
DONI Sudah selesai makan siang bersama Dona dan ibu Asih. seperti biasa setelah makan siang Doni langsung shalat dzuhur berjamaah bersama Dona, dan habis itu mereka menonton televisi bersama di ruangan tengah rumah itu. sedangkan ibu Asih, ia sedang bersama kedua cucu nya yang sejak tadi berada di ruangan tamu.
"kalian mengapa belum makan siang?"
"belum lapar nek." jawab Diana sembari memainkan ponsel nya bersama Diani.
"nenek kan dulu sudah bilang, jangan suka menunda makan siang. nanti kalian sakit perut lho..." ujar Ibu Asih lagi. Diani lalu menatap nenek nya dan berkata.
"dede mau makan asal di suapi sama nenek."
"kakak juga mau makan kalau disuapi sama nenek juga." ujar Diana menimpali dan ibu Asih tersenyum seraya berkata.
"baiklah kalau kalian berdua mau makan dan di suapi sama nenek." lalu ibu Asih bangun dari duduk nya dan berjalan menuju ruangan meja makan.
Kedua anak gadis itu sejak tadi sedang memainkan ponsel nya karena mereka berulang-ulang kali menayangkan Video Rekaman ketika mereka berada ditempat pesanggrahan seni bela diri. kedua nya terkagum-kagum akan suasana dipadepokan itu. mereka berdua sangat terpukau melihat murid-murid yang sedang latihan gerakan silat itu. rasa takjub mereka berdua itu, mulai mereka obrolkan.
"kayak nya susah kalau kita yang melakukan gerakan seperti itu kak." ucap Diani.
"awal-awal pasti susah de. tapi kalau lama kelamaan, kita pasti bisa kok." ujar Diana dan adik nya berkata lagi.
"bukankah orang itu wanita muda cucu nya kakek tua itu kak???" tanya Diani sembari tangan nya menunjuk layar ponsel yang dipegang Diana.
Diana lalu mempertajam pengelihatan nya dan ia membenarkan juga bahwa perempuan muda yang cantik bernama Rosa itu sedang melatih para murid-murid perguruan nya. gerakan nya sangat lincah dan gesit membuat Diana dan Diani terkagum-kagum melihat nya.
"padahal mbak-mbak itu perempuan seperti kita kak. tetapi kalau melihat diri nya melakukan gerakan bela diri seperti itu, lebih dari seorang laki-laki." ucap Diani dan Diana langsung berkata.
"sudah kakak putuskan de, kakak akan mendalami bela diri ini sampai menguasai nya."
"dede selalu dukung kakak kok." ucap Diani tersenyum dan Diana lalu merangkul pundak adik nya itu.
__ADS_1
Pada saat itu datang ibu Asih membawa sepiring nasi beserta lauk nya dan ia akan menyuapi dua cucu manja nya itu. di samping itu didalam rumah nya Wawan dan Avril, pemilik rumah itu sedang makan siang bersama sembari berbincang-bincang.
"tadi Febri lihat anak-anak yang seumuran juga sama Febri ma. mereka sangat lihai sekali dalam melakukan gerakan bela diri dipadepokan itu."
"nanti juga kamu bisa seperti itu nak, kalau kamu belajar dan mengikuti apa kata guru mu nanti nya." ucap ibu nya yaitu Avril.
"ia mama. tadi juga Febri dan dua DD merekam nya diponsel kami masing-masing. mama ingin lihat tidak?" ucap Febri lagi dan membuat ayah nya yaitu Wawan berhenti makan dan berkata.
"sudah makan dulu nak. nanti saja kalau sudah habis makan."
"iya deh pa." ucap Febri menurut dan ia lanjut makan lagi. Avril hanya tersenyum saja kepada suami dan anak nya itu. lalu ia pun lanjut makan lagi bersama kedua penyemangat hidup nya itu.
Doni sedang menonton televisi bersama Dona dan mereka duduk merapat. seperti biasa, selain menonton televisi mereka pun sesekali mengobrol juga.
"tadi berapa biaya pendaftaran nya pa?" tanya Dona dan Doni menjawab nya.
"biaya pendaftaran sekitar satu juta lima ratus ribu."
"ya sama saja segitu. karena anak kita hanya ikut belajar nya sabtu dan minggu, maka biaya tak terlalu mahal. jika yang mendaftar itu untuk ikut tinggal dipadepokan itu, sudah pasti biaya nya semakin mahal."
"oh begitu. jadi ada asrama untuk tinggal para murid nya juga ya pa?."
"iya ma. tempat nya juga luas dan sangat lebar sekali. kata guru besar ditempat itu, kata nya pesanggrahan itu milik bupati daerah itu."
"memang nya tempat itu berada di daerah mana pa???" tanya Dona semakin penasaran.
"tempat nya masih berada di jakarta, cuman pemilik nya dari banten."
"oh begitu pa." ujar Dona manggut-manggut paham.
__ADS_1
"anak-anak sudah makan siang belum ma?" tanya Doni kepada istri nya itu.
"entah pa. coba mama liat dulu." lalu Dona beranjak dari duduk nya menuju ruangan tamu rumah besar itu.
Di sana masih ada ibu Asih dan kedua cucu nya yang sedang disuapi makan oleh ibu Asih sendiri. kedua anak itu disuapi sembari mata nya melihat rekaman video dipadepokan seni bela diri itu di layar diponsel nya masing-masing. Dona sudah tiba di ruangan tamu dan tangan kiri nya bertolak pinggang seraya berkata.
"ya ampuuun! mengapa kalian makan masih disuapi sama nenek sih?!" ucap Dona memarahi kedua anak nya dan kedua anak nya itu terperanjat kaget akan omelan ibu nya itu. ibu Asih menatap Dona seraya berkata.
"tak apa-apa Dona, yang penting kedua cucu ibu ini mau makan."
"tapi kan bu, mereka sudah besar dan seharus nya sudah mandiri." ujar Dona lagi seraya berjalan mendekati kedua anak nya.
Diani lalu menatap ibu nya seraya berkata.
"ah mama begitu saja ngomel-ngomel!" lalu Diana berkata kepada ibu nya itu.
"maaf ma..., kakak dan dede sedang melihat video ini dulu, jadi tak sempat makan sendiri."
"betul apa kata kakak ma!" jawab Diani lagi tegas dan Dona hanya geleng-geleng kepala seja ketika kedua anak nya itu disuapi lagi oleh nenek nya.
"coba mama lihat. kalian sedang menonton apa sih???" ucap nya penasaran.
"ini ma.., tadi pas waktu pergi ke tempat less seni bela diri, kami merekam nya diponsel kami ini." ujar Diana dan Diani memberikan ponsel nya kepada ibu nya seraya berkata.
"nih mama lihat di ponsel dede saja. biar dede lihat video nya di ponsel kakak saja." setelah Diani berkata begitu, Dona menerima ponsel Diani itu dan ingin melihat rekaman apa yang anak nya kagumi itu sejak tadi.
Ibu Asih hanya tersenyum saja kepada kedua cucu nya yang sangat berambisi terhadap ilmu seni bela diri itu. dalam hati nya, ibu Asih membatin.
"mereka berdua mirip sekali dengan Doni dan Dona ketika waktu kecil. watak Doni ketika kecil yang terobsesi dengan pahlawan dan seni bela diri itu, kini telah mengalir dalam diri Diana. meskipun ia bukan anak kandung nya, tetapi ajaran kebaikan dan kasih sayang nya Doni kepada anak itu. mampu membuat watak anak itu mengikuti diri Doni ketika ia masih kecil dulu." lalu batin ibu Asih melanjutkan kecamuk batin nya lagi.
__ADS_1
"sedangkan Diani, ia mirip seperti Dona ketika masih kecil. sikap dan perilaku nya mirip seperti Dona yang dulu nya manja dan agak cengeng. tetapi sikap itu adalah sikap yang wajar bagi seorang perempuan dan lagi pula, Diani adalah anak dari darah daging nya sendiri." kecamuk batin ibu Asih berhenti disitu karena ia dikagetkan oleh Diani, cucu nya yang merengek ingin minum itu. ibu Asih menggeragap sebentar dan langsung memberikan segelas air minum yang ada dimeja ruangan tamu itu kepada Diani untuk diminum nya.