
Dafa langsung mencoba mainan baru pemberian Raka, dia sibuk menekan-nekan piano kecil itu hingga menghasilkan suara yang tak karuan.
Sofia yang kesal ingin sekali protes, tapi dia harus menjaga sikap di depan Revan dan Raka.
"Aku pulang, ya?" Revan berbisik di telinga Sofia, dia mulai merasa tak nyaman di tempat itu. Apalagi sejak tadi Diana dan Dafa sama sekali tak menganggapnya ada, mereka hanya berinteraksi dengan Raka saja.
"Kok cepat banget, sih? Sebentar lagi, dong! Aku masih kangen," rengek Sofia lalu menyandarkan kepalanya di pundak Revan.
Diana dan Raka sempat melirik dua insan yang sejak tadi menempel kayak perangko dan amplop itu, tapi langsung mengalihkan pandangan mereka ke Dafa.
"Om, ajarin aku main ini!" Dafa menyodorkan piano itu ke Raka.
"Sini Om ajarin!" Raka mengambil alih piano itu dan Dafa langsung naik ke pangkuannya.
Lagi-lagi Revan merasa kesal melihat Dafa sangat akrab dengan Raka.
Jari Raka mulai menekan tuts-tuts pada piano mainan itu dan mulai bersenandung, "Satu-satu, aku sayang ibu. Dua-dua, juga sayang ayah."
"Ibu itu apa, Om?" potong Dafa sebelum Raka sempat melanjutkan nyanyiannya.
"Ibu itu ya Bunda, sayang," sela Siska yang datang dan membawa nampan berisi camilan serta minuman.
"Kalau ayah?" tanya Dafa lagi, dia memang belum tahu dan mengenal panggilan itu.
"Ayah itu juga orang tua kita, kalau yang perempuan dipanggil bunda dan yang laki-laki baru dipanggil ayah. Jadi orang tua kita ada dua," terang Raka, sementara Diana tak mau banyak bicara.
"Tapi aku cuma punya Bunda, aku enggak punya ayah," keluh Dafa sedih.
Semua orang tertegun mendengar keluhan balita laki-laki itu, Diana dan Revan bahkan langsung saling pandang, tapi dengan cepat Diana memalingkan wajahnya.
Raka memeluk Dafa, "Kamu jangan sedih gitu, dong! Suatu saat nanti kamu pasti punya ayah."
Dafa langsung memutar kepalanya menatap Raka, "Kalau gitu Om mau enggak jadi ayah aku?"
Semua orang langsung terdiam dan suasana mendadak canggung. Raka pun sontak gugup mendengar permintaan balita laki-laki itu, dia langsung melirik Diana yang juga sedang menatapnya.
"Om mau, kan?" tanya Dafa lagi.
Raka pun akhirnya mengangguk dan tersenyum kikuk.
"Yeee, aku punya ayah!" Dafa berteriak kegirangan.
__ADS_1
"Sayang, jangan teriak-teriak! Ini sudah malam." Diana yang wajahnya berubah merah, menegur putranya itu.
Sofia menatap sinis Diana dan Raka, sejak tadi dia sudah muak dengan ocehan Dafa, tapi dia berusaha sabar agar bisa terus memamerkan kemesraannya dan Revan di depan dua orang itu.
Sementara Revan yang sedari tadi sudah kesal dan naik darah akhirnya beranjak dari duduknya, membuat Sofia dan semua orang kaget bercampur bingung.
"Mas mau ke mana?" tanya Sofia.
"Tante, aku permisi dulu, selamat malam!" Revan bergegas pergi setelah berpamitan dengan Siska, dia bahkan tak pamit pada Sofia atau sekedar menegur Raka dan Diana.
"Mas!" Sofia buru-buru mengejar Revan.
Diana, Siska dan Raka kebingungan memandangi kepergian sepasang kekasih yang dari tadi hanya membisu itu.
Di luar rumah, Sofia menahan Revan sebelum pria itu masuk ke dalam mobilnya, "Mas kenapa tiba-tiba pulang?"
"Aku lelah dan ingin istirahat!" dalih Revan dan bergegas masuk ke dalam mobilnya dan segera melesat pergi.
"Mas!" pekik Sofia, tapi mobil Revan tetap bergerak meninggalkan rumahnya.
Diperjalanan, Revan mencengkeram erat stir mobil sampai jari-jari tangannya memutih. Dia tak rela darah dagingnya memanggil pria lain ayah, sementara menganggap dirinya orang jahat. Dia kesal dan marah pada Diana yang sudah menghasut Dafa agar membenci dirinya.
"Berengsek!" Revan memukul stir mobilnya.
***
"Terima kasih, ya, Mas," ucap Diana, dia masih canggung karena kejadian tadi.
"Sama-sama," sahut Raka yang juga kikuk.
Sesaat suasana hening, Diana dan Raka bergeming dengan pikirannya masing-masing.
"Hem, Diana!" Raka akhir buka suara untuk memecah keheningan.
"Iya, Mas."
"Untuk yang tadi itu, aku serius. Aku bersedia jadi ayah untuk Dafa."
Diana kembali terdiam, dia bingung harus menjawab apa. Ini sungguh di luar dugaannya, dia tak menyangka Raka akan mengatakan hal itu sekarang, walaupun dia sudah tahu perasaan pria itu.
"Aku mencintaimu, Diana. Menikahlah denganku!" lanjut Raka to the point.
__ADS_1
"Mas, aku punya masa lalu yang enggak baik. Aku takut itu akan membuat Mas dan keluarga malu nantinya."
"Di, aku enggak peduli seburuk apa pun masa lalu mu! Di mataku, kamu itu wanita yang baik dan aku mencintaimu. Itu saja udah cukup meyakinkan aku untuk menjadikan kamu pendamping hidupku. Kita akan merawat Dafa bersama dan aku janji akan menjadi ayah yang baik untuknya."
"Mas bisa bicara seperti ini karena Mas belum tahu seperti apa masa laluku itu, kalau Mas tahu, aku yakin Mas pasti akan mengurungkan niat dan menjauhi kami."
"Kalau begitu cerita kan padaku masa lalu mu itu dan kita buktikan apakah aku akan mundur atau tetap pada niatku," pinta Raka.
Diana menggeleng, "Maaf, Mas. Aku enggak bisa, aku belum siap untuk cerita karena itu aib terbesar dalam hidupku."
Diana tak ingin Raka tahu jika selama ini dia berbohong tentang suaminya yang telah tiada.
Raka mengembuskan napas pasrah, "Baiklah, kalau begitu aku akan menunggu sampai kamu siap untuk cerita. Kalau begitu aku permisi dulu, selama malam."
"Selamat malam, Mas," balas Diana.
Raka pun melangkah dengan sedikit kecewa, dia masuk ke dalam mobil dan segera meninggalkan kediaman Siska.
Diana memandangi kepergian Raka dengan wajah sendu, dia sungguh enggak berani menerima cinta pemuda itu.
"Uluh-uluh, yang barusan di lamar," ledek Sofia tiba-tiba.
Diana sontak berbalik menatap sepupunya, "Kau menguping?"
Sofia tersenyum, rupanya dari tadi dia menguping pembicaraan Diana dan Raka.
"Kalau aku jadi kau, aku akan menerima lamarannya itu. Kapan lagi ada pria lajang yang mau dengan janda beranak satu sepertimu. Ups, aku lupa kalau kau itu enggak pernah menikah! Jadi bukan janda, dong! Tapi wanita yang hamil tanpa suami," ejek Sofia.
Diana mengepalkan tangannya menahan geram atas ucapan Sofia itu, tapi dia sadar apa yang dikatakan sepupunya itu memang benar. Dia hamil tanpa suami.
"Sebaiknya kau cepat menikah agar tidak menjadi beban mamaku terus, dan aku bisa tenang bersama Mas Revan, karena enggak ada penggoda lagi," sindir Sofia.
"Apa maksudmu? Siapa yang kau sebut penggoda?" cecar Diana.
"Kau masih bertanya? Memang kau enggak sadar?"
"Aku enggak pernah menggoda dia! Tapi justru dia yang terus-menerus mengganggu ku!" beber Diana.
Sofia tertawa, "Kau pikir aku percaya?"
"Terserah kau mau percaya atau enggak!" Diana berlalu dari hadapan Sofia dengan perasaan jengkel dan marah.
__ADS_1
"Dasar pelacur murahan!" gumam Sofia.
***