
Diana, Revan dan Lenny sontak menoleh ke arah Raka yang sudah berdiri di anak tangga teratas, pemuda hitam manis itu menatap Revan dengan tajam.
"Mas Raka?" gumam Diana yang kaget melihat kemunculan calon suaminya itu.
"Aku dan Diana akan segera menikah, jadi anda enggak bisa seenaknya meminta dia menikah dengan anak anda yang berengsek ini," ujar Raka sinis.
"Tutup mulutmu, bangsat!" Revan langsung naik darah dan ingin memukul Raka, tapi Lenny berusaha menahan putranya itu.
"Tahan emosi kamu, Van! Jangan membuat keributan di sini!"
Revan mengepalkan tangan dengan kuat dan mengeraskan rahangnya menahan geram, kalau saja tidak dihalangi sang ibu, dia pasti sudah menghajar pemuda itu.
Sementara Diana hanya terdiam takut bercampur cemas, dia memeluk Dafa yang juga ketakutan.
"Bisa kita bicara baik-baik?" tanya Lenny pelan.
"Enggak ada yang perlu kita bicarakan! Sebaiknya anda dan putra anda pergi dari sini!" sahut Raka.
"Hei, kau!" Revan marah karena Raka bersikap tidak sopan pada Lenny dan mengusir mereka.
"Revan!" sungut Lenny, dia lalu menatap Raka, "kamu tahu ada gosip enggak enak sedang beredar tentang Diana dan anak saya?"
"Iya, aku tahu, dan aku akan berusaha menyelesaikannya," jawab Raka sombong.
"Kamu pikir itu akan mudah diselesaikan? Mungkin gosip itu bisa dihilangkan, tapi nama baik Diana dan anak saya tetap akan tercemar. Publik akan terus menganggap mereka buruk, dan itu juga akan berimbas pada masa depan Dafa. Selamanya orang-orang akan menganggap Diana seorang wanita malam dan Dafa anak diluar nikah, apa kamu bisa mengatasi stigma buruk itu?"
Raka terdiam, sejujurnya dia sendiri belum berhasil mengatasi permasalah yang tengah mendera Diana ini, karena temannya yang seorang wartawan itu sudah tidak bekerja lagi karena sebuah masalah.
"Jadi kedatangan kami ke sini untuk menawarkan solusi agar meredam gosip tersebut, jika Diana menikah dengan Revan dan mengatakan bahwa selama ini mereka adalah pasangan suami istri dan sengaja merahasiakannya demi privasi Diana, publik pasti akan menganggap jika gosip itu hanya hoax belaka," lanjut Lenny berusaha memberikan penjelasan pad Raka.
"Tapi Diana itu calon istriku, mana mungkin aku membiarkan dia menikah dengan pria lain apa pun alasannya!" tolak Raka tak terima.
__ADS_1
"Kau jangan egois! Pikirkan juga nasib Diana dan anakku!" sela Revan emosi.
"Kau yang egois! Semua ini salahmu! Dan gara-gara kelakuan bejatmu itu, Diana jadi terkena masalah dan hidupnya jadi sulit!" balas Raka.
"Berengsek kau!" Revan bergerak maju dan hendak memukul Raka, tapi lagi-lagi Lenny menahannya.
"Revan jangan!" jerit Lenny.
"Biarkan aku menghajar si mulut besar ini, Ma!" Revan melepaskan cekalan tangan sang mama dari lengannya lalu menarik kerah kemeja Raka.
Eliana yang mendengar keributan itu pun bergegas naik dan berusaha melindungi sang putra, "Lepaskan! Jangan sakiti putraku!"
"Cukup! Hentikan semua ini!" teriak Diana yang takut dan panik, bahkan Dafa sampai menangis karena ketakutan.
"Revan sudah!" Lenny menarik Revan menjauh dari Raka, dan kali ini Revan menurut.
Eliana pun lagi-lagi menjadi tameng untuk putranya itu, dia menyembunyikan Raka di balik tubuhnya dan menatap Revan serta Lenny dengan tajam, "Lebih baik kalian pergi dari sini daripada membuat keributan!"
"Pokoknya aku enggak akan membiarkan Diana menikah dengan dia! Karena Diana hanya akan menikah denganku!" kecam Raka tegas.
Revan marah, "Kau ...."
"Revan!" Lenny memberikan isyarat agar putranya itu diam.
"Kami enggak akan memaksa, tapi tolong pikirkan lagi permintaan kami, ini demi kebaikan Diana dan semuanya. Karena cuma itu satu-satunya cara untuk meredam gosip yang sedang beredar dan menghapus anggapan buruk orang-orang tentang Diana, Dafa dan anak saya." Lenny berbicara sembari melirik Diana yang terpaku membisu sambil memeluk Dafa.
"Kalau begitu kami permisi dulu, selamat siang," sambung Lenny dan segera menyeret Revan pergi dari sana.
Diana mengembuskan napas lega setelah Lenny dan Revan pergi, dia takut dan merasa tak enak pada Eliana karena sudah menyebabkan keributan di tempat itu.
"Aku minta maaf, Bu El. Gara-gara aku ...."
__ADS_1
"Sudahlah, Di! Kamu enggak salah, jadi enggak perlu minta maaf," potong Eliana seraya mengusap pundak Diana.
"Iya, Di. Ini bukan salah kamu, kok. Dan aku berharap kamu enggak menerima tawaran mereka, aku enggak rela kamu menikah dengan orang lain apalagi si berengsek itu." Raka menimpali.
Diana hanya bergeming, sesungguhnya dia juga dilema harus mengambil keputusan apa? Dia sadar apa yang Lenny tawarkan adalah solusi terbaik untuk dirinya dan sang putra, tapi dia tak bisa menerimanya begitu saja karena berbagai alasan. Diana jadi galau.
Melihat Diana diam, Raka merasa cemas, "Kamu kenapa, Di?"
Diana menggeleng dan mencoba memaksakan senyuman, "Aku enggak apa-apa, Mas. Kalau begitu aku turun dulu, masih banyak pekerjaan di bawah."
Diana buru-buru melangkah meninggalkan Raka dan Eliana yang memandanginya.
"Bagaimana? Kau sudah bertemu dengan temanmu yang wartawan itu?" cecar Eliana.
Wajah Raka berubah lesu, "Belum, Ma. Kata rekan kerjanya, dia sudah enggak jadi wartawan lagi karena terlibat masalah dan sekarang dia pulang ke kampung halamannya."
"Astaga! Jadi sekarang bagaimana? Apa yang harus kita lakukan untuk membantu Diana dan menghapus gosip itu?"
"Entahlah, Ma! Aku juga bingung harus melakukan apa. Aku takut Diana berubah pikiran dan akhirnya menerima tawaran si berengsek itu."
"Sepertinya enggak akan, soalnya Mama lihat Diana sangat membenci pria itu, jadi dia pasti enggak akan mau menerima tawaran tersebut."
Tiba-tiba terdengar suara berisik dari lantai bawah, Raka dan Eliana merasa bingung.
"Ada apa di bawah, Ma?" tanya Raka.
"Mama juga enggak tahu! Yuk kita lihat!"
Ibu dan anak itu pun bergegas turun untuk memastikan apa yang sedang terjadi.
***
__ADS_1