
Revan meremas kuat ponselnya setelah membaca sebuah artikel berita yang tengah viral tentang dirinya.
"SEORANG PRODUSER GANTENG MEMILIKI ANAK DARI SEORANG WANITA MALAM."
Bukan cuma beritanya yang membuat Revan berang, tapi artikel itu juga menampilkan foto dirinya, Diana dan juga Dafa. Revan yakin ini pasti ulah Sofia.
"Aku akan memberimu pelajaran, Sofia!"
Revan menyalakan mesin mobilnya dan segera tancap gas, namun telepon genggamnya kembali berdering dan kali ini ada panggilan masuk dari Lenny. Revan tahu pasti sang mama sudah melihat berita itu dan ingin memarahinya, dia pun mengabaikan telepon dari mamanya tersebut. Tapi rupanya Lenny tak menyerah, wanita itu terus-terusan menelepon Revan sehingga membuat Revan akhirnya menyerah dan menjawab panggilannya.
"Iya, aku tahu Mama pas ...."
"Ke rumah sakit Citra Medica sekarang juga! Papa kamu kolaps dan kritis!"
Revan tercengang mendengar kabar dari sang mama, "Iya-iya, Ma."
Revan yang kalut dan panik langsung putar arah menuju rumah sakit yang sang mama katakan.
Sementara di laundry, Raka bersimpuh di kaki Eliana, dia memohon maaf kepada sang mama atas apa yang sudah dia lakukan. Sedangkan dua pemuda tadi sudah pergi setelah Raka berhasil meminjam uang dari mamanya itu dan membayar hutangnya.
"Pantas saja kamu sering sekali pulang pagi, jadi ini yang kamu lakukan?" sergah Eliana.
"Ma, aku sungguh minta maaf. Aku khilaf, dan aku berjanji enggak akan mengulanginya lagi," ucap Raka memohon.
"Mama kecewa sama kamu! Mama pikir selama ini kamu itu anak yang baik, Mama selalu membanggakan kamu kepada semua orang. Tapi ternyata begini kelakuan kamu!" sungut Eliana marah.
Raka tertunduk menyesali semuanya, dia tak menyangka semua akan jadi runyam begini.
Diana sejak tadi hanya terpaku membisu di samping Eliana, dia tak ingin ikut campur meskipun saat ini hatinya juga kecewa dengan tabiat buruk Raka.
"Bunda, ada telepon," ujar Dafa dari lantai atas sembari memegang telepon genggam Diana yang berdering.
Diana dan semua orang menoleh ke arah bocah gemas ini.
"Iya, sayang." Diana bergegas berlari menaiki anak tangga dan menghampiri sang putra.
Diana mengambil ponselnya dan segera menjawab panggilan masuk yang ternyata dari Siska itu.
__ADS_1
"Halo, Tante."
"Di, kamu sudah lihat berita viral di sosial media hari ini?"
"Belum, Tante. Memangnya ada berita apa?" Diana bertanya balik sebab dia memang belum sempat mengecek sosial media hari ini.
"Kalau begitu Tante akan kirim linknya, biar kamu lihat sendiri."
"Iya, Tante," sahut Diana yang perasaannya mulai tak enak, dia berpikir jika ada berita tak mengenakkan tentang Sofia yang notabene seorang selebriti.
Setelah panggilan dari Siska terputus, sebuah pesan masuk dari wanita paruh baya itu dan Diana buru-buru membukanya.
Mata Diana langsung melotot dan wajahnya mendadak tegang ketika membaca judul dan isi berita itu. Apalagi di sana terpampang foto dirinya, Dafa dan juga Revan.
"Ya Tuhan, ini benar-benar keterlaluan!" ucap Diana sedikit syok.
Melihat wajah tegang Diana, Raka dan Eliana menjadi penasaran.
"Ada apa, Di?" tanya Eliana.
Diana menatap Eliana dengan mata berkaca-kaca, "Ada yang menyebarkan gosip enggak enak tentang aku."
Raka pun buru-buru bangkit dan memandangi Diana dengan penasaran.
"Katanya seorang produser ganteng memiliki anak dari seorang wanita malam, dan mereka menampilkan foto aku, Dafa dan ...." Diana mengjeda kata-katanya, lalu tertunduk sembari mengepalkan tangan.
"Dan Revan," lanjut Diana.
Baik Eliana maupun Raka terkejut mendengar penuturan Diana itu.
"Tapi siapa yang menyebarkan berita itu sialan itu?" cecar Raka sedikit emosi, dia seolah melupakan masalah yang tengah dia hadapi saat ini.
Diana menggeleng, "Aku enggak tahu, Mas."
"Apa enggak ada yang kamu curigai, Di?" tanya Eliana lagi.
"Enggak ada, Bu." Meskipun curiga pada Sofia, tapi Diana tak ingin terang-terangan menuduh sepupunya itu sebagai biang kerok.
__ADS_1
"Kalau begitu aku akan coba mencari tahu siapa orang yang telah menyebarkan berita itu, kebetulan aku ada kenalan seorang wartawan. Dia pasti bisa mencari informasi dari teman-temannya," ujar Raka yang berusaha mengalihkan situasi agar semua orang melupakan problemnya.
Diana hanya mengangguk dengan wajah sendu, dia malu dan sedih. Saat ini orang-orang yang melihat foto dirinya pasti akan menilai buruk atau bahkan menghujatnya, dan semua ini gara-gara Revan. Pria itulah yang paling bertanggung jawab atas apa yang terjadi dalam hidupnya, termasuk kejadian gosip menyakitkan ini.
***
Dengan langkah yang lebar Revan berjalan menghampiri Lenny yang sedang berdiri di depan kaca pembatas ruangan ICU sambil menangis tersedu-sedu memandangi sang suami yang terbaring koma.
"Mama," ucap Revan pelan.
Lenny menoleh dan berbalik menghadap putranya itu dengan tatapan tajam.
"Bagaimana keadaan papa, Ma?" tanya Revan cemas.
Plak.
Satu tamparan mendarat keras di pipi Revan, dia sontak terdiam menahan perih.
"Puas kamu sekarang? Puas kamu melihat Papa terbaring koma seperti ini?" bentak Lenny marah.
Revan terkesiap mendengar fakta jika sang ayah koma, dia tahu ini semua pasti gara-gara berita yang tengah viral itu.
"Kenapa kamu tega mencoreng nama baik keluarga dengan perbuatan menjijikan mu itu, Van? Kamu sadar enggak jika keluarga kita selalu disorot media, dan sekarang publik sedang menghujat kamu serta keluarga kita! Papa sampai syok dan terkena serangan jantung akibat ulah kamu itu!" ungkap Lenny berapi-api.
"Ma, berita itu enggak benar, Mama harus dengarkan dulu penjelasan aku." Revan memohon.
"Lalu bagaimana berita itu bisa ada, kalau memang enggak benar?"
"Makanya Mama dengarkan aku dulu!"
Lenny terdiam sembari mengusap air matanya yang jatuh menetes.
"Aku memang punya anak dari seorang wanita, tapi dia bukan wanita malam seperti yang diberitakan," terang Revan dengan kepala tertunduk.
Lenny termangu mendengar kalimat itu keluar langsung dari mulut sang putra.
"Ini semua salahku, Ma," sambung Revan penuh penyesalan.
__ADS_1
***