
Diana masih mematung, jantungnya berdetak kencang karena Revan memeluknya seperti ini, terlebih saat mendengar kata-kata manis pria itu, entah kenapa Diana seolah terhipnotis.
"Maafkan aku, ya? Aku enggak bermaksud untuk menyinggung perasaanmu, sungguh tadi aku hanya bercanda," bisik Revan lagi.
Diana pun tersadar, dan kembali berusaha melepaskan tangan kekar Revan yang melingkar di perutnya, "Sudahlah, lepaskan aku!"
Tapi bukannya melepaskan Diana, produser ganteng itu justru semakin mengeratkan pelukannya dan meletakkan dagunya di pundak sang istri, "Aku enggak akan lepaskan sebelum kau memaafkan aku."
Hembusan napas Revan yang menyapu leher Diana lagi-lagi membuat bulu kuduk wanita itu meremang, tapi dia berusaha bersikap tenang.
"Iya-iya, aku maafkan," ujar Diana akhirnya.
"Kedengarannya enggak ikhlas!"
"Siapa bilang? Aku ikhlas, kok!" bantah Diana.
"Ah, nada bicaramu aja begitu!"
"Jadi harus gimana?" Diana mulai kesal.
"Yang manis dan mesra, dong!"
"Enggak akan! Sudahlah, lepaskan aku!" Diana kembali memberontak.
"Aku enggak mau!" Revan masih bersikeras memeluk Diana dari belakang, dan kali ini dia malah mencium leher Diana dengan mesra.
Tubuh Diana menegang, bulu tengkuknya kembali berdiri dibarengi degup jantung yang kian tak beraturan. Apalagi saat dia merasakan sesuatu yang keras milik Revan menggesek bagian tubuh belakangnya, dia jadi gemetar.
"Revan, tolong lepaskan aku!" pinta Diana memohon.
"Baiklah!" Revan akhirnya melepaskan pelukannya, tapi dengan cepat dia memutar tubuh Diana agar menghadapnya kemudian kembali memeluk wanita itu dengan sangat erat hingga mereka menempel tanpa jarak.
Mata Diana melotot menatap Revan, wajahnya sudah merah padam, "Kenapa kau memelukku lagi? Sudah kubilang lepaskan!"
Bukannya menjawab Diana, Revan justru terpana memandangi wajah cantik istrinya itu dengan tatapan penuh arti, "Kau sangat cantik, Diana. Sudah lama sekali aku merindukanmu."
Diana menelan ludah, pikirannya mulai traveling ke mana-mana, "Aku bilang lepaskan! Atau aku akan ter ...."
Sebelum Diana selesai bicara, Revan sudah lebih dulu membungkam mulut wanita itu dengan mulutnya, sebelah tangannya bahkan menekan leher belakang Diana. Revan melumaat bibir merah istrinya itu dengan penuh gairah.
Diana masih berusaha mendorong tubuh Revan dan melepaskan pagutan bibir mereka, tapi tenaganya kalah kuat. Revan pun semakin menggila, dia memainkan lidahnya dengan lihai di dalam mulut Diana. Sepertinya Revan sudah mulai terbawa suasana dan nafsu.
Diana yang tak kehabisan akal akhirnya menggigit bibir bawah Revan, sontak pria genit itu melepaskan ciumannya dan meringis kesakitan.
"Ah, sakit sekali!" Revan mengulum bibir bawahnya yang basah dan berdenyut.
"Apa-apaan kau? Kenapa kau melakukan itu?" cecar Diana marah, dia masih tertahan di dalam pelukan Revan, meskipun kesakitan tapi pria itu tetap tak mau melepaskannya.
"Memangnya kenapa? Kita ini kan pengantin baru, jadi wajar saja kalau kita berciuman, bahkan berhubungan intim sekalipun," jawab Revan sedikit kesal.
__ADS_1
Diana melotot mendengar kata-kata Revan, "Kau lupa, ya? Kita menikah karena terpaksa dan hanya untuk menyelamatkan nama baik kita, jadi jangan berharap lebih!"
"Tapi alasanku menikahi mu bukan cuma karena itu!"
"Terserah apa pun alasan mu, yang pasti jangan menyentuh aku! Bukankah waktu itu sudah aku peringatkan?"
"Tapi aku enggak pernah mengiyakannya! Itu berarti aku bebas menyentuh mu dan melakukan apa saja yang aku inginkan," balas Revan lalu menyeringai licik.
Diana semakin kesal dengan jawaban suaminya itu dan kembali meronta-ronta, "Kau ini benar-benar menyebalkan! Dasar mesum! Cepat lepaskan aku!"
"Aku enggak akan melepaskan mu, kita akan menikmati malam pengantin kita dengan penuh gairah," goda Revan.
Diana terperangah dan kembali menelan ludah mendengar kata-kata Revan yang terlalu frontal, jantungnya kian berdebar tak karuan. Dia tak berani membayangkan seperti apa malam pengantin yang penuh gairah itu.
"Aku akan memuaskan mu, dan kau cukup menikmatinya aja," bisik Revan kemudian.
Revan kembali ingin mencium Diana, tapi wanita itu buru-buru merapatkan bibirnya dan menutup mata. Tingkah Diana itu membuat Revan merasa gemas, dia pun terkekeh geli.
Karena Revan tak kunjung menciumnya, Diana pun membuka matanya dan bingung melihat Revan tertawa-tawa.
"Kau pasti menunggunya, ya?" ledek Revan.
"Enggak!" bantah Diana.
"Sudahlah mengaku aja!"
"Aku bilang enggak, ya enggak!" sungut Diana.
"Enggak usah kepedean! Aku bukan seperti mu? Otakmu yang mesum itu hanya dipenuhi nafsu!" ujar Diana menohok.
Wajah Revan berubah dingin, "Menurut mu begitu? Baiklah!"
Revan tiba-tiba mendorong Diana ke ranjang hingga wanita itu jatuh dengan posisi telentang, lalu menindih tubuh Diana dan menahan kedua tangan sang istri.
"Ka-kau mau apa?" Diana gugup dan ketakutan.
"Menunjukkan apa yang kau katakan tadi bahwa otakku yang mesum ini hanya dipenuhi nafsu," sahut Revan, dia menatap Diana dengan tajam.
Diana semakin panik dan ketakutan, "Jangan macam-macam!"
"Aku cuma mau satu macam." Revan hendak mencium Diana tapi wanita itu memalingkan wajahnya ke samping.
"Revan, aku mohon hentikan!"
Tok ... tok ... tok ....
Terdengar suara ketukan pintu dari luar kemudian disusul oleh suara teriakkan Dafa.
"Bunda, buka pintunya!"
__ADS_1
Revan dan Diana sama-sama menoleh ke arah pintu yang tertutup rapat, kesempatan ini tentu dimanfaatkan Diana untuk terbebas dari suami mesumnya itu.
"Iya, sebentar, sayang!" sahut Diana, lalu menatap Revan dan berbisik pelan, "awas! aku mau buka pintu!"
"Cckk!" Revan pun melepaskan Diana dan bergerak menjauhi wanita itu.
Diana bergegas bangkit dan segera membuka pintu, dia terkesiap karena Lenny juga ada di sana.
"Sayang, Bunda!" sapa Diana, lalu tersenyum pada Lenny yang berdiri di belakang Dafa.
Lenny heran melihat Diana masih mengenakan kebaya dan rambutnya sedikit berantakan.
"Bunda sudah selesai bikin adik untuk aku?" tanya Dafa.
Diana tercengang, wajahnya langsung merah menahan malu. Revan yang mendengar itu pun terkejut, dia segera menghampiri istrinya tersebut.
Lenny yang kaget sontak menegur Dafa, "Eh, kok Dafa tanya begitu?"
"Tadi kan Oma yang bilang, kalau Bunda mau bikin adik untuk aku," terang Dafa dengan polosnya.
Diana dan Revan seketika menatap Lenny yang salah tingkah sendiri.
"Adik untuk aku sudah jadi belum, Bunda?" tanya Dafa lagi.
Diana mendadak gugup dan kikuk, "Hem, i-itu ...."
"Belum, sayang. Habis Bunda enggak mau Ayah ajakin bikin adik untuk kamu!" sela Revan seenaknya.
Diana spontan menoleh menatap suaminya itu dengan mata melotot, tapi Revan cuek aja.
"Bunda, aku mau adik, biar aku ada temannya. Ayo cepat bikin, Bunda!" rengek Dafa, membuat semua orang mendelik kaget, terutama Diana yang semakin senewen.
"Dafa minta adik, tuh! Yuk, buat!" bisik Revan, dan Diana langsung menyiku pinggang Revan.
"Aduh!" Revan memekik kesakitan saat tanpa sengaja siku Diana menyenggol bekas lukanya.
"Kamu kenapa, Van?" cecar Lenny saat melihat putranya itu kesakitan.
"Enggak apa-apa, Ma! Kalau begitu aku dan Diana buat adik untuk Dafa dulu! Bye!" Revan menarik Diana masuk dan buru-buru menutup pintu kamarnya.
Lenny yang terpaku di depan pintu bingung melihat tingkah putranya itu, tapi dia juga senang jika Revan dan Diana benar-benar membuatkan adik untuk Dafa.
"Kenapa Ayah dan Bunda menutup pintunya, Oma?" protes Dafa.
"Kan Ayah dan Bunda mau bikin adik untuk kamu, jadi enggak boleh diganggu! Sebaiknya sekarang kamu tidur bersama Oma dan Opa saja, nanti Oma ceritakan kisah pahlawan di hutan ajaib. Kamu mau, kan?"
Dafa mengangguk, "Iya, aku mau, Oma!"
Lenny tersenyum dan mengajak Dafa pergi dari depan kamar Revan.
__ADS_1
***