Diana (Gadis Yang Ternoda)

Diana (Gadis Yang Ternoda)
Episode 45.


__ADS_3

Keesokan paginya Diana bangun dalam keadaan yang lebih baik, semalam dia tidur nyenyak karena pengaruh obat yang dia minum.


"Eh, sudah bangun rupanya." Siska muncul sambil membawa semangkuk bubur hangat, semalam wanita paruh baya itu sengaja menginap untuk menemani Diana.


Diana bangkit perlahan sebab tak ingin membangunkan Dafa yang masih tertidur pulas, "Tante bawa apa itu?"


"Tante bawakan bubur ayam spesial buat kamu, buruan makan mumpung masih hangat!" Siska meletakkan mangkuk bubur itu di atas meja.


"Tante kenapa repot-repot, sih? Aku jadi enggak enak!"


"Alah! Kamu ini seperti orang lain saja! Tante ini kan juga ibu kamu, sudah seharusnya merawat kamu."


"Aku mau ke kamar mandi dulu." Diana menjuntai kan kakinya ke lantai, dia hendak bangkit tapi tiba-tiba ponselnya berdering.


Diana buru-buru meraih benda pipih yang tergeletak di atas meja tak jauh darinya itu sebab takut bunyinya membangunkan Dafa, dia mengernyit bingung saat melihat deretan nomor asing di layar telepon genggamnya tersebut.


"Siapa yang menelepon, Di?" tanya Siska sebab melihat Diana terpaku menatap layar ponselnya.


"Enggak tahu, Tante. Aku enggak kenal nomornya," jawab Diana.


"Coba diangkat saja! Siapa tahu penting," usul Siska.


Diana mengangguk dan menjawab panggilan masuk dari nomor asing itu.


"Halo."


"Halo, selamat pagi, Tante."


Diana mengerutkan keningnya, suara pria diseberang sana terdengar familiar. Tapi kenapa dia memanggil Diana dengan sebutan Tante?


"Selamat pagi. Maaf, ini siapa?" tanya Diana penasaran.


"Ini aku, Revan. Bagaimana keadaan Diana, Tan?"


Diana tercengang dan langsung menutup teleponnya saat tahu siapa pria itu.


"Ada apa, Di?" Siska heran karena dia tiba-tiba menutup telepon dan wajahnya berubah tegang.


"Yang menelepon barusan itu Revan."


Siska terhenyak, dia sontak teringat tempo hari pernah memberikan nomor telepon Diana pada pria itu.


"Dari mana dia tahu nomor aku? Apa dari Sofia? Tapi kenapa dia memanggil aku Tante?" Diana coba menebak-nebak.


"Tante yang memberikan nomor kamu ke dia, tapi Tante bilang itu nomor Tante." Siska akhirnya mengaku.

__ADS_1


Diana spontan berbalik menatap Siska dengan tak percaya, "Kenapa Tante berikan nomor aku ke dia? Terus kenapa Tante harus berbohong?"


"Saat itu dia minta nomor kamu karena ingin menanyakan keadaan Dafa, Tante kasih nomor kamu tapi Tante bilang itu nomor Tante agar dia enggak menggangu mu."


Diana memijit pelipisnya yang berdenyut, "Aduh, Tante. Kenapa Tante lakukan itu? Kalau Tante enggak ingin dia mengganggu aku, kenapa Tante memberikan nomor aku ke dia?"


"Tante minta maaf, Di. Tante hanya berharap kalian bisa berkomunikasi tentang Dafa suatu saat nanti," dalih Siska, padahal dia berharap Revan dan Diana berdamai.


Tring.


Sebuah pesan masuk dari nomor Revan. Diana segera membuka pesan itu dan membacanya.


"KENAPA DIMATIKAN, TAN? AKU HANYA INGIN TAHU KEADAAN DIANA, APA DIA SUDAH BAIKKAN?"


Diana mengusap wajahnya dengan kasar, dia bingung harus melakukan apa. Dia juga membuka pesan yang Revan kirimkan kemarin siang dan mendapati beberapa panggilan tak terjawab dari nomor pria itu.


Pantas saja Revan bilang Siska tak menjawab teleponnya, ternyata dia menghubungi nomor Diana. Sementara ponsel Diana tertinggal di kamar dan baru pagi ini dia pegang lagi, kemungkinan besar Siska tak mendengar saat Revan menelepon kemarin.


Diana tersentak saat Revan kembali meneleponnya, dia pun menolak panggilan tersebut lalu memblokir nomor pria itu. Diana meletakkan ponselnya ketempat semula, kemudian beranjak ke kamar mandi.


Siska mengembuskan napas melihat sikap Diana, tampaknya keponakannya itu belum mau berdamai dengan Revan.


***


Setelah selesai mandi dan sarapan, Diana turun ke lantai bawah, di sana sudah ada Eliana yang mengobrol dengan Siska dan Dafa. Sementara Raka tak terlihat hari ini.


"Selamat pagi, Bu El," sapa Diana sedikit gugup.


Eliana yang sedang membelakangi Diana sontak menoleh, "Selamat pagi. Eh, Diana, bagaimana keadaan kamu?"


"Sudah lebih baik, Bu," jawab Diana.


"Kamu harus banyak istirahat, biar enggak ngedrop lagi," pinta Eliana penuh perhatian seperti biasanya.


"Iya, Bu," sahut Diana, dia heran mengapa sikap Eliana masih sama seperti sebelumnya? Apakah Raka tidak mengatakan jika dirinya sudah membatalkan lamaran mereka?


Sebuah mini bus berwarna hitam tiba-tiba datang dan parkir di depan laundry, tak berapa lama dua orang pria berpakaian serba hitam serta memakai masker keluar dari mobil dan langsung masuk ke dalam laundry sambil menodongkan senjata api.


"Jangan ada yang bergerak atau coba-coba berteriak!" pinta salah seorang pria misterius itu.


Diana dan yang lainnya mendadak takut, Siska bahkan langsung memeluk Dafa dengan sangat erat, lalu mendekati Diana.


"Siapa kalian?Dan mau apa?" cecar Eliana sambil mundur perlahan.


"Serahkan anak itu! Atau kami akan menghabisi kalian semua!" ancam pria satunya lagi, dia menunjuk Dafa yang ketakutan di dalam pelukan Siska.

__ADS_1


Diana menggeleng seraya sigap bergerak menghalangi Dafa dan Siska, "Enggak! Aku enggak akan menyerahkan anakku!"


"Kau mau mati rupanya!" Pria itu mengarahkan pistolnya ke Diana lalu menarik pelatuknya.


"Diana!" ujar Siska gemetar.


Diana terpaku dengan gemetaran, dia menelan ludah karena takut, namun dia tak boleh kalah, dia harus melindungi sang putra.


Di saat bersamaan Revan datang, dia terkesiap melihat pemandangan tak mengenakkan di hadapannya.


Tanpa ba-bi-bu, Revan langsung menerjang pria itu hingga tersungkur ke lantai dan pistolnya memuntahkan pelurunya.


Dor!


Nasib baik peluru tersebut hanya mengenai dinding, dan tak sampai melukai siapa pun. Namun tetap saja membuat semua orang kaget dan syok.


"Revan!" seru Diana dan Siska bersamaan.


Tak ingin tinggal diam, pria yang satunya lagi mengarahkan pistolnya ke Revan, "Kau juga mau mati, ya?"


Revan mengalihkan pandangannya dan menatap pria itu dengan tajam, "Kau yang akan mati, bajingan!"


Tanpa sepengetahuan pria itu, Eliana dengan hati-hati dan perlahan meraih setrika uap yang berada di dekatnya lalu mengayunkan setrika itu ke kepala pria tersebut.


"Aduh!" Pria itu memekik kesakitan sambil memegangi kepalanya.


Revan lantas memanfaatkan situasi ini dengan menendang pria tersebut hingga terjerembab ke lantai. Tak cukup sampai di situ, Revan kembali menghajar pria itu dengan membabi buta.


Tapi tak ada yang menyadari jika pria yang tadi hendak menembak Diana perlahan bangkit dan memungut pistolnya. Dia kemudian berdiri lalu kembali mengarahkan senjata api di tangannya ke Diana.


"Diana awas!" Siska yang kebetulan melihatnya langsung berteriak panik.


Diana sontak menoleh ke arah pria itu, begitu juga dengan Revan dan Eliana.


"Diana!" Tanpa pikir panjang, Revan bangkit dan berlari sekuat tenaga ke arah Diana lalu memeluk wanita itu.


Dor!


Pria misterius itu menembakkan pelurunya dan menembus pinggang belakang Revan. Darah segar langsung menetes keluar hingga mengotori kemeja Revan dan lantai.


"Revan!" ucap Diana syok.


Manik hitam Revan menatap Diana, dia berusaha menahan rasa sakit dan panas yang seketika menyerang pinggangnya. Dengan perlahan tubuh Revan lemas dan ambruk ke lantai.


Dua pria misterius itu pun memanfaatkan situasi untuk secepatnya kabur dari tempat tersebut.

__ADS_1


***


__ADS_2