
Mobil mewah Revan melaju kencang di jalanan kota, dia memutuskan untuk menemui Diana pagi ini setelah semalaman dia tak bisa tidur memikirkan wanita itu dan rasa bersalah yang terus menyerang perasaannya. Andai Revan tahu malam itu Diana dijebak dan dibohongi oleh Miranti, tentu dia tak akan menyentuh wanita tersebut. Dia berpikir Diana datang dengan keinginan sendiri untuk menjual diri, tapi nyatanya wanita itu hanyalah korban dari kelicikan Miranti.
Revan merasa menjadi pria paling berengsek, karena ini pertama kalinya dia merusak wanita baik-baik hingga meninggal benih yang kini sudah tumbuh menjadi anak yang lucu. Sekarang Revan mengerti, kenapa Diana begitu membenci dirinya. Hidup Diana pasti benar-benar sulit selama ini karena perbuatan bejat nya itu.
Revan menghentikan mobilnya saat tiba di depan rumah Siska, dia bergegas turun dari mobil dan mengayunkan langkahnya menuju pintu lalu mengetuknya dengan gugup dan tak sabar.
Tak lama kemudian Siska membuka pintu dan sedikit kaget saat melihat kedatangan Revan, "Nak Revan?"
"Selamat pagi, Tante," sapa Revan.
"Selamat pagi, Sofia nya ...."
"Hem, aku bukan ingin bertemu Sofia, Tante," potong Revan sebelum Siska selesai bicara, "tapi Diana, dia belum berangkat kerja, kan?"
Siska mendadak tegang, dia tahu hal ini akan terjadi dan dia terpaksa menuruti permintaan Diana.
"Diana sudah enggak tinggal di sini lagi," sahut Siska gugup.
Revan tercengang, "Maksud Tante dia sudah pindah?"
Siska mengangguk, "Iya, kemarin sore Diana dan Dafa pindah ke tempat tinggal mereka yang baru."
"Di mana alamatnya, Tante?"
"Maaf, Nak Revan. Diana melarang Tante mengatakan tempat tinggalnya yang baru kepada Nak Revan."
Revan lagi-lagi terkejut, dia tak menyangka Diana akan melakukan hal ini.
"Tapi, aku ingin ...." Revan tak jadi melanjutkan kata-katanya karena tiba-tiba Sofia datang dan kaget melihat dirinya.
"Mas Revan? Mas ke sini pasti mau minta maaf padaku, kan? Aku tahu Mas enggak bisa lama-lama bertengkar denganku," ujar Sofia penuh percaya diri.
__ADS_1
"Nak Revan ke sini ingin bertemu Diana," jawab Siska yang tak ingin sang putri salah sangka.
Wajah Sofia langsung cemberut dan dia menatap Revan dengan tajam, "Jadi Mas pagi-pagi ke sini mau bertemu dia bukan aku? Yang pacar Mas itu aku, bukan Diana! Ngapain Mas nyariin dia?"
"Sofia tenanglah!" tegur Siska.
"Tante aku mohon katakan di mana tempat tinggal Diana dan Dafa sekarang?" pinta Revan memohon, dia mengabaikan Sofia yang sedang marah, seolah kekasihnya itu tak ada.
Sofia semakin bertambah kesal, dia lantas menarik baju yang Revan kenakan, "Mas! Aku sedang marah dan kamu enggak peduli sama sekali, kamu anggap aku ini apa?"
"Sofi!" Siska menarik tangan Sofia yang menarik-narik baju Revan.
"Aku sedang enggak ingin berdebat denganmu. Aku cuma ingin bertemu Diana," balas Revan sembari menepis tangan Sofia dari bajunya.
"Kalau Mas enggak ingin berdebat dengan ku, seharusnya Mas enggak datang mencarinya ke sini! Sekarang aku yakin kalau kalian memang ada hubungan! Kalian mengkhianati aku!" teriak Sofia marah dan bergegas masuk kembali ke dalam rumah.
Revan tak membalas ucapan Sofia, dia benar-benar tak ingin menanggapi kemarahan kekasihnya itu.
"Sebaiknya Nak Revan pergi dari sini! Biar Tante yang menenangkan Sofia," pinta Siska, dia berharap Revan segera pergi dari rumahnya.
"Sekali lagi Tante minta maaf, Tante enggak bisa mengatakannya." Siska buru-buru masuk.
"Tante, aku mohon katakan di mana Diana tinggal!" Revan memohon, tapi Siska buru-buru menutup pintu rumahnya.
Revan mengusap wajahnya dengan kasar, dia kesal, sedih dan marah. Dia tahu Diana sengaja menghindarinya, karena tak ingin dia mendekati Dafa.
"Aku enggak akan menyerah, aku harus temukan dia dan anakku." Revan pun bergegas meninggalkan kediaman Siska.
Namun baru beberapa meter melaju, ponsel Revan berdering, dia buru-buru menjawab panggilan masuk dari seorang dokter bernama Adam yang tak lain adalah temannya.
"Halo, Dam."
__ADS_1
"Van, kamu bisa ke rumah sakit sekarang?"
"Bisa, aku jalan ke sana."
"Baiklah, aku tunggu."
Revan mengakhiri pembicaraannya dengan Adam, jantungnya seketika berdebar kencang, berharap apa yang dia yakini selama ini memang benar dan sesuai harapan.
"Kita akan buktikan kebenarannya, Diana!" gumam Revan, dia menambah kecepatan mobilnya agar segera tiba di rumah sakit.
Sementara itu di dalam kamarnya, Sofia duduk di atas ranjang sambil menangis tersedu-sedu. Dia marah dan sakit hati melihat sikap cuek Revan padanya, apalagi pria itu lebih memilih Diana daripada dirinya, membuat Sofia semakin membenci sepupunya itu.
"Diana! Diana! Diana terus! Kenapa semua orang selalu lebih memilih pelacur itu daripada aku?" jerit Sofia.
"Dulu Mas Raka lebih memilih Diana, sekarang Mas Revan pun sama. Apa hebatnya dia? Kenapa semua laki-laki tertarik padanya?" ujar Sofia kesal.
Siska membuka pintu kamar Sofia dengan perlahan, dan melangkah masuk ke kamar putrinya itu.
Sofia yang menyadari kehadiran Siska langsung melempar tatapan sinis pada mamanya itu, "Mau apa Mama ke sini? Mau memarahi aku dan membela Diana lagi? Terus aja semua orang berpihak padanya seolah-olah dia itu orang paling baik dan suci di dunia ini!"
"Sofia, Mama enggak pernah memihak siapa pun! Mama selalu berusaha adil terhadap kamu dan Diana," bantah Siska.
"Alah, buktinya Mama sering memarahi ku demi membela dia, padahal jelas-jelas dia bersalah! Itu yang Mama katakan adil?"
"Mama memarahi kamu karena memang kamu yang bersalah, sikap dan ucapan kamu ke Diana itu salah! Apalagi Mama tahu apa yang kamu tuduhkan ke Diana itu enggak benar!"
"Enggak benar Mama bilang? Buktinya udah jelas, sekarang Mas Revan lebih memilih dia daripada aku! Dalam sekejap Diana merusak kebahagiaan aku dan merebut pacar aku, Ma! Aku enggak terima!" sungut Sofia marah.
"Diana enggak pernah merebut siapa pun dari kamu! Suatu saat nanti kamu akan tahu apa alasan Nak Revan mengejar Diana! Mama cuma minta mulai detik ini kamu jauhi Nak Revan, lupakan dia!" kecam Siska dan segera keluar dari kamar putrinya itu.
Sofia menggeleng, "Enggak! Sampai kapanpun aku enggak terima dia merusak kebahagiaan ku! Aku akan merebut apa yang seharusnya menjadi milikku dan membalas mu, Diana!"
__ADS_1
***
Hai, jangan lupa like dan dukungannya.ππΌπ