Diana (Gadis Yang Ternoda)

Diana (Gadis Yang Ternoda)
Episode 19.


__ADS_3

Revan pulang ke apartemennya, dia ingin mandi sebab merasa gerah karena lari-larian saat membawa Dafa ke rumah sakit tadi. Dia melepaskan seluruh pakaiannya lalu masuk ke dalam kamar dan menyalakan shower, membiarkan air membasahi tubuh atletisnya yang putih bersih.


Revan memejamkan mata menikmati sejuknya air yang menyapu kulitnya, namun tiba-tiba sekelebat bayangan wajah Diana dan Dafa melintas dipikirannya. Dia sontak membuka mata, jantungnya berdebar saat teringat dua orang itu, mendadak kata-kata Siska tadi kembali terngiang di telinganya.


"Nak Raka itu orangnya baik dan ramah, dia gampang akrab dengan siapa aja. Terus kelihatannya dia juga sayang dengan Dafa, makanya Tante sarankan ke Diana agar mau menerima dia jadi suami."


Entah mengapa hati Revan kembali merasa tak rela Diana menikah dengan orang lain dan Dafa menganggap orang lain itu sebagai ayah. Sementara dia akan dilupakan dan tak pernah dianggap oleh darah dagingnya sendiri.


"Aku enggak boleh membiarkan dia menikah dengan siapa pun! Anakku enggak boleh menganggap pria lain sebagai ayahnya, enggak boleh!"


Revan memang tak pernah mengharapkan anak dari wanita mana pun termasuk Diana, dia hanya ingin bersenang-senang dan melampiaskan hasrat bejatnya saja. Tapi kehadiran Dafa bagaikan sebuah hadiah dari Tuhan untuknya, dalam sekejap dia bisa menyayangi bocah lucu nan menggemaskan itu dan tak ingin kehilangannya. Inikah yang dinamakan ikatan batin antara ayah dan anak?


Setelah selesai mandi, Revan keluar hanya mengenakan handuk yang dililitkan di pinggang. Namun tiba-tiba pintu apartemennya digedor-gedor dengan keras, dia bergegas membuka pintu dan terkesiap melihat Sofia berada di depan pintu.


"Sofia?"


Sofia menatap tajam Revan, dia marah karena pria itu mengabaikannya, "Ngapain aja, kamu? Kenapa enggak jawab telepon aku?"


"Tadi aku sibuk," jawab Revan tak acuh, dia berbalik dan meninggalkan Sofia yang masih berdiri di depan pintu.


Sofia melangkah masuk meski Revan tak mempersilakannya, "Sibuk? Sibuk apa? Ngurusin anak haram sialan itu?"


Revan sontak berbalik dan membentak Sofia, "Sofia! Jaga bicara kamu!"


Sofia terkejut mendengar Revan membentaknya, "Mas, kamu bentak aku?"


Revan tak menjawab, dia berusaha menahan diri agar enggak terpancing emosi.


"Aku heran sama kamu, Mas! Kenapa kamu sangat peduli pada anak itu? Apa karena ibunya?" Sofia menatap Revan dengan curiga.


"Sebaiknya kamu pergi dari sini! Aku sedang enggak ingin ribut denganmu!" Revan mengalihkan pembicaraan.


"Enggak! Aku enggak akan pergi sebelum Mas jawab pertanyaan aku!"


Revan diam membisu, dia benar-benar sedang malas meladeni kekasihnya itu.


"Mas suka dengan Diana, kan? Iya, kan, Mas?" tuduh Sofia.


"Jangan sembarangan bicara, Sofia!"


"Lalu kenapa Mas begitu peduli pada anaknya, sampai-sampai Mas mengabaikan aku!"

__ADS_1


Revan bergeming.


"Jawab, Mas!" desak Sofia.


"Revan!"


Revan dan Sofia sontak menoleh ke arah pintu yang masih terbuka lebar.


"Mama?" Alangkah terkejutnya Revan saat melihat orang tuanya itu tiba-tiba datang.


Sofia pun tak kalah terkejutnya, tapi seketika hatinya yang marah berubah senang karena akhirnya dia bertemu dengan orang tua kekasihnya itu, walaupun di saat yang kurang tepat.


"Ada apa ini?" cecar Lenny yang tak lain adalah ibunda Revan.


"Enggak ada apa-apa, Ma. Kami cuma lagi ngobrol aja," sahut Revan bohong.


Lenny lalu memandangi Sofia dari bawah sampai atas, "Bukankah dia ini model yang digosipkan dekat dengan kamu? Jadi benar kalian ada hubungan?"


Sofia tersenyum dan langsung menyodorkan tangannya, "Iya, Tante. Kenalin aku Sofia, pacarnya Mas Revan."


Lenny melirik tangan Sofia tanpa menjabatnya, dia tidak menyukai wanita itu karena berpakaian terlalu seksi.


Karena kalah malu, Sofia menarik kembali tangannya dan tersenyum kikuk, walaupun dalam hatinya dia kesal karena sikap sombong Lenny itu.


"Aku baru selesai mandi pas dia datang, jadi belum sempat pakai pakaian."


"Kalau begitu pakai pakaian kamu!" pinta Lenny.


"Iya-iya, Ma." Revan bergegas masuk ke dalam kamar.


Lenny kembali mengalihkan pandangannya ke Sofia yang mematung dengan wajah tegang, "Sudah berapa lama kalian pacaran?"


"Baru dua Minggu, Tante," jawab Sofia.


"Oh, baru." Lenny kembali mengamati penampilan Sofia yang hanya mengenakan rok mini super pendek dan tank top.


Sofia merasa risih diperhatikan seperti ini oleh Lenny, dia jadi gugup dan kikuk.


"Ternyata cara berpakaian kamu di televisi sama di kehidupan sehari-hari enggak ada bedanya, ya? Sama-sama kurang sopan!"


Sofia terkejut mendengar Lenny mengomentarinya seperti ini, dia jadi salah tingkah sendiri.

__ADS_1


Revan yang sudah memakai pakaian lengkap kembali ke ruang tamu, dia agak bingung melihat Sofia terpaku dengan wajah tegang bercampur kesal.


"Tumben Mama ke sini? Pasti ada hal penting, kan?" Revan mengalihkan situasi.


"Iya, Mama ke sini karena ingin membicarakan perjodohan kamu." Lenny berbicara sambil melirik Sofia.


Sofia tercengang, dia langsung menatap Revan yang juga terkejut mendengar kata-kata sang mama.


"Perjodohan apa yang Mama maksud?" tanya Revan bingung.


"Mama berencana untuk menjodohkan kamu dengan anak teman Mama," ungkap Lenny.


Sofia terperangah, "Mas!"


"Ma, aku enggak mau dijodohkan!" tolak Revan.


"Van, anak teman Mama itu cantik, baik, terpelajar lagi, dan pastinya sopan." Lenny lagi-lagi melirik Sofia saat bicara.


Sofia terdiam sedih, dia merasa tersindir dan dengan cepat cairan bening menggenangi pelupuk matanya.


"Pokoknya aku enggak mau, Ma!" bantah Revan.


"Van, umur kamu sudah enggak muda lagi, sudah saatnya kamu berkeluarga!"


"Iya, tapi bukan berarti harus dijodohkan seperti ini, Ma! Aku bisa cari calon istriku sendiri."


"Yang seperti dia ini?" Lenny terang-terangan menunjuk Sofia.


Revan terdiam, dia tak menjawab apa pun karena memang dia tak berniat menjadikan Sofia sebagai istrinya.


Sofia merasa tersinggung dengan sikap Lenny, dia juga kecewa karena Revan hanya diam saja.


"Van, pokoknya Mama enggak mau tahu! Nanti malam kamu harus datang ke restoran langganan kita jam delapan. Mama dan Papa tunggu!" Lenny bergegas pergi tanpa menegur Sofia yang mematung dengan perasaan campur aduk.


"Kenapa tadi Mas diam aja? Kenapa Mas enggak bilang kalau Mas akan nikahi aku? Apa jangan-jangan selama ini Mas enggak serius dengan aku? Atau Mas berniat menerima perjodohan itu, iya?" protes Sofia.


"Sudahlah! Aku sedang pusing dan enggak ingin bertengkar denganmu, jadi tolong pergi dari sini sekarang juga!" hardik Revan penuh emosi.


"Kamu benar-benar keterlaluan, Mas! Kamu enggak peduli dengan perasaan aku, kamu jahat!" sungut Sofia kemudian bergegas pergi dari apartemen kekasihnya itu.


Revan mengembuskan napas berat, dia kesal pada Sofia dan mamanya. Sekarang dia bingung apa yang harus dia lakukan? Dia tak ingin menerima perjodohan itu, dia juga tak berniat menikahi Sofia. Dia harus cari cara untuk menolak keduanya.

__ADS_1


***


__ADS_2