Diana (Gadis Yang Ternoda)

Diana (Gadis Yang Ternoda)
Episode 30.


__ADS_3

Dentuman musik begitu memekakkan telinga, suasana yang gelap tak menyurutkan semangat orang-orang yang sudah dipengaruhi alkohol untuk bergoyang. Di sini lah sekarang Revan berada, setelah meninggal tempat tinggal Diana, dia memutuskan ke sebuah klub malam yang merangkap menjadi kasino, agar bisa sedikit merilekskan pikirannya yang kacau.


Revan memandangi gelas berisi minuman keras yang baru dia minum sedikit, meskipun dia berada di kebisingan dan keramaian, tapi pikirannya terus saja tertuju kepada Diana dan Dafa. Di bingung bagaimana caranya untuk membuat Diana mau memaafkannya dan menerima permintaannya untuk menikah, dia benar-benar tak rela Diana menikah dengan orang lain dan Dafa menganggap orang lain sebagai ayah.


Tiba-tiba Revan teringat pada satu orang yang pasti disegani oleh Diana, yaitu Siska. Dia meletakkan gelasnya di atas meja lalu mengeluarkan ponselnya dan mencari nomor dari Siska yang tempo hari dia simpan, Revan ingin menghubungi wanita paruh baya itu tapi urung sebab tak mungkin menelepon selarut ini, apalagi sekarang dia sedang berada di klub malam yang berisik.


"Kalau begitu aku akan ke menghubunginya besok pagi," batin Revan yang kembali menyimpan telepon genggamnya ke dalam saku celana, dia sedang malas bertemu Sofia, makanya dia lebih memilih untuk bicara dengan Siska melalui sambungan telepon.


Revan kembali meraih gelasnya dan menenggak sisa minumannya hingga tandas, dia tak berniat untuk mabuk malam ini, dia hanya ingin menenangkan diri saja dan berharap rasa sedihnya bisa sedikit berkurang.


Satu jam kemudian, Revan memutuskan untuk pulang setelah rasa pening di kepalanya mulai bertambah. Dia berjalan dengan gontai keluar dari klub malam itu menuju parkiran.


Revan masuk ke dalam mobil, tapi sebuah pemandangan tak mengenakkan menarik perhatiannya. Seorang pria berlari keluar dari klub malam dan dikejar oleh dua orang pria memakai seragam bar. Revan mengernyit dan memicingkan mata mengamati pria yang dikejar-kejar itu, dia ingin memastikan jika tidak salah lihat.


"Itu kan Raka? Kenapa dia dikejar-kejar begitu?" Revan bertanya pada dirinya sendiri.


Raka berhasil masuk ke dalam mobilnya dan melesat pergi meninggalkan parkiran klub malam tersebut, sementara dua orang pria yang mengejarnya berteriak-teriak sambil menunjuk mobil pemuda hitam manis itu.


Revan mendadak penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi, dia memutuskan keluar lagi dari mobil dan bergegas menghampiri dua pria yang tadi mengejar Raka.


"Maaf, ada apa?" tanya Revan.


"Pria barusan punya hutang kepadaku, tapi enggak mau bayar, setiap kali ditagih bisanya cuma janji-janji aja," jawab salah seorang pria.


Revan mengernyit, "Hutang? Memangnya hutang buat apa?"


"Dia bermain judi, dan kalah. Lalu dia meminjam uang padaku, karena dia sudah sering datang ke sini dan kami saling kenal, jadi aku kasih aja. Tapi sampai sekarang enggak dibayar," adu pria itu.

__ADS_1


Revan terkejut, Raka yang terlihat baik dan polos itu ternyata hobi berjudi dan bahkan sampai menipu orang lain seperti ini.


"Memangnya apa alasan dia enggak mau bayar?" tanya Revan lagi.


"Katanya lagi ada masalah, jadi uangnya habis untuk bayar pengacara. Padahal hampir setiap hari dia datang dan masih bermain judi di sini."


Pengakuan dari pria berkacamata itu benar-benar membuat Revan tertegun, dia tak boleh diam saja dan membiarkan Diana menikah dengan pria seperti Raka. Diana harus tahu bagaimana tabiat calon suaminya itu.


"Kenapa kalian enggak tagih ke rumahnya aja?"


"Kami enggak tahu rumahnya, Bang. Kami kenal dia karena dia pelanggan bar ini."


Seketika sebuah ide brilian muncul di otak Revan, ini kesempatan untuk membongkar tabiat jelek Raka di depan Diana.


"Begini, kebetulan aku kenal dia tapi enggak dekat, dan aku tahu di mana kalian bisa menemukan dia," ujar Revan.


"Serius, Bang?"


Sementara itu, Diana masih terjaga, dia tak bisa tidur karena setiap kali memejamkan mata, bayangan Revan dan kejadian tadi selalu mengusiknya. Diana merasa tak enak hati, dia juga kasihan pada Sofia yang pasti saat ini sangat syok dan terluka.


"Ya Tuhan, kenapa semuanya semakin rumit dan kacau?" gumam Diana pelan.


Diana mengembuskan napas berat lalu berbalik memandang wajah Dafa yang sudah tertidur pulas, bocah lucu itu tak mengerti apa-apa, tapi dia harus menyaksikan setiap kejadian yang membuatnya ketakutan dan sedih.


"Maafkan Bunda, ya, sayang. Bunda janji akan selalu melindungi kamu," ucap Diana seraya mengelus kepala Dafa.


***

__ADS_1


Keesokan paginya, Diana bangun kesiangan sebab dia baru tertidur menjelang pagi. Dia buru-buru turun dan membuka pintu saat Eliana yang sudah datang, menelepon dirinya.


"Kamu kesiangan, Di?" tanya Eliana saat pintu sudah terbuka.


"Iya, Bu. Maaf, ya," ucap Diana tak enak hati.


"Kamu baik-baik aja, kan?" Eliana memastikan sebab melihat mata Diana bengkak.


Diana mengangguk, "Iya, aku baik-baik aja, kok."


"Kenapa mata kamu sembab? Kamu habis nangis?" cecar Eliana.


"Enggak, kok, Bu. Aku cuma kurang tidur semalam," kilah Diana, dia memang kurang tidur tapi dia juga menangis semalaman.


"Pasti kamu enggak bisa tidur karena mikirin aku, kan?" sela Raka yang tiba-tiba muncul.


Diana tersenyum kikuk, dia tak membantah atau pun mengiyakan ucapan Raka itu.


"Oh iya, Dafa mana?" tanya Raka sambil celingukan.


"Ada di atas, Mas."


"Aku ke atas, ya? Mau manggil Dafa," ucap Raka.


"Loh, Mas enggak ke toko?"


"Hari ini aku libur," jawab Raka lalu tersenyum, dia memang sengaja ambil cuti karena sedang merasa pusing dengan masalah yang dia hadapi.

__ADS_1


"Raka, keluar kau!" Tiba-tiba terdengar suara seorang pria berteriak meminta Raka keluar.


***


__ADS_2