Diana (Gadis Yang Ternoda)

Diana (Gadis Yang Ternoda)
Episode 23.


__ADS_3

Di dalam mobil, Revan menatap selembar kertas di tangannya dengan penuh rasa bahagia, dia sudah yakin dari awal jika Dafa itu memang darah dagingnya.


"Kali ini kau enggak bisa mengelak lagi, Diana." Revan tersenyum lalu melipat dan menyimpan kertas tersebut di dalam saku baju yang dia kenakan.


Tak ingin buang-buang waktu, Revan pun menyalakan mesin mobilnya dan segera meninggalkan pelataran parkir rumah sakit.


Di tempat berbeda, Diana baru saja selesai memandikan Dafa dan mengajak putranya itu turun ke lantai bawah.


"Bunda mau buka pintu dulu, kamu tunggu di sini aja dan jangan nakal!"


Dafa mengangguk, "Iya, Bunda."


"Anak pintar." Diana mengusap kepala Dafa lalu meninggalkan putranya itu di sebuah ruangan yang biasa dia dan Eliana gunakan untuk istirahat.


Dafa yang sudah mulai membaik pun duduk dengan manis di salah satu kursi sambil menonton televisi yang kebetulan ada di ruangan itu.


Dengan sedikit kesusahan, Diana mendorong pintu lipat ruko agar terbuka, karena sekarang dia tinggal di sini, jadi dia yang harus membuka tempat jasa pencucian itu. Setelah itu Diana menyapu lantai dan teras ruko yang berdebu.


"Selamat pagi, Di," sapa Eliana yang baru datang.


Diana langsung menoleh, "Selamat pagi, Bu El."


"Bagaimana keadaan anak kamu?" tanya Eliana.


"Sudah membaik, Bu. Badannya sudah enggak panas, walau masih agak lemas," jawab Diana.


"Ini Ibu bawakan bubur dan buah untuk dia." Eliana mengangkat paper bag yang dia bawa.


"Wah, terima kasih banyak, Bu. Jadi ngerepotin," ujar Diana sungkan.


"Enggak apa-apa. Oh iya, mana anak kamu?"


"Ada di dalam, Bu."


"Kalau begitu kamu bawa bubur dan buah ini ke dalam, biar ibu yang terusin kerjaan kamu."


"Eh, enggak usah, Bu! Dikit lagi selesai, kok!"


"Sudah, enggak apa-apa!" Eliana memberikan paper bag yang dia pegang ke Diana.


"Kalau begitu aku ke dalam dulu, ya, Bu."

__ADS_1


Eliana mengangguk dan tersenyum.


Diana melangkah masuk dengan membawa paper bag yang Eliana berikan dan mendatangi Dafa, "Kita sarapan dulu, ya, sayang. Ini Oma El ada kasih bubur dan buah untuk kamu."


"Iya, Bunda. Aku juga sudah lapar," sahut Dafa sembari memegangi perutnya.


Diana tersenyum lalu membuka penutup bubur itu dan mulai menyuapi sang putra.


Dafa makan dengan lahap, karena muntah kemarin dan enggak berselera makan, bocah menggemaskan itu jadi kelaparan. Diana merasa senang dan lega karena sekarang putranya itu sudah baik-baik saja.


Tak lama kemudian, Eliana masuk dan menghampiri Diana.


"Di, di luar ada yang nyariin kamu."


"Siapa, Bu?"


"Pria yang waktu itu."


Jantung Diana langsung berdebar kencang, dia tahu siapa pria itu. Seketika dia merasa panik dan takut.


"Bu, tolong bilang aku enggak ada!" pinta Diana.


"Yaa, Ibu sudah bilang kamu ada. Tapi kalau kamu enggak mau menemui dia, Ibu bisa usir dia."


"Iya, Ibu akan menjaganya." Eliana langsung mendekati Dafa yang kebingungan.


Dengan perasaan gelisah dan cemas, Diana akhirnya menemui Revan yang sudah berdiri di depan tempat dia bekerja.


"Mau apa lagi kau ke sini?" tanya Diana dengan suara yang pelan.


"Aku ingin bertemu anakku, di mana kau sembunyikan dia?" jawab Revan.


Diana panik, dia takut Eliana mendengarnya.


"Sudah kubilang dia bukan anakmu, jadi berhenti mengganggunya!" kecam Diana masih dengan suara yang pelan.


Revan tersenyum lalu mengeluarkan selembar kertas yang dia simpan di sakunya tadi dan memamerkannya kepada Diana, "Lihat ini!"


Diana memicingkan mata mengamati lembar putih yang banyak terdapat tulisan itu, dia sedikit bingung walaupun perasaannya mulai tak enak.


"Aku sudah melakukan tes DNA, dan Dafa itu memang darah dagingku. Jadi kau enggak bisa mengelak lagi sekarang," terang Revan.

__ADS_1


Diana terperangah, rasa takut dan panik semakin menjadi-jadi di hatinya.


"Ini semua bohong! Kau pasti sengaja merekayasanya!" sanggah Diana yang masih bersikeras membantah Dafa adalah putra kandung Revan.


"Kalau kau enggak percaya, kita bisa tes ulang," tantang Revan, dan Diana sontak terdiam dengan wajah tegang.


"Sudahlah, Diana! Berhenti menutupi semuanya! Biarkan Dafa tahu siapa ayah kandungnya!" sambung Revan.


"Enggak! Sampai kapanpun Dafa enggak perlu tahu siapa ayahnya, biarkan dia menganggap kalau ayahnya sudah mati!"


"Kau jangan egois, Diana! Aku juga berhak atas anakku!"


"Kau yang egois! Setelah kau merusak hidupku karena perbuatanmu itu, sekarang kau datang seenaknya dan ingin diakui!" sungut Diana, dengan cepat cairan bening menetes dari matanya.


Revan terdiam, ada rasa sakit saat mendengar kalimat yang Diana lontarkan itu.


"Kau tahu betapa sulitnya aku menjalani hidup selama ini? Aku trauma dan hampir depresi. Aku juga sering dihina, dicaci dan dikucilkan karena punya anak tanpa suami. Bahkan anakku pun menjadi korban dan sering mendapatkan penghinaan dari orang lain karena enggak punya ayah. Aku menderita selama empat tahun ini dan itu karena perbuatan bejat mu! Aku benci kau!" Diana meluapkan emosi dan rasa sakitnya selama ini dengan berlinang air mata.


Revan semakin merasa bersalah, dia sadar semua ini salahnya, tapi dia juga ingin mendapatkan pengakuan dan kasih sayang dari darah dagingnya sendiri.


"Aku minta maaf," ucap Revan penuh sesal.


"Kau pikir maaf bisa merubah segalanya? Enggak! Rasa sakit serta benci itu masih akan terus aku simpan, dan sampai kapanpun aku enggak sudi anakku mengakui kau sebagai ayah! Jadi aku minta berhenti menggangu hidup kami lagi!" Diana bergegas masuk tapi dengan cepat Revan menarik lengannya.


"Aku akan tanggung jawab, aku akan nikahi kau untuk menebus semua kesalahanku!" ujar Revan tegas.


Diana terkesiap mendengar keputusan yang Revan ambil.


"Kita akan rawat Dafa bersama-sama," lanjut Revan.


Diana tersadar lalu berontak dan berusaha melepaskan lengannya dari cekalan tangan Revan, "Aku enggak butuh tanggung jawab darimu! Jadi lepaskan aku dan pergi sekarang juga!"


"Aku enggak akan pergi dari sini sebelum kau memaafkan aku dan mengatakan di mana anakku!" Revan tak mau melepaskan tangan Diana yang terus saja memberontak.


Di saat bersamaan mobil Raka memasuki parkiran laundry, dia buru-buru turun saat melihat Diana meronta-ronta dan berusaha melepaskan cekalan tangan Revan. Dia pun langsung menghampiri keduanya dengan langkah yang lebar.


"Lepaskan dia!" bentak Raka.


Diana dan Revan sontak menoleh ke arah Raka yang sedang berjalan menuju mereka dengan tatapan tajam.


"Mas Raka?" gumam Diana dengan mata melotot dan wajah yang tegang.

__ADS_1


***


__ADS_2