
OBROLAN Doni dengan pak Yaris tadi, tak menemukan titik terang untuk mencari keberadaan mobil yang membawa Diana pergi. pak Yaris berkata kepada Doni untuk menghubungi pak Broto dahulu akan kejadian tersebut dan Doni disuruh kembali lagi ke sekolah anak nya itu untuk mencari bukti tentang plat nomor mobil yang menculik Diana.
Kini Doni sudah kembali lagi ke depan sekolahan yang saat ini sedang ramai dikunjungi para orang tua murid karena mereka terkejut akan kejadian Penculikan disekolah tersebut yang berita nya cepat menyebar disosial media. Doni masuk lagi ke dalan sekolahan itu, ia ingin menanyakan tentang CCTV yang ada di depan gerbang sekolahan itu kepada kepala sekolah nya. Doni sudah sampai di depan ruangan guru yang saat itu sedang ramai di masuki para guru lain nya. mereka sedang mendengar ucapan dari kesaksian ibu Sari ketika Diana diculik secara terang-terangan oleh beberapa perampok itu.
Kehadiran Doni didepan pintu yang terbuka lebar itu, membuat pak Ali sebagai kepala sekolah itu segera menyuruh Doni untuk masuk sembari bertanya.
"apakah pak Doni tak menemukan jejak Diana???" Doni geleng-geleng kepala dan wajah nya tampak lesu dan sedih. ia lalu duduk di kursi kosong dekat pak satpam yang kala itu juga ikut menceritakan kejadian tak diduga yang menimpa diri nya dan ibu Sari.
Setelah Doni duduk di kursi itu, semua mata memandang kasihan kepada Doni. lalu Doni mulai beranikan bicara bertanya kepada pak Ali.
"apakah CCTV didepan gerbang sekolah ini berpungsi pak Ali???"
"berpungsi pak!" ujar pak Imron tiba-tiba dan Doni kini menatap pak Imron seraya bertanya.
"apakah bapak bisa mengulang rekaman CCTV itu? saya butuh informasi terkait plat nomor mobil yang dibawa penculik itu."
"bisa pak! mari ikut saya ke pos securiti." lalu Doni di ajak oleh pak Imron setelah kedua nya izin untuk pergi dahulu kepada pak Ali beserta para guru lain nya.
__ADS_1
Di dalam kelas empat, Febri semakin khawatir akan kejadian yang menimpa Diana. ia melihat Diana sempat melawan kedua perampok berbadan besar itu dan Febri hanya bisa diam terduduk bersama para murid lain nya. ibu Sari yang ikut mencegah kejadian tersebut pun terkena imbas nya juga dan akhir nya Diana ditangkap setelah salah satu dari perampok itu menutup wajah Diana dengan kain tisue yang seperti nya sudah diberi obat bius.
Di ruangan pos satpam, Doni sedang melihat layar monitor CCTV dengan tatapan jeli dan tajam. ia melihat mobil itu memang mobil jeep berwarna hitam dan ia pun melihat kelima perampok itu masuk ke dalam mobil dan salah satu nya ada yang memanggul tubuh Diana yang sudah pingsan tak berdaya itu. lalu Doni menyuruh pak Imron untuk menghentikan laju rekamam CCTV itu. Doni sudah melihat plat nomor mobil itu dan memotret nya memakai ponsel genggam nya. setelah bukti di dapat, Doni pamit kepada pak Imron untuk pergi lagi ke menuju suatu tempat yang ia curigai saat itu.
Tempat itu adalah rumah nya dulu yang ada di kampung mangga besar. Doni sudah memiliki firasat bahwa kejadian penculikan Diana itu berasal dari ibu Dewi dan suami nya pak Tomi. genggaman tangan disetir mobil Doni, semakin erat dan urat-urat ditangan nya terlihat kencang menonjol, karena diri nya sudah marah besar jika itu memang benar-benar ulah orang tua nya. Doni tak akan tega untuk membuat perhitungan kepada kedua orang tua nya itu.
Mobil Doni sampai di depan rumah bercat hijau luntur. keadaan rumah sangat sepi sekali dan terpampang sebidang papan triplek yang berdiri terpatri dihalaman rumah itu. Doni turun dari dalam mobil nya dan membaca isi tulisan papan yang tertera itu dalam hati nya.
"rumah ini sudah dijual? sejak kapan dijual?" lalu Doni beranjak ingin memasuki pintu rumah itu dan ternyata pintu itu tak di kunci sama sekai.
Ia masuk sembari berseru memaki-maki nama-nama yang ia benci selama ini.
Semua ruangan Doni masuki dan susuri, tak ada satu pun penghuni dirumah itu yang Doni temui. semua barang-barang semacam pakaian dan alat-alat elektronik tak ada yang tertinggal satu pun di rumah itu. Doni sudah bisa memastikan bahwa penculikan Diana itu berasal dari ibu nya. Doni yang ada dikamar bekas nya dulu itu langsung menendang lemari kayu yang lapuk tersebut, ia melakulan hal itu hanya untuk melampiaskan kekesalan dan kekecewaan nya saja.
Doni kini sudah keluar dari rumah itu dan ia akan bertanya kepada tetangga rumah itu yang sudah pasti tahu ibu nya beserta keluarga nya itu pergi kemana. waktu siang hari semakin panas dengan terik matahari yang sangat menyengat kulit. disebuah ruangan lebar, terlihat Diana terduduk di kursi kayu dan anggota tubuh nya terikat semua. diruangan itu, ada beberapa orang yang sedang berbincang-bincang dikursi sofa yang lebar. Diana sudah mulai siuman dan mulut nya disumbat oleh kain dan ia tak bisa bicara ataupun berteriak. mengerang pun ia tak bisa karena keadaan nya masih lemah akibat efek dari obat bius.
Seorang nenek-nenek yang masih terlihat segar bugar itu berjalan mendekati Diana yang terduduk lesu menatap area ruangan luas itu. mata Diana menyipit melihat nenek tua itu berhenti di depan nya dan terdengar nenek-nenek itu bertanya kepada Diana.
__ADS_1
"siapa nama mu nak?" lalu sumbatan kain di mulut Diana dilepas dan Diana masih diam tak berteriak atau membalas pertanyaan nenek yang tak dikenali nya itu. pada saat itu datang menghampiri seorang kakek tua mendekati Diana. kakek tua dan nenek tua itu ternyata ibu Dewi dan pak Tomi. ternyata Diana disekap disebuah gudang yang tak diketahui tempat nya dimana oleh para perampok yang menculik nya. kelima perampok itu sudah di beri upah oleh ibu Dewi atas pekerjaan mereka yang sudah berhasil menculik Diana. perampok itu sudah pergi karena mereka hanya preman bayaran saja.
Lalu Diana ditanya lagi oleh ibu Dewi tentang siapa nama nya, tetapi Diana yang pikiran nya sudah pulih itu malah balik bertanya.
"sebelum nenek dan kakek bertanya tentang nama ku, sebutkan dulu nama kalian berdua." ucap Diana tak takut sama sekali akan tatapan tajam dan sungkan dari kedua orang tua itu. Tomi bergumam pendek dan berkata,
"nama kakek adalah Tomi dan ini istri kakek, nama nya Dewi." pada saat mendengar nama itu, Diana melotot dan kepala nya tersentak ke belakang. ia baru sadar bahwa nama 'Dewi' adalah nama ibu ayah nya Diana yang kejam dan jahat. seketika itu juga ibu Dewi langsung bertanya kepada Diana sembari mengusap-usap pipi Diana yang tembem itu.
"apakah kau anak nya si Doni itu nak?"
"kalau iya memang kenapa hah!?" jawab Diana tak takut dan pak Tomi yang gemas terhadap Diana itu segera mencubit pipi nya dan berkata.
"sopan sedikit kau bicara kepada kakek dan nenek mu!"
"auhh!" Diana meringis dan ibu Dewi bertanya lagi akan nama Diana dan Diana tetap membungkam mulut nya tak mau memberi tahukan nama asli nya siapa kepada kedua orang tua yang jahat itu.
...*...
__ADS_1
...* *...