
Diana berjalan gontai memasuki pekarangan rumah Siska, hati dan pikirannya benar-benar gundah gulana karena perdebatannya dengan Revan tadi. Dia tak pernah menyangka pria yang paling dia benci itu lagi-lagi mengacaukan hidupnya yang tentram.
Tangan Diana menarik handle pintu dan membukanya perlahan, dia kemudian melangkah masuk dengan lesu.
Namun langkahnya terhenti saat melihat Sofia berdiri menatapnya dengan tajam sambil melipat tangannya di depan dada.
"Akhirnya kau pulang juga? Sudah selesai menggoda pacar orang?" ledek Sofia sinis.
Diana mengerutkan keningnya bingung, "Apa maksudmu? Siapa yang menggoda pacar orang?"
"Kalau bukan menggoda, lalu apa namanya? Merayu?"
"Sofi, aku benar-benar enggak mengerti apa yang kau bicarakan!"
"Ngapain tadi kau dan Mas Revan berduaan di tepi jalan?"
Diana terhenyak, dia tak menyangka Sofia mengetahui hal itu.
"Kau pasti ingin merayunya, kan? Seperti kau merayu Mas Raka waktu itu!" tuduh Sofia.
"Kamu salah paham, Sofi! Aku enggak pernah melakukan hal itu!"
"Alah, jangan sok suci! Aku tahu kau itu iri padaku, makanya kau selalu merebut pria yang aku cintai! Dasar kau pelacur!"
Plak.
Diana refleks menampar pipi Sofia, dia tersinggung dengan kata-kata sepupunya itu.
"Kau berani menampar ku?" Sofia menyentuh pipinya yang merah dan perih.
"Aku bukan pelacur! Aku enggak pernah menjual diri!" bantah Diana penuh emosi, air matanya seketika jatuh berlinang.
"Ada apa ini?" Siska yang sedang memandikan Dafa buru-buru turun saat mendengar ada ribut-ribut di bawah.
Sofia berbalik sambil memegangi wajahnya, "Dia menampar ku, Ma!"
Siska terkejut dan langsung menatap Diana, "Ada apa, Di? Kenapa kamu menampar Sofia?"
"Dia menyebut aku pelacur, Tante!" adu Diana sembari menyeka air matanya.
Plak.
Siska spontan menampar Sofia, membuat model cantik itu terkejut setengah mati. Begitu juga dengan Diana, dia tak menyangka Siska akan melakukan itu. Dafa yang ketakutan dan tak tahu apa-apa langsung berlari dan memeluk kaki Diana.
"Kenapa Mama menampar aku juga?" protes Sofia, air matanya pun ikut menetes.
"Kerena kau sudah keterlaluan! Mama sudah peringatkan agar kau menjaga ucapan mu? Tapi kenapa kau masih saja menghina Diana?" sungut Siska penuh emosi.
__ADS_1
"Ma, dia merayu dan ingin merebut kekasihku! Apa aku enggak pantas marah, ha?" ujar Sofia.
"Itu enggak benar!" sanggah Diana tak terima.
"Lalu kenapa tadi kalian diam-diam ketemuan di depan laundry?" cecar Sofia.
Diana terdiam, dia tak tahu harus menjawab apa. Dia tak mungkin mengatakan yang sebenarnya.
Siska mengalihkan pandangannya ke Diana, "Benar itu, Di?"
"Ini cuma salah paham, Tante. Tadi kami enggak sengaja bertemu, dia hanya menanyakan Dafa, dan aku minta maaf atas sikapku kemarin. Sudah, itu aja! Enggak ada maksud tertentu," terang Diana sedikit berbohong.
"Kau pasti bohong! Kalau enggak ada maksud tertentu, ngapain pegang-pegang?"
"Enggak ada yang pegang-pegang, kau pasti salah lihat!" bantah Diana.
"Kamu dengar itu? Jadi Mama harap enggak ada kesalahpahaman lagi antara kalian! Sekarang minta maaf kepada Diana!" pinta Siska.
"Jangan harap aku akan minta maaf padanya!" Sofia yang kesal pun pergi dari hadapan ibu dan sepupunya itu.
"Sofia!" panggil Siska, tapi putrinya tetap berlalu.
Diana mengembuskan napas usai Sofia pergi, dia takut dan sakit hati.
"Bunda," panggil Dafa.
Diana menundukkan kepala menatap buah hatinya itu, "Iya, sayang."
Diana mencoba tersenyum seraya mengusap air matanya, "Enggak apa-apa, sayang. Ini urusan orang tua, anak kecil enggak perlu tahu."
"Iya, benar itu. Sekarang kamu nonton sana! Kartun kesukaan kamu sudah tayang itu," sela Siska.
Dafa mengangguk dan buru-buru berlari ke ruang tengah.
"Di, Tante minta maaf atas ucapan Sofia tadi, ya? Jangan dimasukin ke hati! Kamu kan tahu bagaimana dia kalau lagi marah."
"Iya, Tante. Aku juga minta maaf karena sudah menampar Sofia."
"Enggak apa-apa, Tante ngerti, kok!" balas Siska sembari menepuk pundak Diana, "sekarang kamu mandi sana! Biar Tante temani Dafa."
Diana mengangguk kemudian melangkah ke kamarnya.
Siska memandangi punggung Diana yang semakin menjauh, sejujurnya dia juga curiga ada sesuatu antara keponakannya itu dengan Revan, tapi dia tak mau memperkeruh situasi dan membuat Sofia semakin emosi. Pelan-pelan dia akan cari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Di dalam kamarnya, Sofia segera menghubungi Revan, tapi sama sekali tak ada jawaban.
"Ck, dia ke mana, sih?" gerutu Sofia kesal.
__ADS_1
"Aku harus bicara dengannya!" Sofia mengambil tas nya dan buru-buru pergi.
Dia berlari menuruni anak tangga dan berjalan dengan tergesa-gesa, bahkan dia sama sekali tak menegur Siska apalagi berpamitan kepada mamanya itu.
"Kamu mau ke mana?" tanya Siska, tapi Sofia tak menggubrisnya dan melenggang pergi begitu saja.
Siska menghela napas sembari geleng-geleng kepala melihat tingkah putrinya itu.
***
Revan membuka pintu apartemennya saat mendengar sebuah ketukan, dia terkejut melihat Sofia yang penampilannya berantakan berdiri di depan pintu.
"Sofi? Kamu kenapa?" tanya Revan bingung.
"Apa yang Mas lakukan bersama Diana di tepi jalan tadi? Kalian ingin mengkhianati aku, ya?"
Revan terkejut karena Sofia tahu jika tadi dia bertemu dengan Diana.
"Sofi tenanglah dulu! Mari masuk dan bicara pelan-pelan di dalam!" Revan hendak meraih tangan Sofia, tapi wanita itu menepisnya dan melangkah masuk.
Revan menutup pintu dan langsung mendekati Sofia, tapi wanita itu menjauh.
"Jawab aku, Mas! Apa yang Mas lakukan bersama Diana tadi? Ngapain Mas pegang-pegang tangan dia?" sungut Sofia.
Revan bergeming, berusaha mengatur degup jantungnya yang tak karuan, sebab bingung harus menjawab apa.
"Kenapa Mas diam? Dia pasti sudah menggoda Mas, dan kalian selingkuh di belakang aku!" tuduh Sofia.
"Itu enggak benar! Kamu jangan bicara sembarangan!" bantah Revan.
"Lalu apa?"
"Tadi kami hanya kebetulan bertemu dan mengobrol sebentar tentang Dafa," dalih Revan.
"Bohong! Kalian pasti mengkhianati aku!"
"Sofi, percaya lah! Aku dan dia enggak ada apa-apa! Kamu kan tahu kalau aku hanya mencintaimu seorang," ujar Revan sedikit gombal, dia tahu Sofia akan luluh dengan kata-kata manisnya.
"Kalau begitu buktikan jika kamu memang benar-benar mencintai aku, Mas. Nikahin aku secepatnya, jadilah milikku seutuhnya!"
"Kita kan sudah pernah bahas ini sebelumnya. Setelah orang tua aku kembali dari luar negeri, kita akan menikah," dalih Revan.
"Tapi kapan, Mas? Aku enggak mau kamu direbut wanita lain! Aku enggak mau kehilangan kamu!"
"Sabar, ya, sayang." Revan menangkup kedua pipi Sofia lalu mencium bibir wanita itu.
Sofia pun membalas ciuman Revan sembari mengalungkan lengannya di leher sang kekasih.
__ADS_1
Lama kelamaan ciuman itu semakin liar dan menggairahkan, tangan kekar Revan mulai meraba daerah sensitif Sofia, membuat wanita itu mendesaah. Revan pun semakin berhasrat dan tak menyia-nyiakan kesempatan emas ini.
***