
Beberapa bulan kemudian,
Diana sedang mengajari Dafa mewarnai, bocah gemas itu sudah mulai belajar di paud. Diana juga sudah tak lagi bekerja di laundry setelah menikah dengan Revan, dia hanya ingin menjadi ibu rumah tangga yang baik.
Tiba-tiba pintu terbuka, Revan pulang dengan wajah sumringah, "Selamat sore."
"Selamat sore." Diana menoleh, "Eh, sudah pulang rupanya!"
"Yee, ayah sudah pulang!" seru Dafa girang, dia bergegas bangkit dan berlari memeluk Revan.
"Hai, jagoan ayah! Kamu lagi apa?" Revan mencubit gemas pipi putranya itu.
"Aku lagi mewarnai dibantuin Bunda. Ayah mau lihat? Bagus, loh!" sahut Dafa.
"Mana, coba Ayah lihat!" Revan menggandeng tangan Dafa dan berjalan mendekati Diana yang duduk di ruang tamu.
"Ini ayah!" Dafa menunjuk hasil kerjanya dengan bangga.
"Wah, bagus banget! Jagoan ayah pintar!" puji Revan.
Dafa tersipu malu mendapatkan pujian dari sang ayah.
"Sekarang kamu lanjutin sendiri, Bunda mau buatkan teh untuk ayah dulu." Diana bangkit dari duduknya dan hendak pergi ke dapur, tapi Revan buru-buru menarik tangannya.
"Tunggu dulu!"
Diana menatap ke arah suaminya itu, "Ada apa?"
"Kamu sudah lihat berita penangkapan seorang mucikari di Pesona Hotel?" tanya Revan.
Diana menggeleng, "Belum, seharian ini aku enggak ada melihat berita. Memangnya kenapa?"
"Kalau begitu duduk dulu!" perintah Revan sembari menarik Diana untuk duduk di sampingnya.
"Ada apa, sih? Aku jadi penasaran!"
"Mucikari yang ditangkap itu adalah Miranti," ungkap Revan.
Diana terkesiap,"Serius? Jadi Miranti ditangkap polisi?"
Revan mengangguk, "Dia tertangkap basah sedang melakukan negosiasi dengan salah satu pelanggan di hotel itu."
Revan tak mau mengatakan kepada Diana jika dia lah orang yang menjebak Miranti dengan bantuan asisten dan sahabatnya.
"Syukurlah kalau begitu! Akhirnya dia terkena karma juga!" ucap Diana lega, walaupun dia dan Revan sudah berdamai, tapi dia tetap sakit hati terhadap Miranti.
"Iya. Tapi sebenarnya aku berterima kasih pada dia, karena dia telah mempertemukan kita." Revan berbicara sambil mengerlingkan matanya.
Diana sontak memukul paha suaminya itu, "Bukan dia yang mempertemukan kita, tapi takdir. Sayang caranya salah, andai kita bertemu dengan cara yang baik-baik."
__ADS_1
"Pasti beda lagi ceritanya! Aku enggak akan berjuang dan merasakan sebuah pengorbanan yang besar jika hubungan kita diawali dengan baik-baik aja. Justru dari apa yang terjadi dengan kita di masa lalu, aku mendapatkan banyak pelajaran hidup dan takut kehilangan kalian." Revan merangkul pundak Diana dan menarik sang istri ke dalam pelukannya.
Diana tak menjawab, dia tengah terlena menghirup aroma maskulin di tubuh Revan, aroma yang belakangan ini selalu dia rindukan.
"Aku sangat mencintaimu, Diana."
Diana sontak mendongak menatap Revan saat mendengar kalimat yang keluar dari mulut suaminya itu. Tanpa basa-basi Revan langsung mencium bibir Diana dengan mesra.
Diana dengan cepat mendorong dada Revan hingga tautan bibir mereka terlepas.
"Kenapa?" tanya Revan bingung.
Diana melirik Dafa yang sedang asyik mewarnai di depan mereka, dia takut kalau putranya itu melihat kemesraan mereka yang terlalu vulgar untuk ukuran balita.
"Kalau begitu kita lanjut di kamar aja!" bisik Revan di telinga Diana.
Mata Diana sontak melotot mendengar usul suaminya itu.
"Ayolah! Sejak tadi aku sangat merindukanmu!" rengek Revan yang selalu berusaha merayu Diana agar mau bercinta dengannya.
"Enggak, ah! Mandi dulu sana!"
"Iya, setelah itu baru mandi!"
Diana menggeleng, "Enggak! Aku enggak mau! Lagipula ada Dafa, entar dia pasti gangguin kita. Jadi tunggu Dafa tidur aja, ya?"
Revan seketika cemberut, dia merajuk seperti anak kecil yang minta dibelikan permen, dan Diana hanya tertawa geli melihat wajah masam suaminya itu.
Saat ini mereka tinggal di apartemen Revan, dan memulai usaha kafe kecil-kecilan karena Revan memutuskan untuk pensiun menjadi produser. Dia tak mau lagi berurusan dengan dunia hiburan yang sempat membesarkan namanya.
Tiba-tiba pintu diketuk dari luar, Diana beranjak meninggalkan Revan dan bergegas membukakan pintu.
"Selamat sore," sapa Siska dengan senyum tipis di bibirnya.
Sejak kematian Sofia, Siska memutuskan untuk menjual rumahnya dan tinggal bersama Diana. Dia tak mau terus-terusan terpuruk dalam kesedihan karena kehilangan putri satu-satunya itu. Meskipun Sofia selalu bersikap buruk, tetap saja sebagai seorang ibu, dia merasa hancur saat darah dagingnya tewas dengan cara yang tragis.
"Selamat sore, Tan. Sudah selesai?"
Siska mengangguk, "Sudah! Tante sudah memberikan pakaian dan barang-barang Sofia ke panti sosial."
"Semoga semua itu berguna untuk orang lain," ujar Diana penuh harap.
"Aamiin." Siska mengamini sambil mengusap air matanya yang jatuh menetes.
Diana pun memeluk Siska dan mengusap punggung belakang tantenya itu.
Melihat adegan tersebut, Revan hanya tersenyum getir. Kematian Sofia juga sangat mengejutkan dirinya, ada sedikit rasa bersalah di dalam hatinya atas apa yang pernah dia lakukan dulu kepada mantan kekasihnya itu.
***
__ADS_1
Malam harinya, Diana baru saja masuk ke dalam kamar setelah menidurkan Dafa di kamar Siska. Dia terkejut saat melihat Revan sudah berbaring di atas ranjang dan hanya memakai handuk yang dililitkan di pinggang.
Diana mendekati ranjang dan mengamati suaminya itu, tampak Revan menutup mata.
"Ya ampun, dia tidur!" gumam Diana yang berpikir jika Revan sudah terlelap.
Karena merasa kasihan dan takut Revan masuk angin, Diana pun membangunkan suaminya itu, "Van, bangun! Pakai bajunya dulu, baru tidur."
Revan bergeming, tak ada tanda-tanda pria itu akan bangun.
Diana pun tak menyerah, dia semakin mendekat dan mengguncang tubuh Revan, "Van, bangun! Nanti masuk angin."
Revan tiba-tiba membuka mata dan dengan cepat menarik tangan Diana hingga wanita itu terjatuh di atas badannya.
Diana terkejut setengah mati," Astaga, Revan! Bikin kaget aja!"
"Kenapa lama banget, sih? Aku sudah menunggu mu dari tadi," protes Revan.
"Tadi Dafa minta dibacakan cerita," sahut Diana.
"Jadi sekarang dia sudah tidur?"
Diana mengangguk, "Sudah."
Revan menyeringai, "Kalau gitu kita bisa mulai sekarang."
Diana mengernyit, "Mulai apa?"
"Yang tadi sore kamu janjikan setelah aku mandi dan Dafa tidur," jawab Revan sembari mengerlingkan matanya dengan genit.
Diana langsung paham maksud Revan, tapi dia usil ingin menggoda suaminya itu, "Ah, aku mengantuk! Besok saja, deh!"
Wajah Revan berubah masam, "Kamu mau buat aku gila semalaman, ya? Sejak tadi aku sangat merindukanmu."
"Tapi saat ini aku sedang enggak berselera, aku mengantuk!"
"Aku akan buat kamu berselera!" Revan membalikkan tubuh Diana, kini dia yang berada di atas sang istri.
Diana melotot sambil memekik, "Revan!"
Revan tersenyum kemudian mendaratkan bibirnya ke bibir Diana, dia mencium dan melumaat bibir merah itu dengan bergairah. Diana pun membalas ciuman itu.
Revan lantas melepaskan pagutan bibir mereka dan menatap Diana, "I love you."
"I love you too," balas Diana.
Keduanya kembali berciuman dengan semakin liar dan melewati malam panas ini dengan penuh cinta.
Begitulah hidup, tak pernah ada yang tahu apa yang akan terjadi esok. Kita hanya perlu fokus menjalani masa kini dan menjadikan masa lalu sebagai pelajaran agar tak terulang di masa depan. Jangan jadikan masa lalu sebagai duri yang membuat langkahmu terasa berat dan penuh duka. Berdamai lah dan berusaha menjadi lebih baik.
__ADS_1
❤️TAMAT❤️
Terima kasih sudah mengikuti kisah ini, semoga banyak pelajaran yang bisa diambil. Baca juga karyaku yang lainnya, ya!😘