
Sore harinya, Diana sudah diperbolehkan pulang karena kondisinya semakin membaik.
"Kamu pulang ke rumah Tante saja, ya?" pinta Siska sembari membantu Diana turun dari atas ranjang dan duduk di kursi roda.
"Enggak usah, Tante! Aku pulang ke laundry aja!" tolak Diana, dia tak ingin bertemu Sofia.
"Tapi kalau di rumah, Tante bisa merawat kamu dan Dafa sekaligus."
"Aku sudah enggak apa-apa, kok, Tan. Aku bisa merawat Dafa."
"Di, kamu masih harus banyak istirahat. Tante enggak mau kamu ngedrop lagi."
"Tante jangan khawatir, aku pasti baik-baik saja." Diana berusaha meyakinkan tantenya itu agar tidak cemas.
Siska mengembuskan napas pasrah melihat sikap keras kepala keponakannya itu, "Ya sudah, terserah kamu saja! Tapi setiap hari Tante akan datang untuk menjaga Dafa, biar kamu enggak terlalu lelah."
Diana mengangguk sembari tersenyum.
Ceklek.
Pintu ruang perawatan Diana terbuka, Raka muncul dengan wajah kesal.
"Ada apa, Nak Raka? Kok cemberut begitu?" cecar Siska.
"Biaya perawatan Diana sudah dilunasi oleh pria itu, aku kalah cepat!" gerutu Raka.
Diana dan Siska terkesiap mendengarnya, mereka tentu tahu siapa yang Raka maksud.
Namun kemudian Siska tersenyum sembari menepuk pundak Raka dua kali, "Ya sudah, siapa pun yang membayar, itu sama saja!"
"Tapi aku enggak sudi Diana menggunakan uangnya! Nanti dia bisa besar kepala dan sok hebat!" bantah Raka ketus.
"Kalau begitu nanti kalian ganti uangnya, bereskan!" ujar Siska enteng, dan Raka hanya bergeming tanpa menjawab apa pun.
"Sekarang kita pulang, entar keburu gelap," lanjut Siska.
Raka pun melangkah mendekati Diana yang sejak tadi duduk diam di atas kursi roda, lalu mulai mendorong wanita itu. Sementara Siska menggendong Dafa dan membawa bungkusan yang berisi obat milik Diana.
__ADS_1
Baru beberapa langkah mereka meninggalkan kamar rawat inap Diana, Revan muncul dan terkejut melihat mereka. Raka dan Siska sontak mengehentikan langkah mereka.
"Kalian mau ke mana?" tanya Revan seraya berlari mendekati Diana dan yang lainnya.
Raka langsung membuang muka, dia malas melihat saingannya itu.
"Diana sudah diizinkan pulang," terang Siska.
"Syukurlah, kalau begitu biar aku antar pulang." Revan menawarkan diri.
Raka spontan memutar kepalanya menatap Revan dengan sinis, "He, kau enggak lihat ada aku di sini? Jadi kau enggak perlu repot-repot mengantarkan dia!"
"Aku enggak bicara denganmu!" balas Revan.
"Kau ini!" Raka melotot marah.
"Sudah! Kenapa kalian selalu saja bertengkar? Aku pusing mendengarnya!" Diana marah, Revan dan Raka langsung diam.
"Kalau kalian masih ingin ribut, aku pulang naik taksi aja!" Diana hendak bangkit dari kursi roda, tapi Raka cepat menahannya.
"Iya-iya, aku enggak akan ribut dengannya lagi. Sekarang kita pulang!" Raka langsung mendorong kursi roda itu setelah memastikan Diana kembali duduk dengan nyaman.
"Sudah! Diana butuh istirahat dan ketenangan, jadi untuk sementara ini jangan ganggu dia dulu. Tante mohon!" ucap Siska memohon.
"Tapi, Tante ...."
"Tolong mengertilah! Beri Diana ruang untuk bernapas dan berpikir dengan jernih, Tante akan bicara dengannya nanti. Jadi sebaiknya sekarang kamu fokus dulu mengurus papa kamu dan gosip yang sedang viral itu!"
Revan menghela napas lalu mengangguk patuh, "Baiklah, Tante."
"Tante permisi dulu! Terima kasih untuk semuanya." Siska bergegas menyusul Diana dan Raka yang sudah menjauh.
Revan memandangi kepergian mereka dengan perasaan kesal dan kecewa, rasanya dia ingin sekali menghajar Raka dan menjauhkan pemuda itu dari Diana, tapi dia sadar apa yang Siska katakan ada benarnya. Dia harus membiarkan Diana tenang demi kesehatan wanita yang selalu mengganggu pikirannya itu.
Telepon genggam Revan tiba-tiba berdering, dia buru-buru mengeluarkan benda pipih itu dari dalam saku celananya dan mengernyit saat melihat id si penelepon.
"Mama?"
__ADS_1
Revan langsung menggeser tombol hijau dan panggilan pun tersambung.
"Halo, Ma."
"Van, papa kamu!"
"Papa kenapa, Ma?" Revan mendadak panik.
Revan terkesiap saat mendengar kabar dari sang mama, tanpa pikir panjang dia langsung berlari menuju ruang ICU tempat sang ayah dirawat.
Sementara itu, di hotel tempatnya menginap, Sofia mulai merasa jenuh karena harus terkurung tanpa bisa ke mana-mana. Dia pun menyalakan televisi dan menggonta-ganti siaran, tapi tak ada yang menarik sampai layar kaca itu menampilkan acara yang tak asing baginya.
Sofia tercengang ketika melihat acara yang selama ini dia pandu ternyata diambil alih oleh salah satu artis yang lumayan terkenal, emosinya seketika naik.
"Apa-apaan ini? Kenapa mereka menggantikan aku dengan dia?"
Sofia pun mencari ponselnya lalu segera menghubungi manajernya.
"Halo, Mbak," sapa Sofia saat panggilan itu tersambung.
"Akhirnya kamu muncul juga, Sofia! Ke mana saja kamu?"
"Aku kan sudah bilang, kalau aku sedang sakit, Mbak." Sofia pura-pura lemas.
"Seharusnya kamu profesional dong! Kita enggak bisa menunda syutingnya, sementara kamu susah sekali dihubungi."
"Iya, aku minta maaf, tadi aku tidur. Tapi kenapa posisi aku diganti dengan artis itu?" cecar Sofia.
"Itu permintaan Mas Revan, dia ingin kamu digantikan karena kamu enggak berkompeten dan profesional!"
Sofi terhenyak dan mendadak kesal saat tahu ini ulah Revan, "Tapi ini enggak adil, Mbak! Aku kan sudah tanda tangan kontrak, mana bisa dia mengganti aku seenaknya!"
"Kalau masalah itu, kamu tanya langsung aja dengan Mas Revan! Bukankah kamu itu pacarnya. Lagian aku sudah pusing dengan semua ini!"
Manajer Sofia langsung memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak.
Sofia meremas ponselnya dengan kuat sambil menahan geram, "Berengsek kau Revan! Aku enggak terima kau perlakukan seperti ini!"
__ADS_1
***
Maaf kalau aku slow update.🙏🏼