Diana (Gadis Yang Ternoda)

Diana (Gadis Yang Ternoda)
Episode 15.


__ADS_3

Revan kembali datang ke rumah Siska, dan kali ini dia membawakan banyak makanan untuk Dafa.


Revan mengetuk pintu, tak lama kemudian Siska membukanya.


"Nak Revan?" Siska terkejut melihat kekasih anaknya itu.


"Selamat pagi, Tante," sapa Revan ramah.


"Selamat pagi. Sofia sudah pergi dari tadi," ujar Siska meski Revan tak bertanya.


"Aku tahu, Tante. Aku ke sini mau bertemu Dafa, dia ada?"


Siska bergeming, dia bingung mau menjawab apa.


"Tante, bisa aku bertemu Dafa! Aku bawa banyak makanan untuknya," pinta Revan sambil menunjukkan bungkusan besar yang dia tenteng.


Siska merasa tak enak jika menolak, walaupun sebenarnya dia tahu Dafa dan Diana tak suka pada pria itu. Tapi dia heran kenapa Revan begitu ingin mendekati anak keponakannya.


"Ya sudah, silakan masuk!" Siska mau tak mau mempersilakan Revan masuk.


Revan tersenyum senang dan melangkah masuk ke dalam rumah Siska.


"Duduklah! Sebentar Tante panggilkan Dafa dulu."


Revan mengangguk, "Iya, Tante."


Siska bergegas ke dapur untuk memanggil Dafa yang sedang sarapan, bocah lucu itu baru saja bangun dan selesai mandi.


Dengan perasaan bahagia, Revan duduk di sofa dan meletakkan kantung plastik yang dia bawa di atas meja. Dia bertekad akan merebut hati Dafa dengan coklat, ice cream dan berbagai jajanan lain, karena dia tahu anak kecil pasti menyukai semua itu.


Beberapa menit kemudian, Siska kembali bersama Dafa. Namun saat melihat Revan, kaki kecil bocah itu berhenti melangkah, dia mematung dan menatap Revan dengan tajam.


"Hai, Dafa!" tegur Revan ramah, tapi Dafa tak merespon.


Tak ingin menyerah, Revan membongkar kantung plastik yang dia bawa tadi dan mengambil satu cup ice cream rasa coklat. Dia beranjak dari duduknya dan melangkah mendekati Dafa, kemudian berjongkok di hadapan bocah itu.


Dafa langsung mundur dan bersembunyi di belakang kaki Siska.


"Ini untuk kamu." Revan menyodorkan ice cream tersebut ke hadapan Dafa, dan bocah itu hanya mengintipnya.


"Sayang, kamu dikasih ice cream, tuh," bisik Siska yang tahu jika Dafa sangat menyukai makanan manis dan dingin itu.


Dafa menengadahkan kepalanya memandang Siska dengan ragu, "Tapi, Oma ...."


Siska tersenyum sembari mengelus kepala Dafa, "Ambillah! Enggak apa-apa, kok."


Dafa kembali mengintip Revan yang masih setia berjongkok di depannya.


"Ayo, ambil!" pinta Revan.


Dengan ragu-ragu Dafa mengulurkan tangannya lalu mengambil ice cream itu.

__ADS_1


"Bilang apa pada, sayang?" tanya Siska.


"Makasih," ucap Revan pelan.


Revan tersenyum, "Sama-sama. Kalau kamu mau lagi, Om ada banyak. Om juga bawa coklat, snack, dan permen."


"Wah, kesukaan Dafa semua itu," ledek Siska.


"Benarkah? Kalau begitu mari sini kita makan sama-sama!" Revan mengulurkan tangannya.


Tanpa diduga, Dafa meraih tangan Revan dan berjalan mendekati pria itu. Hati Revan rasanya seperti ingin meledak, dia benar-benar bahagia karena akhirnya Dafa mau berdamai dan menerima dirinya walaupun hanya sebagai orang asing.


Siska tersenyum menyaksikannya, meskipun Diana melarang Dafa dekat-dekat dengan Revan, tapi dia percaya Revan tidak punya niat buruk pada Dafa.


Revan beranjak lalu kembali duduk di sofa, dan Dafa ikut duduk di sampingnya. Revan ingin sekali memeluk bocah itu, tapi dia tak berani sebab Siska masih mengawasi mereka.


"Kalau begitu Tante tinggal dulu, ya!"


Revan mengangguk dan tersenyum, "Iya, Tante."


Siska bergegas ke dapur untuk membuat minum.


"Sini Om buka kan ice cream nya."


Dafa memberikan cup ice cream itu ke Revan, dan pria itu langsung membuka penutupnya.


"Kamu mau Om suapin atau makan sendiri?" tanya Revan, dia ingin memberikan perhatian pada Dafa.


"Makan sendiri saja," sahut Dafa yang langsung merebut ice cream di tangan Revan dan melahapnya. Ternyata dia sudah tidak sabar menikmati makanan favoritnya itu.


"Aduh!" Dafa sontak memegangi kepalanya yang terasa sakit.


"Maaf, tadi di rambut kamu ada kotoran, jadi Om bersihkan," kilah Revan bohong.


Dafa tak menjawab, dia kembali menikmati ice cream di tangannya.


"Kita akan buktikan kebenarannya, dan kali ini kau enggak bisa mengelak lagi," ucap Revan dalam hati sambil tersenyum sinis, dia lalu menyimpan rambut Dafa ke dalam saku jasnya.


***


Diana tiba di rumah, hari ini dia pulang terlambat karena tadi harus membersihkan kamar yang akan dia tempati bersama Dafa nanti, walaupun tidak sebesar kamar di rumah Siska, tapi Diana bersyukur karena sudah diberikan tumpangan gratis.


Diana langsung menjatuhkan tubuhnya di atas sofa begitu masuk ke dalam rumah, dia benar-benar lelah hari ini.


"Bunda!" Dafa berlari dan langsung memeluknya.


"Eh, anak bunda sayang." Diana membalas pelukan Dafa dan mengecup kepala putranya itu.


Dafa melepaskan pelukannya dan menatap Diana dengan mata berbinar, "Bunda, tadi aku dikasih banyak makanan. Ada ice cream, coklat, permen. Pokoknya banyak, deh!"


"Oh iya? Dari siapa?" tanya Diana.

__ADS_1


"Om yang itu," jawab Dafa yang lupa nama Revan.


Diana mengernyit, "Om yang mana?"


"Yang Bunda bilang orang jahat."


Diana terhenyak, jantungnya langsung berdebar tak karuan, dia tahu siapa yang Dafa maksud.


"Tapi dia enggak jahat kok, Bunda. Dia baik," lanjut Dafa polos.


Diana sontak beranjak dari duduknya dan bergegas mencari Siska, dia bahkan meninggal Dafa begitu saja di ruang tamu.


"Tante!" panggil Diana.


"Iya, Di," sahut Siska, dia tahu pasti Dafa sudah mengadu pada Diana.


"Tadi Revan ke sini?" cecar Diana sedikit emosi.


Siska mengangguk, "Iya."


"Terus kenapa Tante izinin dia dekat-dekat dengan Dafa?" protes Diana.


"Dia datang bawa banyak makanan untuk Dafa, Tante enggak enak menolaknya," dalih Siska.


"Apa makanannya masih ada?"


Siska mengangguk, "Ada di kulkas."


Diana langsung berjalan menuju kulkas dan membuka lemari pendingin itu, lalu mengeluarkan ice cream, coklat dan permen pemberian Revan yang masih tersisa.


"Kamu mau apa, Di?" tanya Siska bingung.


"Aku mau buang, Tante!" Diana membuang semua makanan pemberian Revan ke tempat sampah.


Siska terperangah melihat sikap Diana, Dafa yang melihat itu pun langsung sedih.


"Di, kenapa harus dibuang? Makanan itu enggak beracun dan Dafa sangat menyukainya."


"Aku enggak mau anakku makan makanan dari dia!" kecam Diana marah.


"Diana, kamu ini kenapa, sih? Kenapa kamu benci banget dengan Revan?"


Diana terdiam, air matanya sontak jatuh menetes.


"Di, sebenarnya ada apa antara kamu dan Revan? Apa kalian sudah saling kenal sebelumnya dan pernah punya masalah?" cecar Siska yang semakin curiga dengan gelagat aneh keponakannya itu.


Air mata Diana semakin banyak menetes, dia tak sanggup lagi membendung kesedihan yang dia rasakan akibat perbuatan Revan, kebenciannya terhadap pria itu tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa sakit yang dia alami.


"Diana, katakan pada Tante sebenarnya ada apa?"


"Dia adalah ayah Dafa," ungkap Diana dengan suara bergetar.

__ADS_1


Siska seperti disambar petir disiang bolong mendengar pengakuan Diana itu, sekarang dia tahu kenapa Diana begitu membenci Revan.


***


__ADS_2