Diana (Gadis Yang Ternoda)

Diana (Gadis Yang Ternoda)
Episode 28.


__ADS_3

Diana langsung menatap Revan dengan panik.


"Suara siapa itu, Di?"


"Hem, su-suara? Suara apa, Bu?" Diana mendadak gugup dan takut, dia memelototi Revan sembari meletakkan jari telunjuknya di depan bibir, agar pria itu diam dan tak bersuara lagi.


Revan pun tertawa mengejek.


"Barusan Ibu mendengar suara pria, apa kamu sedang bersama seseorang?"


"Enggak, aku cuma berdua dengan Dafa saja, dan aku juga enggak mendengar suara apa pun," kilah Diana bohong.


"Tapi tadi suaranya jelas banget."


"Mungkin Ibu salah dengar, soalnya dari tadi aku enggak mendengar apa pun," bantah Diana.


"Masa, sih? Tapi Ibu yakin mendengarnya!"


Diana menelan ludah, dia benar-benar tegang dan takut, dia berharap Eliana percaya padanya.


"Ya sudah, deh. Mungkin karena sudah mengantuk, Ibu jadi berhalusinasi. Kalau begitu Ibu tutup dulu, Ibu mau coba hubungi Raka lagi."


"I-iya, Bu."


Eliana menutup teleponnya. Diana mengembuskan napas lega karena calon mertuanya itu percaya, dia lalu berjalan mendekati Revan seraya menatap pria itu dengan kesal.


"Sekarang juga kau pergi dari sini! Jangan membuat aku terkena masalah!" kecam Diana yang berdiri di hadapan Revan.


"Kau tega membiarkan aku pulang dalam keadaan seperti ini? Bagaimana kalau aku kenapa-kenapa?"


"Aku enggak peduli! Sudah sana pergi!"

__ADS_1


"Kalau begitu bantu aku berdiri!" Revan mengulurkan tangannya.


"Kau berdiri aja sendiri!" Diana melipat kedua tangannya di depan dada.


"Aku pusing dan tubuhku lemas sekali, aku enggak bisa berdiri sendiri," tutur Revan pura-pura tak berdaya.


Diana memutar bola matanya dengan malas sambil mengembuskan napas kesal, dia pun mengulurkan tangannya dan meraih tangan Revan lalu menarik pria itu agar berdiri dan segera pergi.


Revan bangkit dengan perlahan dengan berpegang pada tangan Diana, namun begitu dia tegak dan berhadapan dengan Diana, dengan cepat dia menarik wanita itu kemudian memeluknya.


Diana sontak meronta-ronta dan mendorong tubuh Revan, "Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!"


"Bunda!" Dafa kembali ketakutan melihat sang bunda meronta-ronta seperti itu.


Revan menatap Dafa dan tersenyum, "Sebentar, ya, sayang. Ayah pinjam Bunda dulu!"


Dafa hanya bergeming dengan raut ketakutan dan bingung.


"Aku enggak akan melepaskan mu sebelum kau berjanji untuk membatalkan lamaran itu!"


"Enggak! Aku enggak akan membatalkannya!" bantah Diana.


"Kalau begitu aku akan memelukmu seperti ini sampai pagi, biar dia dan ibunya melihat kita lalu membatalkan lamaran itu," ancam Revan.


"Kau ini benar-benar sudah gila! Lepaskan aku atau aku akan teriak dan kau akan dipukuli warga!" Diana balik mengancam.


"Coba saja! Itu justru lebih baik, biar kita dipergoki oleh warga lalu dinikahkan sekarang juga," balas Revan enteng.


"Kalau kau ingin sekali menikah, nikahi aja Sofia! Jangan aku!"


"Aku enggak mencintai Sofia, buat apa menikah dengannya? Lagian kami sudah putus."

__ADS_1


Diana terkesiap, dia baru tahu kalau revan tidak mencintai Sofia dan mereka sudah putus, tapi dia tak mau peduli dan kembali berontak, "Kalau begitu buat apa kau menikahi aku? Kau juga enggak mencintai aku!"


"Karena ada Dafa, dan sepertinya aku juga mulai menyukaimu." Revan semakin mengeratkan pelukannya hingga tubuh bagian depan mereka menempel sempurna.


Diana tertegun sebab jarak wajah mereka sangat dekat, dia bahkan bisa merasakan hembusan napas Revan yang hangat.


"Ukuran dada mu bertambah, ya? Sekarang jauh lebih besar dari empat tahun yang lalu," goda Revan.


Diana tersentak, wajahnya seketika merah. Dia benar-benar kesal dengan kelakuan Revan, dia kembali berusaha melepaskan diri tapi tenaganya kalah kuat.


"Lepaskan aku, sialan!" Diana mencoba mendorong serta memukuli Revan, dan tanpa sengaja tangannya mengenai luka di pelipis pria itu.


"Ah, sakit sekali!" Revan langsung berteriak kesakitan dan melepaskan pelukannya.


Diana pun mundur menjauhi Revan lalu memeluk Dafa, "Rasakan itu! Makanya jadi orang jangan kurang ajar!"


"Kau ini kasar sekali, ah!" Revan berusaha menahan rasa sakit berdenyut-denyut di kepalanya.


"Syukurin!" ejek Diana, sebenarnya dia merasa iba dan bersalah, tapi dia tak mau menunjukkannya sehingga membuat Revan besar kepala.


Ponsel Revan berdering, dia bergegas mengeluarkan benda pipih itu dari dalam saku celananya, namun begitu melihat ID si penelepon, Revan langsung mereject nya.


Diana heran kenapa Revan tak mau menjawabnya, tapi dia malas ikut campur.


"Sekarang juga pergi dari sini!" Diana lagi-lagi mengusir Revan, dia berjalan mendekati pintu lalu membukanya.


Tapi betapa terkejutnya Diana saat melihat sosok Sofia sudah berdiri di depan pintu yang terbuka itu sambil memegang ponsel dan menatap dirinya dengan penuh kebencian.


"Sofia?" gumam Diana dengan wajah tegang bercampur kaget.


Begitu juga dengan Revan, dia pun terkejut melihat mantan kekasihnya itu. Padahal baru saja dia mereject telepon Sofia, ternyata wanita itu ada di sini.

__ADS_1


***


__ADS_2