Diana (Gadis Yang Ternoda)

Diana (Gadis Yang Ternoda)
Episode 20.


__ADS_3

Dengan penuh kasih sayang Diana mengelus rambut Dafa yang kembali tertidur, dia melamun menatap wajah damai sang putra, tapi tiba-tiba bayangan Revan melintas di pikirannya. Diana sontak tersadar dan berusaha mengalihkan pikirannya ke hal lain.


Pintu kamarnya dibuka, Siska muncul sambil membawa sepiring nasi beserta lauknya dan segelas jus jeruk.


"Dafa tidur lagi?" tanya Siska sembari berjalan mendekati Diana yang duduk di tepi ranjang.


"Iya, Tante. Dia baru saja tertidur," jawab Diana.


"Kalau begitu sekarang kamu makan dulu, dari pagi kamu kan belum makan apa-apa. Nanti kamu bisa sakit." Siska memberikan piring dan gelas yang dia bawa.


"Terima kasih, Tante. Maaf aku sudah merepotkan." Diana menerima nasi dan jus jeruk itu.


"Enggak merepotkan sama sekali, kok," balas Siska.


Diana makan dengan perlahan, dia memang sangat lapar, tapi rasa khawatirnya terhadap Dafa mengalahkan semua itu.


"Tante lihat Nak Revan begitu peduli dan mengkhawatirkan Dafa tadi." Siska buka suara.


Diana tertegun dan berhenti mengunyah saat tantenya itu menyebut nama Revan.


"Dia bahkan meninggalkan Sofia dan pekerjaannya, terus sampai bela-belain membawa Dafa ke rumah sakit dengan berlari seperti tadi," lanjut Siska.


"Dia cuma lagi berusaha cari simpati aja, Tante," sahut Diana dan kembali mengunyah makanan di mulutnya.


"Tante rasa itu bukan sekedar untuk cari simpati, Di. Itu bukti kasih sayang seorang ayah kepada anaknya, dia benar-benar menyayangi Dafa."


"Dia enggak mungkin menyayangi anak yang bahkan enggak dia harapkan!" bantah Diana.


"Lalu kamu? Apa kamu mengharapkan kehadiran Dafa?"


Diana kembali tertegun mendengar pertanyaan Siska itu.


"Kamu juga enggak pernah mengharapkan kehadirannya bukan? Tapi kamu sangat menyayangi dia. Lalu kenapa kamu enggak percaya kalau Revan juga begitu?"


"Beda, Tante! Walaupun aku enggak pernah mengharapkan kehadiran Dafa, tapi aku yang mengandung dan melahirkan dia. Aku yang mengurusnya sejak bayi! Sedangkan laki-laki berengsek itu baru tahu sekarang, pasti sebentar lagi Dafa akan diabaikan," ujar Diana dengan wajah masam.


"Kalau Tante lihat-lihat, sepertinya Revan enggak seperti itu!"


"Tante kan belum mengenal dia seperti apa!"


"Kalau dari sikapnya saat ini, Tante yakin dia benar-benar menyayangi Dafa dan enggak akan mengabaikan darah dagingnya."


Diana tak membalas kata-kata Siska, dia heran kenapa Siska begitu yakin kalau Revan menyayangi Dafa.

__ADS_1


Melihat keponakannya itu diam, Siska jadi merasa tak enak, "Tante minta maaf, Tante enggak bermaksud untuk membela apalagi memihak Nak Revan. Tante juga kesal atas semua yang dia lakukan padamu, tapi Tante memikirkan nasib Dafa. Tante berharap Dafa bisa bahagia jika mengetahui siapa ayahnya."


"Dafa pasti bahagia walaupun tanpa ayahnya, Tante. Aku bersumpah akan melakukan apa pun untuk membuat anakku bahagia!" Diana masih bersikeras menolak Revan.


Siska mengembuskan napas melihat keegoisan dan sikap keras kepala Diana itu, kali ini dia lebih memilih mengalah.


Diana menyantap makan siangnya dengan tidak selera, pembicaraan tentang Revan benar-benar membuat moodnya semakin hancur hari ini.


Brak.


Diana serta Siska terkejut dan langsung menoleh saat pintu kamar itu dibuka dengan kasar, Dafa bahkan sampai terbangun karena saking kerasnya suara pintu tersebut menghantam dinding.


"Sofia?" Siska heran.


Sementara Diana hanya bergeming sambil berusaha menenangkan Dafa yang merengek sebab tidurnya terganggu.


"Puas kau sekarang? Kau sudah berhasil menarik perhatian Revan, sampai-sampai dia lebih mementingkan anakmu daripada aku! Dan gara-gara kalian, kami jadi bertengkar!" tuding Sofia sembari melangkah mendekati ranjang.


"Aku enggak pernah menarik perhatiannya, dia yang terus saja mendekati anakku," bantah Diana.


"Alah! Jangan sok suci! Kau pasti sengaja ingin menarik perhatian Revan dan mencari simpatinya melalui anakmu ini, kau ingin merebut dia dariku. Iya, kan?" tuduh Sofia.


"Sofi!" tegur Siska.


"Itu enggak benar! Sedikitpun aku enggak pernah berniat untuk merebut dia dari mu, aku juga enggak suka dia mendekati anakku!" sanggah Diana tak terima.


"Sofi, tenanglah dulu! Jangan marah-marah seperti ini! Kasihan Dafa masih sakit, dia jadi ketakutan," ujar Siska yang cemas melihat Dafa memeluk Diana sambil menangis.


"Aku enggak peduli! Bahkan kalau anak haram ini mati sekalipun, aku juga enggak akan peduli!" teriak Sofia.


Plak.


Siska spontan menampar pipi Sofia dengan penuh kemarahan.


"Mama!" Sofia meraba pipinya yang perih sembari menatap Siska dengan mata berkaca-kaca.


Siska menatap tajam putrinya itu, "Sudah berapa kali Mama peringatkan untuk menjaga ucapan mu! Tapi kau masih saja enggak bisa berubah!"


"Mama masih saja membela dia dan anaknya, padahal jelas-jelas saat ini dia ingin merebut kekasihku, dia ingin merusak kebahagiaan ku, Ma!"


"Kau salah paham! Justru Revan yang terus saja mendekati Diana dan Dafa karena ...."


"Tante, cukup!" potong Diana sebelum Siska membeberkan siapa sebenarnya Revan.

__ADS_1


Siska menatap Diana dengan bingung, dia ingin sekali membongkar semuanya agar Sofia berhenti menuduh keponakannya itu.


Diana lalu mengalihkan pandangannya ke Sofia, "Aku minta maaf jika aku dan anakku menjadi penyebab kalian bertengkar, tapi demi Tuhan aku enggak melakukan apa yang kau tuduhkan. Kau itu adikku, dan aku menyayangimu. Jadi mana mungkin aku merusak kebahagiaan adikku sendiri."


Sofia tersenyum sinis, "Kau pura-pura baik! Kalau memang kau menyayangi aku dan enggak ingin merusak kebahagiaan ku, sekarang juga angkat kaki dari rumah ini! Jangan muncul lagi di hadapan Revan!"


"Sofia! Kau benar-benar keterlaluan! Ini rumah Mama, jadi kau enggak bisa mengusir Diana dari sini seenaknya!" bentak Siska.


"Kalau begitu sekarang Mama pilih, dia atau aku yang angkat kaki dari rumah ini!"


"Sofia! apa-apaan kau ini?" protes Siska.


"Aku yang akan pergi dari rumah ini! Sore ini juga kami akan pindah," sahut Diana tegas.


Siska langsung menatap Diana dengan wajah panik bercampur cemas, "Diana! Kamu jangan main-main, Nak!"


"Enggak apa-apa, Tante. Aku sudah dapat tempat tinggal, kok!" ujar Diana sambil memaksakan senyuman.


"Baguslah kalau begitu! Dan awas kalau kau masih berusaha mendekati Revan!" kecam Sofia dan bergegas keluar dari kamar Diana.


"Anak ini benar-benar keterlaluan!" Siska ingin mengejar Sofia, tapi Diana menahannya.


"Sudahlah, Tante! Biarkan saja dia!"


Siska lantas kembali menatap Diana, "Di, kamu benar-benar ingin pindah hari ini?"


Diana mengangguk, "Iya, Tante. Bu Eliana mengizinkan kami tinggal di lantai atas rukonya secara gratis, dan dia juga mengizinkan aku menjaga Dafa sekalian bekerja."


"Tapi ini terlalu cepat, Diana! Tante belum siap pisah dari kalian, Tante pasti kesepian nanti." Siska tertunduk sedih.


"Kita masih tinggal berdekatan, Tante. Jadi kapan aja Tante bisa datang mengunjungi kami."


Siska mengangguk, kemudian mengusap kepala Dafa yang masih memeluk Diana, "Kasihan kamu, sayang. Pasti kamu ketakutan banget!"


Diana bergeming, dia hanya mengelap sudut matanya yang basah, sejujurnya dia sedih dan terluka karena buah hatinya ikut dihina.


"Kenapa tadi kamu enggak biarkan aja Sofia tahu semuanya?"


"Aku enggak ingin melukai hatinya, Tan. Biarlah kami pergi, yang penting Sofia bisa bahagia," jawab Diana.


"Tapi ini enggak adil, Diana! Kamu egois kalau begini! Dafa lebih butuh Revan dari pada Sofia!"


"Sudahlah, Tante! Keputusan aku sudah bulat, jadi tolong hargai!"

__ADS_1


Siska hanya menghela napas.


***


__ADS_2