Diana (Gadis Yang Ternoda)

Diana (Gadis Yang Ternoda)
Episode 36.


__ADS_3

Raka dan Eliana turun setelah mendengar suara ribut-ribut dari lantai bawah, ibu dan anak itu terkesiap saat melihat beberapa orang sedang berkumpul di depan laundry, sementara Diana dan Siska tampak kebingungan.


"Ada apa ini? Siapa mereka?" tanya Raka sembari melangkah mendekati Diana.


"Mereka wartawan," adu Siska panik.


"Mbak jawab, dong! Apa benar anda dan Revan Adiguna memiliki anak diluar nikah?"


Diana terdiam, ini pertanyaan yang kesekian kalinya, dan sejak tadi dia hanya diam membisu sambil menggamit lengan Siska dengan berlinang air mata. Dia ingin membantah semuanya, tapi dia tak cukup lihai dalam berbohong, apalagi membohongi orang banyak.


"Mbak Diana, jawab dong Mbak!" desak salah satu wartawan wanita.


"Semua itu enggak benar! Diana enggak pernah memiliki anak diluar nikah dan dia bukan wanita seperti yang diberitakan!" bantah Raka tegas, dan Diana langsung menatap Raka dengan kaget sebab pria itu berani berbohong di depan semua orang.


"Lalu apa hubungan Mbak Diana dengan Revan Adiguna?" Wartawan yang lain bertanya.


"Mereka enggak ada hubungan apa-apa, dan Diana itu calon istriku! Jadi sebaiknya kalian semua pergi dari sini dan jangan membuat keributan!" Raka mengusir wartawan-wartawan itu.


"Tapi Mas, kami ...."


"Pergi!" bentak Raka, "atau aku akan panggil polisi karena kalian sudah membuat keributan dan mengganggu ketenangan kami!" ancam Raka kemudian.


Wartawan-wartawan itu sontak terdiam dan perlahan mundur teratur menjauhi mereka.


Raka mengembuskan napas lega setelah para pemburu berita itu meninggal laundry, lalu berbalik menatap Diana dengan cemas, "Kamu baik-baik saja?"


Diana mengangguk sembari mengusap air matanya, "Iya, Mas. Tapi kenapa tadi Mas berbohong kepada mereka?"


"Aku terpaksa, Di. Biar mereka berhenti membuat berita buruk tentang kamu," jawab Raka, dan Diana tertegun mendengarnya.


"Bagaimana wartawan-wartawan itu bisa tahu Diana ada di sini?" Eliana mengalihkan pembicaraan.


"Entahlah, Mbak. Aku juga heran dari mana mereka tahu keberadaan Diana," jawab Siska yang mendekap Dafa di gendongan nya.

__ADS_1


"Pasti ada seseorang yang memberitahunya," tuduh Raka.


"Iya, tapi siapa?" cecar Eliana penasaran.


"Apa jangan-jangan wartawan tadi mengikuti Revan ke sini?" tebak Siska.


"Bisa jadi itu!" sahut Eliana.


"Tapi kalau mereka mengikuti Revan, kenapa mereka baru datang setelah dia pergi? Kenapa mereka enggak melakukan wawancara saat dia masih ada di sini?" Siska berusaha mencerna situasi yang terjadi.


Diana hanya diam membisu, dia justru curiga jika ini adalah ulah Sofia, tapi dia merasa tidak enak kepada Siska jika mengatakannya, sebab dia tak punya bukti yang kuat.


"Iya, juga, sih!" Eliana menimpali.


"Dari mana pun mereka tahu, yang pasti saat ini Diana sedang enggak aman. Mereka bisa kembali ke sini kapan saja, atau mungkin akan ada wartawan lain yang datang," ujar Raka.


"Kalau begitu biar Diana kembali ke rumah Tante aja," cetus Siska.


"Jangan, Tante!" tolak Diana spontan.


Siska mengernyit, "Kenapa, Di?"


Diana mendadak gugup, "Hem, Sofia kan seorang selebriti, aku khawatir ada wartawan yang tiba-tiba datang ke rumah dan melihat aku ada di sana."


"Iya, juga, sih!" Siska manggut-manggut, sebab selama ini memang sering ada wartawan dan teman-teman sesama artis yang datang ke rumahnya.


"Kalau begitu ke rumah kami saja!" usul Raka.


"Enggak usah, Mas! Aku enggak mau merepotkan. Lagipula kita kan bukan suami istri, aku enggak mau menimbulkan fitnah dan gosip baru." Diana kembali menolak.


"Kalau begitu kita menikah saja! Jadi kamu dan Dafa bisa bebas tinggal di rumah kami," usul Raka.


Diana tertegun mendengar saran dari Raka, entah mengapa hatinya merasa ragu dan keberatan menerima tawaran itu. Selain memang dia tak pernah mencintai Raka, dia juga merasa bimbang jika mengingat kelakuan buruk Raka yang baru dia ketahui tadi, dia takut pria itu tak bisa berubah.

__ADS_1


"Di, kenapa kamu diam? Kamu mau kan menikah denganku?" Raka memastikan.


"Maaf, Mas. Aku belum bisa jawab sekarang! Aku masih pusing memikirkan rumor yang beredar ini, dan aku enggak mau menikah dengan terburu-buru," dalih Diana gugup, dia tak bisa menerima Raka saat ini.


"Tapi pernikahan itu bisa mengalihkan rumor yang sedang beredar, kita ...."


"Raka sudah!" potong Eliana, "jangan memaksa Diana! Hargai keputusannya!"


Raka menghela napas kecewa, "Baiklah, terserah kamu saja."


"Kalau begitu kamu tetap tinggal di sini, tapi nanti Ibu akan menyewa seorang satpam untuk berjaga-jaga di luar. Jadi wartawan atau orang-orang yang bukan pelanggan enggak diperbolehkan masuk," usul Eliana yang tahu jika Diana masih belum bisa menerima Raka sepenuhnya dan berat untuk menikahi sang putra.


"Tapi itu akan menyusahkan Ibu." Diana merasa tak enak.


"Enggak apa-apa, Di. Kamu enggak usah khawatir!" Eliana tersenyum sembari mengusap pundak karyawannya itu.


Diana merasa terharu bercampur sungkan karena Eliana begitu baik dan peduli padanya.


Di parkiran rumah sakit, Lenny bergegas keluar dari mobil tapi Revan memilih untuk tidak turun.


"Kamu enggak turun?" tanya Lenny.


"Enggak, Ma. Aku masih ada urusan penting yang harus aku selesaikan! Tapi nanti aku langsung kembali ke sini," jawab Revan.


"Kamu jangan bertindak gegabah, jangan sampai membuat masalah semakin runyam." Lenny memperingatkan putranya itu.


"Iya, Ma. Kalau begitu aku pergi dulu."


Lenny mengangguk lalu menutup pintu mobil sang putra, sebenarnya dia sedikit khawatir tapi dia berusaha tetap tenang.


Mobil mewah Revan melaju pergi meninggalkan parkiran rumah sakit, produser ganteng itu akan ke lokasi syuting untuk menemui Sofia, dia akan memberikan pelajaran kepada Sofia karena dia yakin semua ini ulah mantannya itu.


Sebenarnya tadi Revan sudah coba menghubungi nomor Sofia, tapi tidak tersambung sama sekali, kemungkinan dia sudah diblokir atau mungkin wanita itu telah mengganti nomor teleponnya. Makanya sekarang dia putuskan untuk mencari sang mantan ke lokasi syuting.

__ADS_1


"Kau akan tahu akibatnya karena berani bermain-main dengan ku!" gumam Revan seraya mengeraskan rahangnya.


***


__ADS_2