Diana (Gadis Yang Ternoda)

Diana (Gadis Yang Ternoda)
Episode 12.


__ADS_3

Setelah selesai mandi, Diana duduk di tepi ranjang, kata-kata menyakitkan Sofia tadi masih terngiang-ngiang di telinganya. Sebenarnya dia sedikit menyesal karena sudah menampar sepupunya itu, tapi dia juga terluka dengan ucapan dan tuduhan wanita tersebut.


Diana mengembuskan napas berat, dadanya sesak setiap kali mengingat kisah hidupnya yang menyedihkan. Apa salah dirinya, mengapa takdir seolah terus saja membuat dia sakit dan merana.


Dia lantas melirik foto Dafa yang terpanjang di atas meja nakas, bocah lucu itu tertawa lebar dan tulus. Tanpa sadar air mata Diana kembali jatuh, dia mungkin bisa menahan badai kehidupan yang terus saja memporak-porandakan hatinya, tapi bagaimana dengan sang buah hati?


Putranya itu masih terlalu kecil untuk menanggung beban menjadi anak di luar nikah dan hidup tanpa sosok seorang ayah. Diana takut orang-orang akan menghina dan mengucilkan Dafa jika tahu apa penyebab putranya itu lahir ke dunia, dia tak ingin tawa lebar putranya itu hilang akibat kejamnya penghakiman.


"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku mohon beri aku petunjuk!" gumam Diana lirih.


Dia benar-benar bingung dan stres saat ini, apalagi jika teringat ancaman Revan tadi. Ingin rasanya dia pergi sejauh mungkin bersama Dafa untuk menghindari pria itu.


Drrrrtttt.


Perhatian Diana teralihkan ke telepon genggamnya yang bergetar di atas meja, dia segera meraih benda pipih itu dan melihat nama yang tertera di layar.


Mas Raka calling ....


Diana pun segera menjawab panggilan masuk dari putra bos nya itu.


"Halo, Mas."


"Halo, Di. Kamu lagi ngapain?"


"Enggak lagi ngapa-ngapain, memangnya kenapa, Mas?" sahut Diana.


"Aku boleh datang ke rumah enggak? Ada yang mau berikan ke Dafa."


Diana termangu, sejujurnya dia ingin menolak, tapi dia merasa tak enak hati.


"Kamu kenapa diam? Enggak boleh, ya?"


Diana tersadar dan mendadak gugup, "Hem, bo-boleh, kok! Ya sudah Mas datang aja!"


"Baiklah, sebentar lagi aku ke sana. Sampai jumpa."


"Iya, Mas," balas Diana.


Diana menghela napas setelah pembicaraannya dengan Raka terputus, dia tak ingin memberi harapan kepada Raka makanya dia berusaha menjaga jarak, tapi dia juga tak ingin membuat pria itu tersinggung.


***


Diana turun ke bawah untuk bergabung bersama Siska dan Dafa yang sedang asyik menonton televisi. Namun pandangannya tertuju pada sebuah kotak besar bergambar mobil remote control yang teronggok di atas sofa.


"Itu mobil remote control punya siapa, Tan?" tanya Diana.


Siska langsung kikuk, "Hem, tadi siang Nak Revan yang memberikannya untuk Dafa."

__ADS_1


Diana tertegun, jadi benar tadi Revan datang menemui Dafa dan memberikan mainan super mahal itu.


"Tapi Dafa enggak mau, makanya Tante letak di situ aja!" lanjut Siska, dia sedikit heran sebab Diana sepertinya tak terkejut ataupun marah.


Diana menghela napas, "Ya sudah, biar aja di situ!"


"Tadi Dafa enggak mau mendekati Nak Revan, dia juga enggak mau menerima mainan itu. Katanya kamu bilang bahwa Nak Revan itu orang jahat dan kamu melarang dia dekat-dekat dengan Nak Revan," adu Siska.


"Iya, Tante. Aku memang mengatakan itu. Aku enggak suka dia dekat-dekat dengan anakku," sahut Diana.


"Kenapa kamu sepertinya benci sekali dengan Nak Revan, Di?"


Diana bergeming menahan rasa sakit saat teringat perbuatan laki-laki itu, tapi dia tak ingin mengatakannya pada Siska.


"Apa sebelumnya kalian sudah saling kenal dan pernah punya masalah?" selidik Siska.


Ketegangan seketika melanda Diana, dia mendadak canggung mendengar pertanyaan tantenya itu, "Enggak, kok, Tan. Aku enggak kenal dia sama sekali!"


Siska mengernyit mengamati sikap dan perubahan ekspresi Diana, dia semakin merasa curiga.


"Selamat malam."


Diana dan Siska langsung menoleh ke belakang saat terdengar suara Sofia, keduanya terkejut mendapati model cantik itu tengah bergelayut manja di lengan Revan. Sofia sengaja ingin memamerkan kemesraannya dengan sang kekasih dan membuat Diana iri.


Melihat kemunculan Revan, Diana merasa kesal bercampur takut, dia langsung cemberut dan membuang muka. Begitu juga dengan Dafa, bocah pintar itu sontak berpindah ke pangkuan sang bunda karena takut pada Revan.


"Iya, Tante," sahut Revan, dia melirik Diana dan Dafa.


Tak lama kemudian, terdengar suara Raka dari luar rumah.


"Permisi, selamat malam."


"Itu sepertinya Nak Raka, suruh masuk, Di!" pinta Siska.


"Iya, Tan." Diana menurunkan Dafa dari pangkuannya lalu buru-buru beranjak dan berjalan melewati Revan juga Sofia tanpa sedikitpun memandang dua insan itu.


"Mari sini duduk, Mas!" Sofia menarik Revan agar duduk di sampingnya.


Revan terus memandangi Dafa dengan perasaan senang bercampur haru, rasanya ingin sekali dia memeluk bocah berkulit putih dan berambut lurus itu.


"Hai, Dafa!" sapa Revan sambil melambaikan tangannya, tapi bocah itu malah takut dan bergegas mendekati Siska.


"Sayang, itu ditegur sama Om Revan. Kok enggak dijawab?" bisik Siska, tapi Dafa hanya menggeleng dengan tatapan mata yang tajam.


"Dasar anak enggak punya sopan santun, sama kayak ibunya," gumam Sofia pelan, namun Revan masih bisa mendengarnya dan membuat pria itu kesal dengan sang kekasih.


Diana kembali lagi bersama Raka yang menenteng sebuah kantung plastik.

__ADS_1


"Selamat malam semuanya," sapa Raka ramah, senyum manis tersungging di bibirnya.


"Selamat malam, Nak Raka. Silakan duduk!"


Raka mengangguk, "Iya, Tante."


"Yee, Om datang!" Dafa langsung berlari memeluk Raka yang duduk berhadapan dengan Revan dan Sofia.


Revan tertegun melihat Dafa begitu akrab dengan Raka, berbeda sekali saat dengannya. Hal itu membuat hati Revan sedikit nyeri, dia mendadak iri dan cemburu pada pria di hadapannya itu.


"Hai, jagoan!" Raka mengusap kepala Dafa.


"Kalau begitu, Tante buat minum dulu!" Siska beranjak dari duduknya.


"Biar aku aja, Tan." Diana pun ikut beranjak.


"Sudah, kamu duduk aja! Kan kamu lagi ada tamu." Siska bergegas pergi ke dapur.


Diana pun kembali duduk di dekat Raka dan Dafa.


"Om ada sesuatu buat kamu," ujar Raka.


"Apa itu, Om? Aku mau lihat!" Dafa langsung heboh dan melompat lompat kegirangan.


"Sayang, jangan gitu! Enggak sopan, ah!" kata Diana seraya menarik tangan Dafa.


Raka pun menatap Diana dengan lembut, "Enggak apa-apa, Di."


Entah mengapa Revan tak suka melihat pemandangan itu, dia pun mengeraskan rahang menahan kesal. Begitu juga dengan Sofia, dia tak suka melihat Diana dan Raka bersama seperti ini.


Raka lalu membongkar bungkusan yang dia bawa dan mengeluarkan sebuah piano kecil berwarna biru, "Taraaa! Ini buat kamu!"


"Asyik!" seru Dafa dan langsung menerima mainan pemberian Raka itu dengan senang hati.


"Bilang apa ke Om?" Diana mengingatkan.


"Makasih, Om."


"Sama-sama, jagoannya Om," balas Raka sembari tersenyum manis.


Hati Revan semakin geram dan terluka menyaksikan Dafa begitu bahagia menerima barang pemberian Raka, sementara bocah itu bersikap dingin padanya dan tak merespon apa yang dia berikan.


"Mas kenapa repot-repot bawa mainan segala, sih?" protes Diana pelan.


Lagi-lagi Raka tersenyum menatap Diana, "Enggak repot sama sekali, kok! Santai aja!"


Revan semakin kesal, wajahnya masam. Dia terus menatap Diana dan Raka dengan tajam. Bahkan dia sama sekali tak memedulikan Sofia yang bermanja-manja di sampingnya.

__ADS_1


***


__ADS_2