Diana (Gadis Yang Ternoda)

Diana (Gadis Yang Ternoda)
Episode 49.


__ADS_3

Adiguna langsung mendekati Dafa dengan langkah yang tertatih saat melihat bocah menggemaskan itu, Lenny pun ikut berjalan di belakang suaminya tersebut dengan sedikit cemas.


"Jadi ini putramu?" tanya Adiguna ketika sudah berada tepat di depan Dafa.


"Iya, Pa. Dia putraku, cucu Papa dan Mama," jawab Revan.


Adiguna langsung bersimpuh dan memeluk tubuh kecil Dafa, "Cucuku! Kamu mirip sekali dengan ayahmu sewaktu kecil."


Dafa yang kebingungan hanya bergeming, dia mendongak menatap Diana yang juga tengah memandangnya untuk meminta penjelasan.


Revan dan Lenny tersenyum lega bercampur senang, mereka tak menyangka respon Adiguna akan seperti ini, karena tadinya pria paruh baya itu marah besar karena semua perbuatan sang putra di masa lalu.


Adiguna melepaskan pelukannya dan menatap Dafa dengan mata berkaca-kaca, "Nama kamu Dafa, kan?"


Dafa mengangguk dengan raut bingung.


"Ini Opa kamu." Adiguna menunjuk dirinya sendiri.


"Dan yang ini Oma kamu, sayang," sela Lenny girang.


"Salam Opa dan Oma, Nak!" bisik Diana pelan.


Dafa pun meraih tangan Adiguna lalu menciumnya, membuat Adiguna terharu bercampur gemas. Dia mengusap kepala Dafa dengan penuh kasih sayang.


Kemudian Dafa beralih menyalami Lenny, wanita tersebut lantas menciumi pipi chubby cucunya itu.


"Pa, perkenalkan ini Diana," ujar Revan.


Adiguna menatap Diana, dan dengan perlahan berdiri dibantu oleh Lenny.


Diana mengulurkan tangannya dengan canggung, dan Adiguna pun menyambutnya.


"Saya Diana, Pak. Bundanya Dafa." Diana memperkenalkan dirinya, dan Adiguna hanya membalasnya dengan senyuman.


"Kalau begitu mari duduk!" ajak Lenny.


Mereka semua pun duduk di ruang tamu, Revan sengaja mengambil posisi tepat di samping Diana, kemudian memangku Dafa. Sedangkan Adiguna dan Lenny duduk di hadapan mereka.


"Bagaimana urusan kamu di luar kota? Sudah beres?" tanya Lenny yang percaya jika beberapa hari Revan sedang keluar kota.


"Sudah, Ma," sahut Revan bohong, dan Diana hanya meliriknya.


"Tapi kamu kelihatan pucat, kamu sakit?" Lenny bertanya lagi, sebab melihat wajah sang putra sedikit pucat.

__ADS_1


Revan mendadak gugup, "En-enggak, kok, Ma! Aku baik-baik saja."


"Mungkin Revan cuma kelelahan saja, Ma!" sambung Adiguna.


"Iya, Pa. Aku memang agak kelelahan beberapa hari ini." Revan lagi-lagi berbohong dan Diana hanya menghela napas.


"Kamu harus banyak istirahat, dong! Jaga kesehatan! Kalau kamu sakit gimana?" Lenny mengomeli putranya itu.


"Ma, sudahlah! Revan bukan anak kecil lagi, dia pasti bisa jaga diri. Lagian enggak baik mengomel di depan tamu!" bisik Adiguna memperingatkan sang istri.


"Eh, maaf, ya! Habis Revan ini hidupnya asal-asalan saja, enggak ada aturannya. Maklumlah, namanya juga bujang," kata Lenny pada Diana.


Diana hanya tersenyum canggung.


"Tapi sebentar lagi aku sudah pensiun jadi bujang, Ma," pamer Revan.


Lenny dan Adiguna mengerutkan kening mereka, menuntut penjelasan Revan.


"Maksudnya, kamu mau menikah?" tebak Lenny.


Revan tersenyum sembari mengangguk, dia lalu merangkul pundak Diana, "Aku dan Diana akan segera menikah."


Lenny tercengang mendengar kabar dari sang putra, begitu juga dengan Adiguna yang sama terkejutnya.


"Iya, Ma. Diana bersedia menerima tawaranku untuk menikah demi meredam rumor sialan itu, agar nama baik kita semua dan masa depan Dafa tetap bersih," terang Revan.


"Kamu yakin itu akan berhasil?" Adiguna sedikit ragu.


"Aku yakin, Pa. Aku akan atur semuanya seperti rencana ku."


"Baiklah, apa pun itu, Papa akan dukung asalkan demi kebaikan kita semua," pungkas Adiguna.


Revan kembali mengangguk, "Iya, terima kasih, Pa."


"Kalau begitu kapan kalian akan menikah?" cecar Lenny penuh semangat.


"Secepatnya, Ma." Revan semakin mengeratkan rangkulannya di pundak Diana seraya melirik wanita itu.


Sejujurnya Diana merasa risih dengan kelakuan Revan, tapi dia tak berani protes apalagi menepis tangan pria itu, meskipun dalam hatinya kesal.


"Mama sudah enggak sabar melihat kalian menikah," ucap Lenny bahagia.


"Aku juga, Ma," balas Revan sembari mengerlingkan matanya pada Diana.

__ADS_1


Melihat tingkah Revan itu, Diana hanya mengembuskan napas dongkol dan menggerutu dalam hati. Sedangkan Lenny dan Adiguna yang juga melihatnya hanya tersenyum.


***


Setelah sekian lama bersembunyi di hotel, Sofia akhirnya pulang ke rumah karena keuangannya mulai sekarat. Namun begitu masuk, Siska langsung mencecarnya dengan pertanyaan.


"Sudah sembunyi nya?" sindir Siska yang berjalan ke arah putrinya itu.


Sofia menghentikan langkahnya dan menatap Siska dengan tegang, namun dia berusaha bersikap tenang, "Apa maksud Mama? Siapa yang sembunyi?"


"Jangan pura-pura enggak mengerti! Mama tahu kamu yang menyebarkan berita tentang masa lalu Diana dan Revan, lalu kamu bersembunyi untuk menghindari mereka. Iya, kan?" tuduh Siska terang-terangan.


Sofia terhenyak sebab tuduhan Siska tepat sekali, namun dia masih berusaha menguasai diri agar tetap tenang.


"Aku enggak melakukannya!" bantah Sofia, "aku pergi karena memang ada pekerjaan, sekalian aku ingin menenangkan diri. Itu saja, Ma!"


"Sof, yang tahu cerita itu hanya kita. Kau pasti sengaja menyebarkannya karena merasa iri dan marah pada mereka, kau ingin menghancurkan mereka."


Sofia mengepalkan tangannya dengan kuat demi menahan geram karena ucapan sang mama yang lebih membela Diana alih-alih dirinya yang anak kandung, "Iya, aku memang ingin menghancurkan hidup Revan dan Diana juga anak haram mereka itu, aku enggak rela mereka bahagia sementara aku menderita!"


"Apa yang terjadi pada dirimu bukan salah Diana dan Dafa, jadi jangan melampiaskannya pada mereka!"


"Tapi karena mereka, Revan jadi meninggalkan aku! Hidupku hancur gara-gara pelacur dan anak haramnya itu!"


"Sofia!" bentak Siska marah.


Sofia sontak terdiam.


"Sekarang juga kamu harus minta maaf pada mereka, terutama Diana! Dan berhenti membenci mereka!" pinta Siska.


"Enggak! Sampai kapan pun aku enggak akan mau minta maaf pada mereka! Mereka yang salah, bukan aku!" tolak Sofia.


"Sofia, jangan egois dan keras kepala!"


"Mama yang egois dan keras kepala! Mama hanya mementingkan perasaan Diana saja, tanpa pernah memikirkan perasaanku! Padahal aku anak kandung Mama, bukan Diana!" sungut Sofia, air matanya jatuh menetes, namun buru-buru dia usap.


"Kamu salah! Mama juga selalu memikirkan perasaan kamu, tapi Mama enggak mau kamu berada di jalan yang salah lalu terjerumus ke dalam amarah dan kebencian mu sendiri! Mama ingin kamu menyadari kesalahan mu dan berhenti bersikap seperti ini!"


"Sudahlah, Ma! Aku tahu kalau Mama enggak sayang sama aku, Mama cuma peduli dan sayang sama Diana dan anaknya itu! Mungkin lebih baik aku enggak pernah pulang ke rumah ini lagi!" Sofia berbalik dan bergegas pergi.


"Sofia, tunggu! Sofia kamu mau ke mana lagi?" teriak Siska, tapi Sofia tak menggubrisnya dan tetap pergi.


Siska mengejar Sofia keluar, tapi putrinya itu sudah keburu naik taksi. Dia hanya memandangi kepergian Sofia dengan berlinang air mata.

__ADS_1


***


__ADS_2