Diana (Gadis Yang Ternoda)

Diana (Gadis Yang Ternoda)
Episode 17.


__ADS_3

Baru saja Diana keluar dari kamar mandi, dia dikejutkan dengan Dafa yang sudah duduk di tepi ranjang sambil merengek dan memegangi perutnya.


"Sayang, kamu udah bangun?" Diana heran karena putranya itu bangun lebih cepat dari biasanya.


"Perut aku sakit, Bunda," keluh Dafa.


"Sakit kenapa?" Diana mendekati ranjang dan duduk di samping sang buah hati.


Dafa menggeleng, namun tiba-tiba muntah.


"Ya Tuhan, Dafa! Kamu kenapa, Nak?" Diana sontak panik dan memegangi tengkuk Dafa, namun dia bertambah cemas saat badan putranya itu terasa panas, "kamu demam, sayang?"


"Bunda," rengek Dafa setelah selesai memuntahkan makanan yang semalam dia makan bercampur buih putih.


Diana mengambil tisu dan mengelap mulut Dafa, "Kita ke dokter, ya? Bunda khawatir!"


Dafa yang lemas hanya mengangguk.


"Kalau begitu bunda pakai baju dulu!" Diana bergegas mengenakan baju rumahnya dan setelah itu menggendong Dafa lalu membawa putranya keluar dari kamar. Dia bahkan tak sempat menyisir rambutnya yang basah.


Di lantai bawah Siska sedang menyiapkan sarapan di atas meja, dia terkejut saat Diana menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa sambil menggendong Dafa.


"Ada apa, Di?" tanya Siska bingung.


"Dafa tiba-tiba muntah dan demam, Tante. Aku mau bawa dia ke dokter," adu Diana panik.


Siska tercengang dan langsung meletakkan punggung tangannya di dahi Dafa, "Iya, badannya panas. Kalau begitu cepat bawa ke dokter!"


"Ada apa?" Sofia yang baru turun bertanya saat melihat sang mama panik.


"Dafa sakit, Mama mau temani Diana ke rumah sakit dulu!" ujar Siska, lalu mengambil tasnya.


Siska lantas kembali dan menarik Diana, "Ayo, Di!"


Keduanya pun buru-buru pergi.


Sofia menghela napas kesal melihat sang mama begitu peduli dan perhatian pada Dafa.


"Dasar anak haram! Nyusahin aja!" gerutu Sofia, dia mengambil sepotong roti isi lalu memakannya dengan lahap.


Revan yang baru saja tiba bergegas turun dari mobilnya saat melihat Dafa terkulai lemas di gendongan Diana.


"Ada apa?" cecar Revan cemas.


"Dafa sakit, dia tiba-tiba muntah dan demam," sahut Siska, sementara Diana hanya bergeming dan terus melangkah melewati Revan.


"Kalau begitu mari aku antar ke rumah sakit!" pinta Revan yang ikut panik.


"Enggak usah! Kami bisa baik taksi!" tolak Diana.

__ADS_1


"Tolong jangan keras kepala! Aku enggak mau terjadi sesuatu dengan anakku!" ujar Revan kesal.


"Sudah ku bilang dia bukan anakmu!" bantah Diana.


"Cukup! Ini bukan saatnya kalian berdebat Dafa butuh pertolongan medis secepatnya!" Siska menengahi.


Diana pun akhirnya mengalah dan menuruti permintaan Revan, dia membawa Dafa masuk ke dalam mobil pria itu, disusul oleh Siska.


Sofia pun keluar dari rumah dan heran melihat Diana serta mamanya masuk ke mobil Revan, "Loh, mereka kenapa masuk ke mobil Mas?"


"Aku mau antar Dafa ke rumah sakit," terang Revan sembari masuk ke dalam mobilnya.


"Tapi Mas kan mau antar aku ke lokasi syuting?"


"Kamu naik taksi aja!" Revan langsung melaju meninggalkan Sofia.


"Mas!" teriak Sofia.


"Ih, sialan! Enggak ibu, enggak anaknya, sama aja! Bisanya cuma nyusahin dan buat kesal!" ujar Sofia, dia kesal karena Dafa membuat Revan mengabaikannya.


Di dalam mobil, Dafa terus merengek dan semakin lemas. Diana memeluk dan berulang kali menciumi kepala putranya. Dia benar-benar panik dan cemas, dia bahkan sampai meneteskan air mata karena takut terjadi sesuatu pada sang buah hati.


Dari balik kaca spion, Revan melirik ibu dan anak yang duduk di belakangnya itu. Dia sadar kalau Diana benar-benar menyayangi putranya itu dengan sepenuh hati, entah mengapa hatinya terasa ngilu saat melihat Diana menangis seperti ini.


Mobil Revan berhenti di antara jejeran panjang kendaraan lain, mereka terjebak macet karena ada kecelakaan di persimpangan jalan. Revan berulang kali menekan klakson mobilnya, berharap kendaraan di depannya bergerak maju.


"Sial!" umpat Revan kesal saat usahanya sia-sia, kendaraan roda empat miliknya bahkan tak bisa bergerak sedikit.


"Bunda, perut aku sakit," rengek Dafa pelan.


"Sabar, ya, sayang. Sebentar lagi kita sampai."


"Aku mau muntah, Bunda." Dafa langsung memuntahkan isi perutnya, sehingga mengotori bajunya dan baju Diana.


"Ya ampun, sayang!" pekik Diana kaget.


Dafa semakin lemas tak berdaya setelah muntah, Diana dan semua orang semakin panik.


"Dafa, bertahanlah!" ucap Diana lirih.


Revan yang panik dan takut sontak keluar dari mobil, lalu membuka pintu di samping Diana dan merebut Dafa.


"Kau mau apa?" Diana kebingungan.


"Enggak ada waktu untuk menunggu, dia harus cepat ditangani!" sahut Revan kemudian berlari sambil menggendong Dafa.


Diana dan Siska terkejut serta bingung melihat aksi pria itu.


"Kamu cepat susul mereka! Biar Tante yang bawa mobil ini ke rumah sakit," perintah Siska yang melihat kunci mobil Revan masih tergantung ditempatnya.

__ADS_1


Diana pun bergegas mengejar Revan dan Dafa. Keduanya berlari di sepanjang trotoar, mengabaikan para pengendara lain yang menatap mereka dengan bingung.


Revan tak ingin terlambat, dia berlari sekuat tenaga agar bisa segera tiba di rumah sakit yang jaraknya tinggal tiga ratus meter lagi. Dia benar-benar panik dan cemas dengan kondisi Dafa.


***


Dafa sudah ditangani di ruang IGD, dan dokter telah memberikan obat padanya. Diana yang menemani putranya itu pun merasa sedikit lega, begitu juga dengan Revan yang masih setiap berada di sisi bocah lucu itu.


"Bagaimana kondisi anak saya, Dok?" cecar Diana.


"Kondisi pasien sudah stabil, kami juga sudah menyuntikkan obat untuknya. Tinggal menunggu dia bangun dan pulih saja."


"Sebenarnya dia sakit apa, Dok? Kenapa bisa muntah-muntah begini?" Revan ikut bertanya.


"Dari gejalanya, kami menduga dia keracunan makanan."


Diana dan Revan tercengang.


"Keracunan makanan, Dok? Tapi makanan di rumah selalu higienis dan steril." Diana merasa heran.


"Apakah dia baru saja makan makanan dari luar? Misalnya makanan kemasan atau jajanan pinggir jalan."


Diana seketika teringat dengan makanan yang Revan berikan kemarin dan sontak melirik sinis pria itu, "Ada, Dok. Seseorang memberikan banyak makanan kemasan pada anak saya kemarin."


Revan tahu Diana sedang menyindirnya, tapi dia berusaha tak acuh sebab merasa bersalah.


"Kemungkinan besar karena makanan-makanan itu, untuk lebih jelasnya, kita bisa mengambil sampel makanan tersebut dan memeriksanya di laboratorium."


"Tapi makanan-makanan itu sudah saya buang," sambung Diana.


"Sayang sekali. Ya sudah kalau begitu kita fokus pada pemulihan pasien saja. Kami akan meresepkan obat dan vitamin agar daya tahan tubuhnya meningkat sehingga dia bisa cepat pulih."


"Apa dia perlu dirawat, Dok?" Revan kembali bertanya.


"Enggak usah, cukup istirahat di rumah saja! Tapi pastikan makanannya terjaga, jangan sembarangan lagi agar kejadian serupa enggak terulang."


Revan mengangguk, "Baik, Dok!"


"Kalau begitu saya permisi dulu." Dokter itu segera keluar dari ruang IGD.


"Puas kau sekarang? Gara-gara kau, Dafa jadi sakit begini!" sergah Diana setelah dokter itu pergi.


"Aku minta maaf, aku enggak sangka kalau dia akan keracunan makanan seperti ini," sesal Revan.


"Lain kali jangan memberikan apa pun lagi pada anakku!" sungut Diana.


Revan mendadak kesal mendengar kata terakhir yang keluar dari mulut Diana, "Dia bukan cuma anakmu, tapi juga anakku! Dan aku akan buktikan itu!"


Revan segera berlalu dari hadapan Diana.

__ADS_1


***


__ADS_2