Diana (Gadis Yang Ternoda)

Diana (Gadis Yang Ternoda)
Episode 39.


__ADS_3

Di ruang perawatan VIP ....


Diana terbaring lemah di ranjang rumah sakit, wajahnya pucat dan dia masih belum sadarkan diri.


Di sisi Diana, Revan sedang duduk dan menatapnya dengan cemas. Saat dia jatuh pingsan tadi bertepatan dengan kedatangan Revan, dan pria itu langsung membawanya ke rumah sakit, sementara Siska tetap tinggal di laundry bersama Dafa dan mengabari Eliana.


Sejak tadi Revan setia menjaga Diana, tak sedetikpun dia meninggalkan Diana. Revan sangat panik dan khawatir tadi saat melihat Diana ambruk ke lantai, dia sungguh takut terjadi sesuatu kepada wanita itu. Dan dia baru bisa bernapas lega saat dokter mengatakan jika Diana hanya dehidrasi, kelelahan serta kurang darah.


Perlahan kesadaran Diana mulai datang, dia memegangi kepalanya yang masih terasa pusing sembari mengerjap kan matanya beberapa kali.


"Di mana aku?" tanya Diana pelan.


"Di rumah sakit," jawab Revan.


Mendengar suara Revan, Diana langsung membuka matanya dengan lebar dan mengalihkan pandangannya ke pria itu.


"Kau? Bagaimana kau bisa ada di sini?" cecar Diana kebingungan.


"Tadi kau pingsan, dan kebetulan aku datang, jadi aku langsung membawamu ke rumah sakit ini," terang Revan.


Diana mencoba mengingat kejadian sebelumnya, dia ingat tadi sedang mengobrol dengan Siska, dia menangis lalu hendak cuci muka ke kamar mandi dan setelah itu dia tak ingat apa-apa lagi.


"Jadi tadi aku pingsan?" batin Diana yang baru sadar.


Tiba-tiba Diana teringat laundry dan Dafa, dia langsung bangkit dan hendak turun dari ranjang, tapi seketika dia memekik kesakitan saat jarum infus di tangannya tertarik.


"Aw!" pekik Diana.


Revan spontan beranjak lalu memegangi tangan Diana yang sedikit berdarah, "Pelan-pelan! Lihat, tanganmu jadi berdarah."


Diana sontak menepis tangan Revan dan menatap pria itu dengan tajam, "Jangan sentuh aku!"


Revan termangu memandang Diana, tatapan mereka bertemu, namun dengan cepat Diana memalingkan wajahnya.


"Aku mau pulang!" ujar Diana tanpa memandang Revan.


"Kata dokter kau masih harus beristirahat, keadaanmu masih ...."


"Aku enggak peduli! Pokoknya aku mau pulang!" potong Diana ketus.


"Diana, tolong menurut lah! Ini demi kebaikan mu!" bujuk Revan.


Diana mengabaikan bujukan Revan, dia hendak menarik jarum infus di tangannya. Revan yang melihat itu panik dan langsung memegangi tangan Diana.


"Jangan, Diana!"


"Lepaskan!" Diana memberontak, tapi Revan tak mau melepaskan cengkeraman tangannya di kedua lengan wanita itu.

__ADS_1


"Tolong jangan keras kepala! Sekali ini saja!" ujar Revan memohon.


"Aku mau pulang, aku harus bekerja dan bertemu anakku!" sahut Diana yang masih berusaha melepaskan cengkeraman tangan Revan.


"Tapi kamu sedang enggak sehat, Diana! Aku enggak ingin terjadi sesuatu dengan kamu!"


"Jangan sok peduli! Lepaskan aku!" Diana kembali meronta.


"Kalau kau masih keras kepala, aku akan mencium mu!" ancam Revan sembari mendekatkan wajahnya ke Diana.


Karena kaget dan takut, Diana refleks menarik kepalanya ke belakang dan menutup mata.


Revan tersenyum geli melihat reaksi Diana itu, akhirnya dia berhasil membuat wanita tersebut tenang dan tak lagi memberontak.


"Nah, gini kan bagus!" puji Revan.


Diana membuka matanya dan menatap Revan dengan sinis, "Lepaskan aku!"


"Tapi janji kau harus tetap istirahat di sini?"


"Hem."


"Baiklah, aku akan lepaskan. Tapi awas kalau kau ingkar janji, aku akan mencium mu sampai bibirmu bengkak."


Diana melotot, dia kesal mendengar ancaman Revan tapi tetap mengangguk karena takut, sebab di ruang VIP itu hanya ada mereka berdua dan Revan bisa melakukan apa saja padanya tanpa diketahui orang lain.


"Lihatlah, tanganmu jadi berdarah lagi karena kau terlalu banyak bergerak," ujar Revan seraya mengamati tangan Diana yang tertancap jarum infus.


Diana memperhatikan tangannya, sejujurnya dia merasakan sakit namun dia berusaha menutupinya.


"Aku akan panggil perawat biar mereka ...."


"Enggak perlu! Aku enggak apa-apa!" sela Diana sebelum Revan selesai bicara.


"Tapi tanganmu ...."


"Aku bilang enggak perlu! Ngeyel banget, sih!" gerutu Diana.


"Iya-iya!" Revan mengalah, "kalau begitu aku mau menelepon Tante Siska dulu dan memberitahu keadaanmu."


Diana terkejut saat tahu Revan memiliki nomor Siska, tapi dia berpikir mungkin Sofia yang memberikannya.


Revan bergerak menjauhi Diana sambil mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana.


Diana hanya bergeming memandangi Revan yang berdiri sedikit jauh darinya, rasa marah dan benci itu masih menggelayuti hatinya, tapi entah mengapa ada perasaan aneh yang sulit dia jelaskan dan jantungnya berdebar kencang setiap kali berada di dekat pria itu.


Tiba-tiba pintu ruangan Diana terbuka, dia dan Revan refleks menoleh. Ternyata Lenny yang datang sambil membawa bungkusan, wanita paruh baya itu sudah mendapatkan kabar dari Revan tentang Diana yang masuk rumah sakit.

__ADS_1


"Mama?" Revan menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku celana tanpa sempat bicara karena nomor telepon yang tempo hari Siska kasih tidak ada yang menjawab saat dia hubungi.


"Bagaimana keadaan kamu, Diana?" tanya Lenny lembut seraya berjalan mendekati ranjang Diana.


"Baik," jawab Diana singkat.


"Tadi saya kaget banget saat Revan memberikan kabar jika kamu pingsan dan dilarikan ke rumah sakit, saya khawatir! Untung saja kamu dirawat di rumah yang sama dengan papa Revan, jadi saya bisa cepat ke sini," terang Lenny.


Diana tertegun saat mengetahui bahwa ayah Revan dirawat di tempat yang sama dengan dirinya.


"Oh iya, ini saya bawakan bubur kacang hijau." Lenny menyodorkan bungkusan yang dia bawa ke Diana.


Dengan ragu-ragu Diana mengangkat tangannya dan meraih bungkusan itu, "Terima kasih."


"Makanlah! Kacang hijau bagus buat menambah stamina dan mencegah anemia, jadi kamu bisa cepat pulih dan sehat lagi," terang Lenny, dia sengaja memesan bubur itu dari salah satu restoran saat tahu Diana kelelahan dan kurang darah.


Diana hanya terdiam memandangi bungkusan tersebut, dia sedikit tersentuh dengan perhatian Lenny itu.


"Kamu mau Revan yang suap?" tanya Lenny kemudian.


Diana sontak menatap Lenny dan menggeleng, "Enggak usah! Nanti aku makan sendiri saja!"


Revan tampak kecewa karena Diana menolak untuk disuapi, tapi dia berusaha menguasai diri.


"Kamu jaga kesehatan dan harus banyak istirahat! Kalau kamu sakit, kasihan Dafa," ucap Lenny penuh perhatian.


Diana hanya mengangguk dan memaksakan senyuman.


"Ya sudah, kalau begitu saya pergi dulu. Kamu istirahat, ya? Jangan lupa dimakan buburnya."


"Iya, Bu. Sekali lagi terima kasih," sahut Diana.


"Sama-sama." Lenny tersenyum lalu mengalihkan pandangannya ke Revan yang sejak tadi mematung tak jauh dari mereka, "jaga Diana baik-baik!"


"Oke, Ma." balas Revan, dan Diana hanya meliriknya sinis.


Lenny pun meninggalkan ruang perawatan Diana karena dia tak ingin mengganggu, dia sengaja memberikan kesempatan untuk Revan agar bisa melakukan pendekatan dengan Diana.


Setelah Lenny keluar, Diana perlahan turun dari atas ranjang dan mengambil botol infusnya.


Revan kembali panik dan berlari mendekati Diana, "Kau mau ke mana? Kau kan sudah janji akan istirahat."


"Aku mau ke kamar mandi!"


"Kalau begitu, mari aku temani."


Diana terhenyak dan langsung menatap Revan dengan mata melotot.

__ADS_1


***


__ADS_2