
Di sebuah kafe, Revan dan Diana sudah bersiap-siap untuk klarifikasi. Di hadapan mereka sudah berkerumun para wartawan yang siap merekam apa saja yang akan mereka katakan nanti. Dafa sengaja mereka tinggal bersama Lenny dan Adiguna di rumah, sebab tak ingin bocah itu ketakutan karena banyak orang asing.
Untuk pertama kalinya Diana berhadapan dengan orang sebanyak ini, dia benar-benar merasa gugup.
Sadar jika Diana tak nyaman, Revan pun menggenggam tangan istrinya itu lalu berbisik, "Jangan gugup, santai aja!"
Diana mengangguk dan berusaha tersenyum.
Acara jumpa pers pun di mulai, Revan mulai angkat bicara.
"Selamat siang semuanya. Saya langsung aja pada tujuan saya mengadakan jumpa pers ini, yaitu karena saya ingin klarifikasi gosip yang sedang beredar tentang saya."
"Saya memang memiliki anak dari Diana," lanjut Revan, sontak terdengar desas-desus dari para wartawan.
"Harap tenang dulu! Saya belum selesai bicara!" ujar Revan.
Para pemburu berita pun bergeming, dan suasana kembali hening.
"Tapi saya dan Diana sudah menikah siri sejak empat tahun yang lalu, jadi anak itu bukan anak haram seperti yang diberitakan, dia adalah buah cinta kami."
"Dan satu lagi yang perlu kalian tahu, Diana itu bukan wanita malam, dia wanita baik-baik!" Revan berbicara dengan tegas.
Diana hanya bisa tertunduk malu bercampur gugup, dia juga tak berani menatap ke arah para wartawan itu.
"Tapi kenapa Mas Revan baru klarifikasi sekarang?" tanya salah satu wartawan.
"Tadinya saya ingin mengabaikannya, tapi ternyata berita itu semakin membesar dan membuat keluarga saya enggak nyaman. Jadi mau tak mau saya harus klarifikasi," jawab Revan.
"Tapi kenapa Mas Revan menikah siri dan merahasiakan pernikahan Mas Revan dengan Mbak Diana?" Wartawan yang lain bertanya.
"Saya enggak bisa mengatakan alasannya, tapi secepatnya saya akan mendaftarkan pernikahan kami ke kantor urusan agama. Dan kenapa saya merahasiakannya, itu karena istri saya bukan publik figur, dia juga pemalu, makanya dia tak ingin tersorot dan hidupnya jadi perhatian publik seperti saat ini. Jujur istri saya sangat enggak nyaman," terang Revan lugas, dia benar-benar lihai bersandiwara.
"Bohong!" bentak Sofia yang tiba-tiba datang. Semua perhatian langsung tertuju pada model cantik itu.
Revan dan Diana hanya bergeming menatap Sofia, mereka sudah menduga wanita itu akan menampakkan wujudnya.
"Mereka baru menikah semalam, dan anak itu memang anak haram! Diana adalah pelacur!" teriak Sofia.
"Jaga bicaramu!" Revan hendak maju menghampiri Sofia, tapi Diana menahannya.
__ADS_1
"Revan, jangan!"
Orang-orang sontak bergunjing dan mulai mengeluarkan komentar komentar buruk. Beberapa sekuriti langsung mengamankan Sofia, tapi wanita itu memberontak dan berteriak seperti orang gila.
"Lepaskan aku! Jangan sentuh aku, berengsek!"
Akhirnya Revan menyuruh sekuriti tersebut melepaskan mantan kekasihnya itu.
"Kalian jangan mau dibohongi oleh bajingan licik ini!" teriak Sofia lagi.
"Aku enggak berbohong! Aku punya bukti, yaitu foto pernikahan kami empat tahun yang lalu," Revan menunjukkan foto-foto pernikahan mereka yang sudah diedit.
Sofia tercengang melihat foto-foto tersebut, di mana Diana dan Revan terlihat lebih muda dari sekarang, begitu juga dengan Lenny, Adiguna dan Siska.
"Ini enggak mungkin, ini pasti rekayasa!" pekik Sofia tak terima.
"Sudahlah, Sofia! Berhenti mengatakan omong kosong!"
"Kau yang seharusnya berhenti membohongi publik dengan semua sandiwara mu itu!" balas Sofia tak mau kalah.
"Aku enggak bersandiwara, ini semua kebenaran! Bahkan di foto itu juga ada mamamu, kau bisa tanya padanya."
"Baiklah, kalau begitu aku akan panggil seseorang untuk membongkar kebohongan kalian!" Sofia langsung bergegas memanggil Raka yang sejak tadi menunggu di luar kafe.
Diana tercengang melihat kehadiran Raka, dia panik dan semakin ketakutan. Sedangkan Revan hanya mengepalkan tangannya menahan geram karena Raka ternyata bersekongkol dengan Sofia.
"Mas, katakan ke semua orang jika sebenarnya mereka itu berbohong!" pinta Sofia.
Raka terdiam menatap Diana dengan penuh arti, hatinya kian terasa sakit menyaksikan wanita yang dia cintai itu bersanding dengan pria lain.
"Mas, ayo katakan!" desak Sofia yang gemas karena Raka cuma mematung membisu.
"Iya memang ...." ujar Raka akhirnya, matanya masih menatap Diana, membuat Revan semakin geram dan cemburu.
Para wartawan langsung bergunjing mendengar jawaban pria hitam manis itu. Diana bertambah panik dan takut, rasanya saat ini dia ingin sekali menangis dan berlari pergi meninggalkan tempat tersebut.
Sedangkan Sofia tersenyum penuh kemenangan, dia tak sabar menunggu Raka membongkar sandiwara dia insan dihadapannya itu.
"Mereka memang sudah menikah sejak empat tahun yang lalu, dan Dafa itu bukan anak haram seperti yang diberitakan di media," lanjut Raka.
__ADS_1
Sofia terhenyak tak percaya sebab Raka justru membenarkan kebohongan Revan, senyum kemenangan di bibirnya seketika lenyap begitu saja.
Diana dan Revan juga terkejut mendengar kata-kata Raka, mereka tak menyangka pemuda itu akan membantu mereka.
"Mas ini apa-apaan, sih! Kenapa Mas juga ikut berbohong?" protes Sofia kesal.
"Aku bicara yang sebenarnya!" sahut Raka sembari melirik Diana yang juga tengah menatapnya.
"Kalau memang Mas Revan sudah menikah sejak empat tahun lalu, kenapa dia memiliki hubungan dengan Mbak Sofia?" cecar wartawan lain yang semakin gencar mencari informasi.
"Itu hanya settingan demi mendongkrak popularitas Sofia," sela Siska yang tiba-tiba datang.
Kamera wartawan langsung menyorot ke arah wanita paruh baya itu. Diana dan semua orang yang ada di tempat tersebut terkejut dengan kemunculannya.
"Mama?" Sofia terkejut setengah mati melihat Siska, terlebih saat mendengar kata-kata mamanya itu.
"Sebenarnya Sofia itu adalah adik sepupu Diana, dan Revan hanya ingin membantu menaikkan karirnya aja. Mereka sengaja membuat rumor seolah-olah mereka memiliki hubungan, padahal itu cuma rekayasa," lanjut Siska bohong.
"Itu enggak benar! Kami memang memiliki hubungan, dan itu bukan settingan!" bantah Sofia, lalu menunjuk Raka yang bergeming di sampingnya, "dan dia juga memiliki hubungan dengan Diana! Mereka bahkan hampir saja menikah!"
Diana yang panik hanya bisa terdiam pasrah, dia benar-benar bingung harus melakukan apa dalam situasi seperti ini.
"Semua yang dikatakan Sofia enggak benar! Saya enggak pernah memiliki hubungan apa-apa dengan Diana, kami hanya berteman baik," aku Raka.
Lagi-lagi Sofia terkejut mendengar Raka membela Diana, "Mas Raka!"
"Tapi bukankah waktu itu anda pernah mengatakan jika Mbak Diana calon istri anda dan dia enggak ada hubungan apa-apa dengan Mas Revan?" tanya wartawan tadi.
Raka tertawa, "Aku berkata seperti itu agar wartawan berhenti menggangu Diana, karena Diana enggak suka tersorot dan jadi perhatian publik, tapi ternyata malah makin heboh. Aku minta maaf."
Sofia sungguh merasa dikhianati oleh Raka dan Siska, "Kalian semua benar-benar keterlaluan!"
"Kau yang keterlaluan! Karena iri pada Diana, kau tega menyebarkan fitnah tentang dirinya dan membuat dia sedih. Bukan cuma dia, tapi Dafa yang enggak tahu apa-apa juga kau sakiti! Mama benar-benar kecewa padamu!" Siska mengungkapkan kemarahannya
"Mama!" Sofia melotot tak menyangka mamanya itu akan menyudutkan dirinya di depan umum.
"Sekarang minta maaf pada mereka di depan semua orang!" perintah Siska.
"Enggak! Sampai mati pun aku enggak akan sudi minta maaf, karena aku enggak bersalah! Justru mereka yang sudah menyakiti aku, dan aku akan membuat mereka menyesal!" Sofia bergegas pergi meninggalkan tempat tersebut, dia malu dan marah karena semua orang membela Diana dan menentang dirinya.
__ADS_1
***