
Sofia baru saja selesai syuting acara yang dia pandu dan segera meninggalkan lokasi saat Revan mengajaknya ke apartemen pria itu. Sudah banyak yang mengetahui hubungan Sofia dan Revan, bahkan beberapa wartawan pernah membuat artikel gosip tentang mereka.
Sofia melangkah masuk saat Revan membuka pintu apartemen mewah miliknya, ini untuk pertama kalinya wanita itu datang ke sini.
"Wah, apartemennya bagus banget!" puji Sofia dalam hati, dia takjub melihat tempat itu.
"Kamu duduk dulu, biar aku ambilkan minum!" Revan segera ke dapur sambil menyeringai, hari ini dia berniat untuk menikmati tubuh wanita yang baru seminggu ini dia pacari itu.
Sofia menyentuh sofa kulit berwarna coklat susu itu dengan kagum. Matanya masih mengamati ke sekeliling ruangan itu, barang-barang di apartemen Revan semuanya mewah dan bagus, pasti harganya mahal. Dia jadi semakin ngebet ingin menikahi pria mapan itu.
Pandangan mata Sofia berhenti pada sebuah pigura foto yang terpajang di atas meja kecil di samping sofa, dia mengambil pigura itu dan memperhatikan fotonya dengan alis berkerut.
"Foto siapa ini? Kenapa mirip banget dengan Dafa?" gumam Sofia saat matanya menangkap sosok anak laki-laki di dalam foto itu.
"Aku gemas kan waktu kecil?" ujar Revan yang datang dengan dua gelas minuman di tangannya.
Sofia sontak menoleh ke arah pria itu, "Ini Mas Revan?"
"Iya, itu aku saat masih berumur sekitar tiga atau empat tahun gitu," beber Revan.
"Mirip banget dengan Dafa, bahkan gaya rambutnya pun mirip."
Revan mengernyit, "Siapa itu Dafa?"
"Dafa itu anak sepupu aku yang tinggal di rumah, yang kemarin membukakan pintu buat Mas Revan," terang Sofia.
"Oh ya? Umur berapa anaknya?"
"Tiga tahun lebih dikit."
"Waktu itu kamu bilang suaminya enggak ada, maksudnya mereka bercerai? Atau sudah meninggal?" cecar Revan, dia jadi penasaran.
Sofia menggeleng, "Sebenarnya dia enggak pernah menikah, Mas."
"Maksudnya? Lalu bagaimana anak itu bisa ada?" Revan semakin penasaran dan ingin tahu lebih banyak tentang Diana.
"Sekitar empat tahun yang lalu, katanya dia dijebak dan dijual oleh temannya sendiri, dia lalu diperkosa hingga hamil dan melahirkan anak itu. Tapi itu sih katanya, kita kan enggak tahu apa sebenarnya terjadi. Bisa saja kan dia berbohong untuk menutupi kelakuannya yang buruk."
Revan tercengang, mendadak jantungnya berdebar tak karuan mendengar cerita tentang Diana yang keluar dari mulut Sofia.
"Tapi karena kami merasa kasihan pada dia dan anaknya itu, kami izinkan mereka tinggal di rumah. Bahkan Mamaku yang menjaga anaknya saat dia pergi bekerja." Sofia sengaja menceritakan semua itu untuk menarik simpati Revan agar pria itu berpikir dia baik hati.
"Dia kerja di mana?"
__ADS_1
"Di laundry dekat rumahku, Mas," jawab Sofia.
Revan terdiam, apa yang dia dengar ini membuat perasaannya tak enak, dia jadi gelisah dan curiga jika anak Diana itu adalah darah dagingnya.
"Apa jangan-jangan itu anakku?" batin Revan.
"Mas Revan kenapa melamun?" tegur Sofia saat melihat kekasihnya itu termenung.
Revan tersentak dan kembali bertanya tentang Diana, "Hem, tapi waktu itu bukankah dia bersama seorang pria?"
"Itu anak pemilik laundry tempat dia bekerja, tapi enggak jelas hubungan mereka seperti apa." Wajah Sofia langsung masam, seketika dia teringat Raka yang pernah dia taksir namun malah menyukai Diana.
Revan kembali bergeming, dia enggak bisa diam saja. Dia harus mencari tahu dan membuktikan jika anak Diana itu adalah anaknya atau bukan.
"Sudah, ah, Mas! Berhenti bahas dia! Mending kita bahas yang lain, misalnya tentang hubungan kita." Sofia mendekati Revan dan meraba paha pria itu.
Seharusnya Revan senang karena Sofia bersikap agresif seperti ini, tapi karena hatinya gelisah, dia sudah tak bernafsu lagi untuk melanjutkan rencananya meniduri wanita itu. Saat ini dia ingin sekali bertemu anak Diana dan memastikan sendiri seberapa mirip bocah itu dengannya.
Sofia semakin menjadi, dia mendekatkan wajahnya ke wajah Revan lalu tanpa permisi mencium bibir lelaki itu dengan liar. Revan membalas ciuman Sofia, tapi bayangan Diana mendadak muncul dipikiran nya.
Tanpa diduga, Revan melepaskan tautan bibir mereka dan bergerak menjauh. Sofia sedikit kesal, namun dia pura-pura bersikap baik.
"Ada apa, Mas?"
"Apa enggak bisa dibatalkan?"
"Enggak bisa, ini menyangkut pekerjaan."
Sofia semakin kesal, niatnya untuk bersenang-senang dengan Revan dan menjadikan pria itu miliknya harus gagal total.
"Aku antar kamu pulang, yuk!"
"Ya udah, deh!" Sofia beranjak dan berjalan menuju pintu keluar.
Revan menghela napas untuk menetralkan perasaan gelisah yang kini menggelayuti benaknya, dia tak sabar lagi untuk bertemu bocah itu.
***
Revan dan Sofia tiba di rumah, keduanya turun dari mobil. Revan mengedarkan pandangannya mencari bocah yang sangat ingin dia lihat itu.
"Mas enggak masuk dulu?" tanya Sofia.
Revan menoleh ke arah kekasihnya itu, "Boleh, sekalian aku mau numpang ke toilet."
__ADS_1
Ini kesempatan bagus untuk Revan, dia harus bertemu bocah itu.
"Yuk, masuk, Mas!" Sofia menggandeng lengan Revan dan menarik kekasihnya itu masuk.
Sofia mengetuk pintu, tak lama kemudian pintu berwarna coklat tua itu dibuka oleh Siska.
"Eh, ternyata kamu. Mama kirain Diana," ujar Siska.
"Memangnya cuma Diana yang diharapkan pulang ke rumah ini?" sindir Sofia.
"Bukan gitu! Kamu kan biasanya pulang malam, kalau Diana pulang jam segini," terang Siska.
Sofia tak membalas kata-kata siska, dia mengalihkan pembicaraan, "Oh iya, kenalin ini Mas Revan, pacar aku."
"Selamat sore, Tante," sapa Revan ramah, dia menyalami Siska dan mencium punggung tangan wanita itu.
"Selamat sore, mari masuk!"
Revan tersenyum, "Iya, Tante."
Revan dan Sofia pun melangkah masuk, tapi pria berwajah ganteng itu kembali mengedarkan pandangannya, berharap bisa melihat bocah yang katanya mirip dengannya itu.
"Silakan duduk, Nak Revan! Tante buat minum dulu," pinta Siska.
"Enggak usah repot-repot, Tante!" sahut Revan basa-basi.
"Enggak repot sama sekali, kok. Sebentar, ya!" Siska buru-buru ke dapur.
"Mas mau ke toilet, kan? Itu ada di dekat tangga! Aku mau ke kamar sebentar."
Revan mengangguk dan segera melangkah ke arah yang Sofia tunjukan tadi, dia masih tetap celingukan tapi anak Diana itu tak terlihat.
"Di mana anak itu?" batin Revan penasaran.
Karena tak juga melihat sosok Dafa, Revan pun masuk ke kamar mandi untuk sekedar mencuci tangan, lalu keluar lagi.
Namun di saat bersamaan, Dafa menuruni anak tangga sambil berteriak, "Oma, Bunda sudah pulang belum?"
Revan sontak menoleh menatap bocah laki-laki yang melintas di hadapannya itu, dia mengamati wajah bocah tersebut dengan saksama.
"Benar, dia mirip sekali dengan aku sewaktu kecil," ucap Revan dalam hati, jantungnya langsung berdebar tak karuan bahkan dia sampai gemetar karena syok.
***
__ADS_1