
Acara jumpa pers sudah selesai dan para wartawan sudah meninggalkan kafe tersebut, namun Diana, Revan, Siska dan Raka masih berada di sana.
"Terima kasih, ya, Mas," ucap Diana pada Raka.
Revan yang cemburu hanya mengawasi keduanya dengan wajah masam.
"Iya, sama-sama," sahut Raka sembari tersenyum, dia berusaha tegar walaupun hatinya sedang tidak baik-baik saja.
"Tapi kenapa Mas Raka mau membantu kami?"
"Karena memang seharusnya itu yang aku lakukan, aku enggak ingin kamu sedih dan terluka lagi karena apa pun," jawab Raka sembari melirik Revan yang menatapnya dengan tajam.
"Sekali lagi terima kasih, Mas."
Raka hanya tersenyum dan mengangguk. Walaupun hatinya terluka dan sakit karena apa yang terjadi, namun dia tak membenci Diana. Dia tetap menyayangi Diana, dan tak ingin menyakiti wanita itu.
"Tapi bagaimana Nak Raka bisa datang bersama Sofia?" tanya Siska penasaran.
"Tadi pagi Sofia menghubungiku dan mengatakan jika Revan dan Diana akan mengadakan jumpa pers untuk klarifikasi, dia mengajakku bersekongkol untuk mengacaukan semuanya. Aku tentu saja menolak, tapi Sofia memaksa. Setelah aku pikir-pikir mungkin ada baiknya aku ikut untuk menggagalkan rencana Sofia," terang Raka.
"Tante sendiri kenapa bisa ke sini?" Diana juga bertanya sebab bingung melihat kemunculan sang Tante.
Siska dan Revan saling pandang, namun kemudian Revan mengangguk.
"Hem, tadi saat kau masih bersiap-siap di kamar , Tante Siska meneleponku dan mengatakan jika Sofia datang ke rumahnya sambil marah-marah karena tahu kita menikah. Sofia juga tahu kita akan mengadakan jumpa pers. Jadi Tante minta kita agar waspada, sebab takut Sofia membuat masalah. Dan aku ...." Revan mengjeda penjelasannya dan menatap Diana dengan sedikit ragu.
"Dan apa?" desak Diana yang tak sabar.
Siska dan Raka juga menunggu produser ganteng itu melanjutkan kata-katanya.
__ADS_1
"Dan aku menceritakan kepada Tante Siska bahwa sebenarnya Sofia lah dalang dari kejadian penembakan waktu itu, dia yang menyewa orang-orang tersebut untuk menculik Dafa," lanjut Revan.
Diana terkesiap mendengar pengakuan Revan, begitu juga dengan Raka. Mereka tak menyangka Sofia akan sejahat itu.
"Dari mana kau tahu jika Sofia dalangnya?" cecar Raka penasaran.
"Aku menyewa detektif untuk menyelidiki kejadian itu, dan tadi pagi aku mendapatkan informasi jika Sofia lah pelakunya," jawab Revan.
"Tapi kenapa kau enggak memberitahukan hal itu padaku?" Diana bertanya.
"Aku bermaksud mengatakannya kepadamu usai jumpa pers, aku enggak ingin kau sedih dan murung selama acara. Aku ingin kita terlihat bahagia," dalih Revan sembari menggenggam tangan Diana.
Raka melirik tangan Revan dengan sedih, tak mudah baginya untuk merelakan wanita yang dia cintai menjadi milik orang lain, tapi dia harus memaksa dirinya untuk ikhlas.
"Hem, jadi apa yang akan kalian lakukan sekarang? Apa kalian akan melaporkan Sofia ke polisi?" cecar Raka, dia mengalihkan pembicaraan demi menutupi perasaannya, agar seolah-olah dia baik-baik saja.
Revan menatap Siska, "Aku sih ingin melaporkan dia ke polisi, tapi aku enggak bisa melakukannya."
Diana menggeleng, "Enggak usah! Jangan laporkan Sofia ke polisi! Aku mengerti kenapa Sofia melakukan semua itu, dia pasti sangat terluka dan sakit hati. Sebaiknya kita bicara baik-baik padanya, siapa tahu dia bisa menyadari kesalahannya dan berubah."
Revan sontak menatap Diana dengan alis mengerut, "Kau enggak marah atau sakit hati padanya?"
Diana kembali menggelengkan kepalanya, "Aku marah dan sakit hati pada perbuatannya, tapi biar bagaimanapun juga dia itu adikku, dan aku menyayanginya. Aku juga merasa sedih jika dia terluka dan sakit."
"Kau memang benar-benar baik hati!" Revan terpukau melihat kebaikan hati Diana, sekarang dia sadar jika dia tak salah memilih pendamping hidup.
Diana hanya tersenyum tanpa membalas pujian suaminya itu.
"Kalau begitu Tante minta maaf atas nama Sofia, tolong maafkan semua yang sudah dia lakukan pada kalian!" ucap Siska dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
Diana sontak menggenggam tangan tantenya itu, "Tante enggak perlu minta maaf! Lagipula aku sudah memaafkan Sofia, kok!"
"Terima kasih, ya, Di." Siska langsung memeluk Diana.
"Sama-sama, Tante." Diana membalas pelukan wanita yang sudah dia anggap seperti ibu sendiri itu.
Revan dan Raka hanya memandangi kedua wanita berbeda generasi itu dengan senyum mengembang.
***
Begitu tiba dia kamar hotel tempat dia menginap beberapa hari ini, Sofia langsung melemparkan barang-barang ke lantai hingga berserakan dimana-mana. Dia berteriak dan menangis untuk meluapkan emosi dan rasa sakitnya atas apa yang terjadi. Hidupnya seolah begitu malang, dan benar-benar berada di titik nadir.
Semua orang menghujat dan mencaci maki dirinya, bahkan kini akun media sosialnya dipenuhi komentar buruk yang menyudutkan dirinya, seolah-olah dia manusia paling jahat di muka bumi ini, dan semua itu karena perbuatannya terhadap Diana. Sofia benar-benar tak tahan dengan semua itu.
"Aaaaaahh!" Sofia berteriak histeris, lalu melempar cermin di kamarnya dengan botol minyak wangi hingga pecah berkeping-keping.
"Aku benci kalian semua! Aku benci!" jerit Sofia lagi, kemudian terduduk di lantai dan menangis sejadi-jadinya.
Semua harapan dan impiannya sirna berganti dengan rasa sakit, dia merasa hidup ini tak adil dan takdir hanya mempermainkan dirinya. Tak ada lagi yang dia miliki di muka bumi ini, dia telah kehilangan harta, karir, nama baik bahkan orang-orang yang dia cintai. Hidupnya benar-benar hancur tak bersisa. Saat ini dia benar-benar malu untuk keluar, dia tak punya muka lagi untuk bertemu siapa pun.
Sofia lantas mengalihkan pandangan ke jendela besar di kamarnya, pikirannya yang kacau membuatnya gelap mata. Tanpa pikir panjang dia bangkit dan berjalan menuju jendela besar itu lalu membukanya. Angin langsung berhembus menerpa tubuh Sofia, membuat rasa sakit itu kian terasa.
"Lebih baik aku mati, enggak ada gunanya lagi aku hidup di dunia ini," ucap Sofia dengan suara bergetar dan air mata yang mengalir deras di pipinya.
Dia naik ke atas pembatas jendela sambil menangis terisak-isak, mungkin dengan memilih jalan pintas ini, segala rasa sakit dan penderitaannya akan berakhir. Setidaknya dia tak lagi mendengar hujatan-hujatan yang begitu menusuk relung hatinya, dan dia juga tak perlu menyaksikan kebahagiaan Revan dan Diana.
"Selamat tinggal, Mama," ucap Sofia, dia lalu memejamkan mata dan melompat dari jendela kamarnya yang berada di lantai lima hotel tersebut.
Tubuh Sofia mendarat keras di parkiran hotel, kepalanya pecah dan berdarah. Dalam hitungan menit tubuh tak berdaya itu dikerumuni oleh orang-orang yang berada di sekitar lokasi kejadian.
__ADS_1
***