Diana (Gadis Yang Ternoda)

Diana (Gadis Yang Ternoda)
Episode 44.


__ADS_3

Raka melangkah masuk ke dalam kamar Diana sembari menggandeng tangan Dafa, dia berusaha bersikap biasa saja meskipun perasaannya sedang kacau.


Melihat kemunculan pemuda hitam manis itu, Diana dan Siska sontak berhenti membahas tentang Revan, keduanya menjadi kikuk sebab takut Raka mendengarnya.


"Mas Raka sudah kembali?" tanya Diana basa-basi.


"Iya, maaf agak lama, tadi aku singgah di supermarket dulu untuk beli ini." Raka mengangkat kantong plastik berwarna putih yang dia pegang.


"Om Raka beli banyak sekali buah dan coklat, katanya untuk Bunda, tapi aku boleh makan juga, kok!" seru Dafa girang.


"Kenapa Mas repot-repot segala, sih?" ujar Diana sungkan.


"Enggak merepotkan, kok. Kamu kan kurang darah, jadi butuh vitamin, makanya aku belikan banyak buah. Kalau coklat katanya bisa menghilangkan stres, jadi aku belikan juga," terang Raka sembari meletakkan bungkusan yang dia bawa di atas meja.


Diana tertegun, seketika hatinya merasa sedih dan tak tega jika harus melukai perasaan Raka yang sudah begitu baik dan perhatian terhadapnya juga Dafa selama ini.


"Terima kasih banyak, ya, Mas," ucap Diana.


"Enggak usah berterima kasih! Sudah seharusnya aku melakukan ini untuk calon istriku," balas Raka kemudian tersenyum.


Diana semakin merasa sedih mendengar kata-kata Raka itu, hatinya menjadi galau dan dilema. Dia lantas menatap Siska yang juga menatapnya dengan penuh arti. Raka menyadari hal itu, tapi dia pura-pura tak tahu.


"Hem, Mas. Bisa kita bicara sebentar?" Diana bertanya dengan gugup.


Jantung Raka langsung berdebar, perasaannya mendadak tak enak, namun dia berusaha menguasai diri agar tetap tenang.


"Bisa, dong! Kamu mau bicara apa?" Raka melangkah mendekati ranjang tempat Diana duduk.


Diana melirik Siska yang masih setia duduk di sampingnya, dan wanita paruh baya itu menganggukkan kepala kemudian beranjak dari sisinya.


"Ayo, sayang! Kita keluar sebentar." Siska menarik Dafa keluar dari kamar, dia ingin memberikan kesempatan untuk Diana berbicara berdua dengan Raka.

__ADS_1


Selepas kepergian Siska, Raka menatap Diana dengan penasaran, "Kamu mau bicara apa, Di?"


Diana melepaskan cincin yang Raka kasih tempo hari lalu menyodorkannya ke pemuda itu, "Aku ingin kita membatalkan lamaran ini!"


Raka terdiam, meskipun dia sudah menduga ini akan terjadi, tapi hatinya tetap sakit seolah gada berduri menghantamnya berkali-kali. Tangannya terkepal kuat menahan emosi dan gejolak perasaan yang tak bisa dia definisi kan.


"Aku minta maaf, Mas. Aku enggak bisa melanjutkannya dan menikah dengan Mas Raka," lanjut Diana dengan suara bergetar menahan tangis.


Raka menatap cincin tersebut lalu menerimanya dengan penuh rasa sakit yang meluluhlantakkan hatinya, "Kamu sudah yakin dengan keputusan ini?"


"Sudah, Mas," jawab Diana mantap.


Raka menghirup udara dalam-dalam lalu membuangnya kasar, "Baiklah jika kamu sudah yakin dengan keputusan mu ini, aku mau bilang apa lagi?"


Diana sontak mengangkat kepalanya menatap Raka, dia tak menyangka pemuda tersebut akan se-pasrah ini, "Mas enggak bertanya alasan aku membatalkan semua ini?"


Raka menggeleng, "Aku enggak mau tahu alasannya!"


"Mas marah?"


"Sekali lagi aku minta maaf, Mas."


"Enggak perlu minta maaf, kamu enggak salah. Aku saja yang terlalu memaksakan diri, padahal sejak awal aku tahu kamu enggak bisa menerima aku."


"Mas, bukan begitu! Aku hanya ...."


"Sudahlah, aku hargai keputusan mu," potong Raka.


"Tapi satu hal yang harus kamu tahu, aku mencintaimu, Diana! Bahkan sangat mencintaimu, jadi jika bukan aku orang yang akan menemani hidupmu, paling enggak kamu memilih orang yang kamu cintai dan mencintaimu. Aku enggak mau kamu terluka lagi," lanjut Raka sedikit menyindir.


Diana memandang Raka dengan tatapan yang tak terbaca, air matanya setetes demi setetes jatuh membasahi pipinya. Diana merasa terharu bercampur sedih, dia bisa merasakan ketulusan hati Raka, tapi dia juga tak bisa memaksakan hatinya untuk mencintai pemuda itu. Apalagi saat ini dia tengah menghadapi masalah besar dan satu-satunya orang yang bisa menyelamatkannya adalah Revan.

__ADS_1


"Kalau begitu aku permisi dulu, beristirahat lah!" Raka mengusap kepala Diana, lalu berbalik dan melangkah pergi meninggalkan kamar wanita itu dengan berlinang air mata.


Diana pun akhirnya menangis sesenggukan, ada perasaan lega sekaligus bersalah yang menggelayuti benaknya.


Siska yang menggendong Dafa kembali masuk dan duduk di samping Diana, "Kamu baik-baik saja, sayang?"


Diana langsung memeluk Siska dan menumpahkan air matanya di pundak wanita paruh baya itu.


"Kamu yang sabar dan kuat, ya!" Siska mengusap punggung belakang Diana.


"Aku enggak tahu apakah ini keputusan yang tepat, aku juga merasa bersalah pada Mas Raka." Diana kembali sesenggukan.


"Percayalah, ini pasti yang terbaik!"


Diana mengangguk, namun air matanya tak mau berhenti menetes.


"Sekarang kamu istirahat! Tante enggak mau kamu sakit lagi!" ujar Siska.


Diana mengurai pelukannya kemudian mengusap jejak-jejak air mata di pipinya.


"Bunda kenapa nangis?" tanya Dafa bingung.


"Bunda lagi sakit, sayang. Makanya kamu jangan nakal, biar Bunda bisa istirahat," sahut Siska.


"Oke, deh! Aku enggak akan nakal, aku akan jagain Bunda!" celoteh Dafa.


Diana tersenyum getir seraya mengusap kepala putranya itu, "Terima kasih anak Bunda, sayang."


Di depan laundry, Raka sudah masuk ke dalam mobilnya tapi dia masih enggan beranjak dari tempat itu. Dia memandang cincin yang dikembalikan oleh Diana dengan hati yang terluka, bulir-bulir air matanya pun tak terasa jatuh menetes.


"Kenapa sesakit ini, Di? Setelah begitu banyak harapan dan impian yang aku gantungkan padamu, kamu malah mematahkan hatiku."

__ADS_1


Sakit. Itu yang saat ini Raka rasakan. Harapannya, harga dirinya dan cintanya telah dihancurkan tanpa ampun. Dia tak tahu apakah mampu untuk merelakan Diana, atau justru akan terpuruk selamanya.


***


__ADS_2