
Tiiiin ....
Revan tersentak bangun dan sontak membuka mata saat suara klakson mobil yang hampir bertabrakan mengagetkannya, dia ketiduran entah sejak kapan, yang pasti saat ini hari sudah gelap.
"Astaga aku ketiduran!"
Revan memutar kepalanya memandang ke arah ruko tempat Diana bekerja, tapi pintunya sudah tutup.
"Ah, sial! Aku gagal mengikuti dia!" gerutu Revan kesal.
Revan melirik arloji di pergelangan tangannya, dia terkesiap saat menyadari sekarang sudah pukul delapan malam.
"Dia pasti sudah pulang dari tadi." Revan mengusap wajahnya penuh sesal.
Padahal tadi Revan sudah yakin akan berhasil menemukan tempat tinggal Diana yang baru, tapi nyatanya dia gagal karena rasa kantuk menyerangnya.
Drrrrtttt.
Ponsel Revan tiba-tiba bergetar, dia buru-buru merogoh sakunya untuk mengambil benda pipih itu.
Mas Angga calling ....
Revan langsung menjawab panggilan masuk dari sutradara terkenal itu.
"Halo, Mas," sapa Revan.
"Van, bisa kita ketemuan sekarang? Ada yang mau saya bicarakan dengan kamu."
"Tentang apa itu, Mas?" tanya Revan penasaran.
"Tentang projek film yang akan kita garap bersama."
"Oh, kalau begitu mau ketemuan di mana?"
"Di Mayummie Resto aja, kebetulan saya enggak jauh dari sana."
"Baiklah, saya ke sana sekarang," putus Revan.
"Oke, saya tunggu."
Revan mengakhiri pembicaraannya dengan Angga dan segera tancap gas meninggalkan tempat itu.
Di sebuah restoran, Diana sedang makan malam bersama Raka, Eliana, Siska dan juga Dafa tentunya.
"Akhirnya kita bisa makan malam bersama," ujar Eliana girang.
"Iya, Mbak," sahut Siska.
Diana yang memang tak bersemangat hanya membisu sejak tadi sembari mengaduk-aduk makanan dihadapannya.
"Di, kenapa enggak dimakan? Makanannya enggak enak, ya?" tanya Raka cemas.
"Enggak, Mas. Enak, kok!" jawab Diana.
__ADS_1
"Kalau begitu makan, dong! Atau mau aku suap?" goda Raka.
"Enggak usah, Mas! Aku makan sendiri aja!" tolak Diana dan langsung menyendok makanan di piringnya.
Raka tersenyum, begitu juga dengan Eliana. Hanya Siska yang sadar jika Diana sedang tak enak hati.
Tak lama kemudian Revan tiba di restoran itu, dia berjalan masuk dan tak menyadari keberadaan Diana serta yang lainnya, begitu juga dengan Diana yang tak tahu jika Revan ada di restoran yang sama dengan dirinya.
"Hai, Van." Angga menyambut Revan sambil mengeluarkan tangan.
Revan pun menjabat tangan Angga dan tersenyum.
"Silakan duduk!"
Revan mengangguk dan langsung duduk berhadapan dengan Angga, dan membelakangi meja Diana.
"Mengenai film yang rencananya mau kita garap, saya ingin sedikit menambahkan beberapa ...."
"Selamat malam semuanya," sapa seorang pria yang memakai tuksedo dan membawa buket mawar merah, membuat Angga tak sempat melanjutkan kata-katanya.
Semua orang seketika menatap pria itu, termasuk Diana.
"Malam ini teman saya akan melamar pujaan hatinya di sini. Kalian mau kan menjadi saksi cintanya?" lanjut pria itu.
"Mau!" seru para pelanggan.
"Kayaknya saya salah pilih tempat, seharusnya kita ketemuan di restoran lain saja," keluh Angga, dan Revan hanya tersenyum sambil mengangguk.
Semua mata tertuju pada Raka yang sudah mengambil alih buket serta microphone tersebut dengan gugup, Diana dan Siska yang tak tahu apa-apa terkejut melihat semua ini.
"Oh jadi itu cowok romantis yang mau melamar kekasihnya?" ledek Angga saat melihat Raka berdiri.
Revan yang penasaran pun menoleh ke belakang, betapa terkejutnya dia saat tahu itu ada Raka dan di samping pemuda itu ada Diana.
"Mereka?" gumam Revan dengan mata melotot.
"Kamu kenal dengan mereka?" tanya Angga.
Revan sontak gugup, "Hem, enggak kok, Mas."
Revan berusaha menahan perasaannya yang mulai tak karuan.
"Malam ini aku ingin semua menjadi saksi cintaku." Raka akhirnya buka suara setelah berhasil menenangkan perasaannya yang sangat gugup, dia lantas bersimpuh dengan satu kaki di hadapan Diana lalu menyerahkan buket bunga itu.
Dia mendadak gugup dan malu, dia jadi salah tingkah sendiri dan bingung harus bersikap seperti apa. Semua ini benar-benar di luar dugaannya.
"Diana, Will you marry me?" ucap Raka penuh harap.
Diana terdiam menatap Raka.
"Kalau kamu terima, ambil buket ini," lanjut Raka.
"Terima!"
__ADS_1
"Terima!"
"Terima!"
Semua orang yang ada di restoran itu ikut menyerukan agar Diana menerima lamaran Raka, kecuali Revan tentunya.
Diana benar-benar tak tahu harus melakukan apa, dia melirik Siska yang duduk di hadapannya, tapi tantenya itu hanya bergeming menatapnya. Diana lantas mengedarkan pandangannya, para pelanggan yang lain kini sedang memandangi mereka, jika dia menolak Raka, pemuda itu pasti akan sangat malu.
Diana menghirup udara dalam-dalam lalu mengembuskanya, dengan tangan gemetar dia pun menerima buket bunga tersebut. Suara riuh tepuk tangan semua orang sontak terdengar menggema di restoran itu. Raka dan Eliana tersenyum senang.
Namun tidak dengan Revan, dia mengepalkan tangannya dengan kuat sembari mengeraskan rahang menahan emosinya. Rasanya saat ini dia ingin sekali membatalkan semuanya, namun dia tak ingin mengambil resiko sebab ini tempat umum. Dia tak mau tingkahnya itu merusak citranya sebagai orang yang cukup dikenal publik.
Raka pun menyematkan cincin di jari manis Diana lalu mencium punggung tangan wanita itu. Diana sebenarnya merasa risih, tapi dia tak enak untuk menolak.
***
Raka mengantarkan Diana dan Dafa pulang ke laundry setelah lebih dulu mengantarkan Siska dan Eliana, sepanjang jalan Raka tak henti-hentinya tersenyum, dia sungguh bahagia karena Diana menerima lamarannya.
"Terima kasih, ya, Mas," ucap Diana.
"Seharusnya aku yang mengucapkan terima kasih karena kamu mau menerima aku," balas Raka.
Diana memaksakan senyuman, dia tak mencintai Raka, tapi juga tak tega menolak pria itu di depan umum. Diana jadi serba salah sendiri.
Raka lalu mengusap kepala Dafa, "Sebentar lagi kamu bakal punya ayah benaran."
"Asyik!" Dafa melompat kegirangan.
Mereka tak menyadari dari kejauhan Revan mengawasi mereka dengan perasaan geram. Selama berdiskusi dengan Angga tadi, dia tak bisa fokus dan terus kepikiran Diana. Hingga akhirnya memutuskan menyudahi pembicaraannya dengan Angga saat melihat rombongan Diana pergi. Dia mengikuti mobil Raka agar bisa mengetahui ke mana Diana dan Dafa pulang.
"Kamu masuk sana! Biar aku tunggu!"
Diana pun bergegas membuka pintu besi laundry, lalu masuk bersama Dafa.
"Ya sudah, tutup dan kunci pintunya!" pinta Raka.
Diana mengangguk, "Iya, Mas."
"Bye jagoan!" Raka melambaikan tangan pada Dafa.
Dafa ikut melambaikan tangannya, "Da da, Om."
Diana pun menutup pintu besi itu lalu menguncinya. Dia menggandeng tangan Dafa dan mengajak putranya itu naik ke lantai atas, tapi baru beberapa langkah menaiki anak tangga, pintu kembali digedor dari luar.
"Siapa, ya? Apa mungkin Mas Raka?" tebak Diana, lalu menatap Dafa, "kamu naik duluan, ya! Bunda buka pintu dulu."
Dafa mengangguk patuh, kemudian lanjut menaiki anak tangga.
Diana kembali berjalan ke arah pintu dan membukanya, betapa terkejut dia saat melihat siapa yang kini ada di hadapannya.
"Kau?"
***
__ADS_1