Diana (Gadis Yang Ternoda)

Diana (Gadis Yang Ternoda)
Episode 10.


__ADS_3

Siska tengah menyuapi Dafa makan siang sambil menonton acara kartun kesukaan bocah itu.


"Kamu harus makan yang banyak, biar cepat besar." Siska menyodorkan sesendok nasi bersama lauknya.


Dafa membuka mulut dengan lebar lalu memakannya dengan lahap, dia memang tidak pernah pilih-pilih makanan, apa saja selalu dia makan dengan senang hati.


Tok ... tok ... tok.


Siska menoleh saat mendengar suara pintu diketuk dari luar.


"Siapa, ya?" Siska meletakkan piring yang dia pegang di atas meja lalu beranjak dari duduknya.


"Oma mau ke mana?"


"Sepertinya ada tamu, Oma mau lihat dulu. Kamu tunggu di sini!" Siska melangkah meninggalkan Dafa.


Wanita paruh baya itu membuat pintu dan terkejut melihat Revan yang tersenyum sambil membawa sebuah kotak yang cukup besar. Rupanya setelah dari laundry tempat Diana bekerja, Revan memutuskan ke toko mainan dan membeli sebuah mobil remote control keluaran terbaru untuk Dafa.


"Nak Revan? Silakan masuk!" pinta Siska.


"Iya, Tante." Revan melangkah masuk sambil celingukan mencari sosok Dafa.


"Tapi Sofia nya belum pulang," ujar Siska yang mengira pria itu ingin menemui putrinya.


"Iya, aku tahu Tante. Aku ke sini bukan mau bertemu Sofia, tapi Dafa. Dia ada kan, Tante?"


Siska tercengang dan mendadak gugup, dia teringat jika Diana tidak suka Revan mendekati Dafa.


"Ada, tapi ...."


Belum sempat Siska selesai bicara, tiba-tiba Dafa berlari dan memeluk kakinya, "Oma kenapa lama, sih?"


Siska seketika merasa kikuk dan tegang.


Revan menatap Dafa dan tersenyum menyapa bocah itu, "Eh, ini dia! Hai, Dafa. Masih ingat sama Om?"


Dafa hanya mengangguk, namun dia tetap mematung di samping Siska dan menatap Revan dengan tajam, dia ingat kata-kata sang bunda jika Revan jahat dan melarangnya dekat-dekat dengan pria itu.


Tak ingin menyerah, Revan pun berjongkok dan menyodorkan kotak besar yang dia bawa, "Nih, Om bawakan mainan buat kamu!"


Dafa mengamati kardus besar bergambar mobil remote itu, tapi dia tetap tak bergerak dari tempatnya berdiri.


Merasa tak enak hati, Siska pun buka suara, "Nak Revan enggak usah repot-repot bawakan mainan segala untuk Dafa."

__ADS_1


Revan tersenyum, "Enggak repot, kok, Tante."


Siska lantas membungkuk lalu berbisik di telinga Dafa, "Sayang, kamu kok diam saja? Itu Om Revan kasih kamu hadiah, loh."


"Kata Bunda, Om itu orang jahat. Aku enggak boleh dekat-dekat dengan dia," ujar Dafa polos meniru kata-kata sang bunda.


Wajah Revan sontak berubah masam, dia dapat mendengar apa yang Dafa katakan. Seketika dia kesal karena ternyata Diana sudah memprovokasi Dafa agar berpikiran buruk tentangnya.


"Eh, enggak boleh bicara seperti itu! Om Revan bukan orang jahat, kok!" tegur Siska yang takut Revan tersinggung.


"Tapi Om itu buat bunda nangis, Oma!" sungut Dafa, balita itu memang sangat cerdas dan lancar dalam berbicara.


Siska terdiam, dia melirik Revan yang memandangi Dafa dengan penuh arti.


"Maaf, ya, Nak Revan. Maklum anak-anak kalau bicara suka asal!" ucap Siska sungkan.


"Enggak apa-apa, Tante. Kalau begitu aku permisi aja." Revan beranjak.


"Loh, nak Revan enggak duduk dan minum dulu?"


"Lain kali aja, Tante. Ini aku titip buat Dafa!" Revan menyodorkan kardus berisi mainan yang dia bawa.


Siska menerima kardus itu dengan sungkan, "Iya, terima kasih, ya. Sekali lagi Tante minta maaf atas ucapan Dafa tadi."


"Iya, Tante. Aku permisi, selamat siang!"


Revan memandangi Dafa sejenak, kemudian bergegas meninggalkan kediaman Siska dengan perasaan kesal bercampur sedih. Dia bersumpah akan melabrak Diana karena sudah mencuci otak Dafa sehingga bocah itu menganggap dirinya orang jahat.


***


Diana sudah selesai bekerja dan bermaksud hendak pulang, namun baru saja beberapa langkah dia meninggalkan laundry tempatnya mencari nafkah, seseorang yang paling dia benci muncul di dan menghadangnya.


Diana terkejut setengah mati, "Mau apa lagi kau?"


"Kenapa kau mencuci otak Dafa?"


Diana mengernyit, "Apa maksudmu?"


"Tadi aku menemui dia, tapi dia enggak mau mendekati aku sama sekali, dan dia bahkan mengatakan bahwa aku ini orang jahat. Aku tahu itu karena hasutan darimu!"


Diana terkesiap, "Jadi tadi kau menemui anakku?"


"Di bukan cuma anakmu, tapi dia juga anakku! Jadi jangan memprovokasi dia untuk membenci ayahnya sendiri!" bentak Revan marah, dia kesal minta ampun karena Diana menghasut Dafa.

__ADS_1


"Sudah ku bilang Dafa itu bukan anakmu! Kenapa kau masih enggak percaya?" sanggah Diana yang masih bersikeras menutupi jati diri sang putra.


"Kau masih saja ingin menutupinya dariku?"


"Aku enggak menutupi apa pun darimu! Aku mengatakan yang sebenarnya! Aku memang hamil setelah kejadian malam itu, tapi aku sudah menggugurkannya. Jadi Dafa bukan anakmu!" Diana lagi-lagi berbohong.


"Bohong! Sofia sudah cerita semuanya dan dia enggak mengatakan jika kau pernah menggugurkan kandungan mu."


"Sofia enggak tahu apa-apa! Dia berada di luar negeri dan baru kembali setelah Dafa lahir," kilah Diana.


"Lalu bagaimana Dafa bisa sangat mirip denganku sewaktu kecil?"


Diana terdiam sembari menelan ludah, dia bingung harus menjawab apa.


"Kau enggak bisa jawab, kan? Itu karena dia memang anakku!" sambung Revan.


"Bukan, itu hanya kebetulan saja! Mungkin karena aku sangat membencimu, jadi anakku mirip denganmu." Diana akhirnya menjawab asal.


"Omong kosong! Aku tetap enggak percaya apa yang kau katakan!"


"Terserah kau mau percaya atau enggak."


Diana hendak pergi dari hadapan Revan, tapi dengan cepat pria itu menarik lengannya.


"Aku belum selesai bicara!"


"Enggak ada yang perlu kita bicarakan lagi! Lepaskan aku!" Diana berontak dan berusaha melepaskan cekalan tangan Revan.


"Aku akan tes DNA untuk membuktikannya!"


Wajah Diana sontak tegang dan panik mendengar itu, dia tak mungkin melakukan tes DNA karena hasilnya pasti positif jika Dafa darah daging Revan.


"Kenapa? Kau takut?" ledek Revan saat melihat wajah Diana.


"Aku enggak akan melakukan tes DNA, karena aku enggak perlu membuktikan apa-apa padamu! Dia anakku dan aku berhak menolaknya!"


Revan semakin kuat mencengkram lengan Diana dan mengeraskan rahangnya, "Jangan membuat kesabaran ku habis! Karena kau akan menyesal!"


"Aku enggak peduli! Kalau kau masih mengganggu ku dan anakku, aku akan lapor polisi!" kecam Diana.


Tepat di saat itu sebuah taksi yang membawa Sofia melintas di depan mereka, model seksi tersebut tercengang dan seketika naik darah melihat Revan memegang tangan Diana di tepi jalan. Dia ingin turun melabrak mereka, tapi itu bisa membuat nama baiknya rusak karena pasti ada yang mengenal dirinya.


"Kau pikir aku takut dengan ancaman mu itu? Kita lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan!" Revan melepaskan cekalan tangannya dan segera berlalu dari hadapan Diana.

__ADS_1


Selepas kepergian Revan, Diana pun menangis sesenggukan. Dia merasa takut dan cemas. Tapi dia akan tetap berusaha melawan Revan dan menyembunyikan jati diri Dafa.


***


__ADS_2