah satu perampok tersebut sampai ia terpelanting jatuh di kursi meja tempat mengajar nya.
Tiba di luar gerbang, Doni segera mendekati pedagang kaki lima dan bertanya kepada pedagang itu.
"pak tadi lihat ada sekelompok orang memakai kain hitam dikepala mereka tidak???"
"saya lihat pak. mereka pergi membawa seorang anak perempuan ke arah sana." ujar bapak-bapak pedagang itu sembari menunjukan jari nya ke kiri jalan. Doni juga bertanya tentang merek mobil apa yang dikendarai mereka itu dan pedagang tersebut menyebutkan nama mereka mobil tersebut 'Mobil Jeep'.
Setelah Doni tahu sedikit info dari pedagang tadi, Doni langsung naik ke mobil nya dan menancap gas mobil nya dengan kencang dan cepat. ia sudah tak memikirkan bahaya nya jika ia berkendara dengan kecepatan tinggi dijalanan umum. hal itu Doni lakukan agar ia cepat menyusul mobil yang menculik anak nya itu agar tak sampai kehilangan jejak.
Lalu lelaki tadi menelepon seseorang dan mulai berbincang-bincang.
"halo ibu Dewi..?" lanjut nya lagi,
"tugas yang ibu Dewi berikan kepada kami, sudah kami laksanakan. kami sudah menculik anak perempuan yang ada di poto. tetapi hanya ada satu anak saja dan yang satu nya kami tak menemukan nya dikelas. kami bertanya kepada para anak-anak lain nya, kata mereka adik anak yang berhasil kami culik ini sedang sakit dan tak masuk sekolah."
__ADS_1
"oh tak apa! satu saja cukup!" ujar suara perempuan tua terdengar sedikit keras, lalu suara perempuan tua itu terdengar lagi.
"bawa anak itu ke basecamp nya pak Yohanes! saya dan suami saya beserta ketiga anak kami sedang berada disini."
"baik ibu Dewi! kami akan kesana." lalu percakapan itu selesai dan ketua perampok tadi menyuruh anak buah nya yang menyupir itu untuk pergi ke tempat yang dituju mereka.
Mobil Doni kehilangan jejak. sampai sejauh mobil Doni mencari kemana pun arah mobil yang membawa anak nya itu, ia tak menemukan mobil jeep yang sudah diberitahukan oleh pedagang kaki lima tadi. rasa sesal bercampur amarah membuat Doni memberhentikan mobil nya disisi jalananan. ia memukul-mukul setir mobil untuk melampiaskan kekecewaan nya itu. mata Doni terlihat merah dan sembab oleh air mata. pikiran nya buntu dan serba bingung untuk mencari mobil yang menculik anak nya itu pergi ke arah mana. keputus asaan mulai terpatri dihati Doni dan Doni segera tersadar bahwa keputus asaan bukanlah cara yang tepat untuk menyelesaikan masalah. ia segera menghubungi pak Yaris yang sedang bekerja dikantor CV. Group Perkasa.
"halo pak!"
"iya halo. kamu dimana nak??? kamu dan istri mu tak ada masuk ke kantor. apakah ada sesuatu yang terjadi kepada kalian??" pertanyaan pak Yaris tadi langsung dibalas oleh Doni.
"gawat pak! Diana diculik orang tak dikenal!"
"apa!!?" pak Yaris tersentak kaget dikursi meja kerja nya.
__ADS_1
Doni yang sedang menghubungi pak Yaris lewat panggilan telepon itu pun menjelaskan nya dari awal Dona yang menemani Diani yang sedang sakit, sampai Doni mengantar Diana pergi ke sekolah. Doni pun menceritakan awal Diana diculik bagaimana dan semua yang terjadi di hari itu kepada nya, Doni ceritakan semua nya kepada pak Yaris sampai Doni menghubungi pak Yaris saat itu juga.