Diana (Gadis Yang Ternoda)

Diana (Gadis Yang Ternoda)
Episode 16.


__ADS_3

Diana sudah lebih tenang setelah menceritakan semuanya kepada Siska, beban yang selama ini dia simpan sendiri terasa lebih ringan setelah dia berbagi dengan sang Tante. Sementara Dafa hanya diam menyimak Bunda dan Omanya, dia tak mau menyela karena memang tak mengerti.


"Mau sampai kapan kamu menutupinya? Bagaimana pun juga mereka itu ayah dan anak, kamu enggak bisa memutuskan hubungan darah di antara mereka!"


"Aku akan menutupinya seumur hidupku, Tante. Aku enggak sudi Dafa mengenalnya!"


"Kamu enggak boleh egois, Diana! Dafa berhak mengetahui siapa ayah kandungnya," sahut Siska.


"Tante, dia sudah merusak hidupku, dia membuat aku menderita selama ini. Jadi aku enggak rela dia dianggap ayah oleh anakku!" sungut Diana kesal, dia lalu menangis terisak-isak.


Siska mengusap punggung belakang Diana dengan lembut, "Tante mengerti apa yang kamu rasakan, tapi Tante juga kasihan pada Dafa. Dia butuh ayah, dan dia berhak untuk mendapatkan kasih sayang dari orang yang sudah membuatnya hadir ke dunia ini."


"Tapi aku tetap enggak rela, Tante. Dia enggak pantas menjadi ayah untuk Dafa!"


Siska mengembuskan napas berat, baru kali ini dia melihat Diana begitu keras kepala. Tapi dia mengerti, sebab dia tahu bagaimana penderitaan Diana selama ini. Dia hanya berharap keponakannya itu bisa bahagia bersama sang putra.


"Ya sudah, sekarang kamu mandi dan tenangkan pikiran kamu. Kasihan Dafa, dari tadi dia ketakutan dan bingung melihat kamu marah-marah dan nangis begini."


"Iya, Tante." Diana beranjak dan segera ke kamarnya dengan lesu.


"Oma, Bunda kenapa?" tanya Dafa dengan berbisik-bisik.


Siska langsung memeluk bocah lucu itu, "Enggak apa-apa, sayang!"


"Tapi kenapa Bunda menangis? Terus Bunda juga buang semua makanan yang Om tadi kasih. Bunda marah ya sama aku?" Dafa banyak bertanya seperti biasa.


"Enggak, Sayang. Bunda cuma enggak suka kamu makan semua itu terlalu banyak, nanti gigi kamu sakit," kilah Siska berbohong.


"Tapi aku rajin sikat gigi, kok."


Siska tersenyum menatap wajah Dafa yang gemas tapi sudah menunjukkan ketampanan seperti sang ayah, dia baru menyadari jika bocah tersebut ada kemiripan dengan Revan.

__ADS_1


"Aku enggak menyangka dia darah daging kekasih putriku, aku harus melarang Sofia menikah dengan Revan," batin Siska.


***


Diana berdiri melamun di balkon lantai dua, dia lagi-lagi tak bisa tidur meskipun sekarang sudah pukul dua belas malam.


Siska yang melihat Diana segera menghampiri keponakannya itu, "Kamu belum tidur, Di?"


"Aku enggak bisa tidur, Tante," keluh Diana.


"Kamu masih memikirkan semua yang terjadi?"


Diana bergeming, tebakan tantenya itu benar, dia masih memikirkan apa yang terjadi dalam hidupnya.


"Kalau Tante boleh kasih saran, sebaiknya kamu bicara baik-baik dengan Revan tentang Dafa. Walaupun masa lalu kalian buruk, tapi saat ini kalian memiliki sesuatu yang mengikat kalian. Ingat, Diana. Dafa butuh kasih sayang dari kedua orang tuanya, dia berhak merasakan kebahagiaan seperti anak-anak lain."


Diana masih bergeming, air matanya jatuh setetes demi setetes membasahi pipinya.


"Aku akan bilang kalau ayahnya sudah mati, seperti yang selama ini orang-orang tahu," jawab Diana.


"Apa menurutmu Dafa akan berhenti sampai di situ? Bagaimana kalau dia ingin tahu seperti apa sosok ayahnya? Siapa nama ayahnya, lalu cerita tentang ayahnya. Apa kamu bisa menjawab semua itu?"


Diana semakin terisak, dia belum memikirkan hal itu. Dia tak pernah membayangkan jika kelak sang putra akan bertanya tentang sang ayah.


"Kamu ingat apa yang Dafa katakan kemarin malam? Dia hanya punya bunda, dia enggak punya ayah, dia bahkan meminta Nak Raka untuk menjadi ayahnya. Itu bukti jika dia juga menginginkan sosok seorang ayah dalam hidupnya."


"Tapi aku enggak mau Dafa punya ayah seperti Revan, Tante. Aku benci dia!"


"Kamu boleh membenci Revan dan enggak menerimanya, tapi kamu enggak bisa memungkiri jika di dalam diri Dafa mengalir darahnya. Dia juga berhak atas Dafa, walaupun kehadiran Dafa berawal dari sebuah kesalahan. Jadi Tante ingatkan, coba pikirkan lagi! Ini demi kebahagiaan Dafa, Di!" ujar Siska, sejujurnya dia juga marah pada Revan dan prihatin terhadap Diana, tapi dia berusaha untuk memperjuangkan kebahagiaan bocah lucu yang sangat dia sayangi itu.


Diana kembali terdiam, sorot matanya lurus menatap ke depan. Dia tak tahu harus berkata apa lagi? Jauh di dalam hati kecilnya, dia masih berat membiarkan Revan mendekati Dafa, meskipun dia tahu apa yang Siska katakan itu benar.

__ADS_1


"Kalau begitu sekarang kamu masuk dan istirahat, nanti kamu bisa sakit kalau kena angin malam," pinta Siska penuh perhatian.


"Iya, nanti aku masuk, Tante."


"Ya sudah, Tante masuk duluan, ya!"


Diana hanya mengangguk tanpa memandang Siska, tatapannya masih lurus ke depan, pikirannya kembali menerawang jauh ke kejadian empat tahu lalu, di mana Revan merenggut kesuciannya secara paksa dan dia justru tak bisa menolak. Perasaan geram seketika menerpa hatinya, kedua tangannya mencengkram erat besi pembatas balkon.


"Aku benci kalian berdua!" gumam Diana penuh kebencian.


Namun saat itu juga, mobil mewah milik Revan memasuki halaman rumah Siska dan berhenti sempurna di depan rumah. Sofia turun dan disusul oleh Revan.


Diana hanya mengawasi kedua insan itu dengan sinis, tapi rupanya Revan tak sengaja melihat keberadaannya.


"Aku pulang dulu, ya. Besok pagi aku jemput," ucap Revan pada Sofia.


"Iya, Mas hati-hati," balas Sofia lalu mencium bibir Revan dengan mesra.


Diana sontak memalingkan wajahnya dan bergegas masuk, dia muak melihat kemesraan yang mereka pamerkan.


Sofia pun segera masuk ke dalam rumah setelah puas mencium kekasihnya itu.


Revan kembali melirik balkon tapi sosok Diana sudah tidak ada lagi di sana.


"Kita akan segera melihat hasilnya, dan setelah itu kau enggak bisa mengelak lagi," ucap Revan sinis, dia bergegas masuk ke dalam mobil dan meninggalkan rumah Siska.


Di dalam kamarnya, Diana memandangi wajah Dafa yang sudah pulas. Dia mengelus pipi gembul buah hatinya itu dengan air mata yang berderai.


"Maafkan Bunda, sayang. Bunda mungkin bukan ibu yang baik untuk kamu, tapi bunda berjanji akan selalu menjaga dan membahagiakan kamu. Bunda enggak akan biarin siapa pun mengusik hidup kita, termasuk dia," ucap Diana lirih, dia mengusap air matanya lalu mengecup kening Dafa.


Tapi tiba-tiba Diana teringat sesuatu, dia lupa menyampaikan ke Siska jika dia akan segera pindah ke laundry dalam waktu dekat ini. Semua ini gara-gara Revan yang membuat pikiran serta hatinya kacau balau sampai dia tak bisa berpikir dengan baik.

__ADS_1


***


__ADS_2