
Diana melangkah perlahan keluar dari kamar mandi sambil mengangkat botol infusnya setinggi kepala.
Revan yang duduk di sofa sembari bermain ponsel melirik ke arah Diana, dia kesal karena tadi Diana melarangnya ikut masuk ke dalam kamar mandi dan mengatai dia mesum, padahal dia hanya ingin membantu memegangi botol infus wanita itu saja.
Diana lalu menggantung kembali botol infusnya pada tiang di samping ranjang dan dengan hati-hati naik ke atas ranjang, lalu duduk menyandar. Perut Diana keroncongan karena sejak pagi dia belum makan apa-apa, dia melirik bungkusan di atas meja yang tadi Lenny kasih, mendadak dia jadi berselera untuk makan.
Dia pun meraih bungkusan itu, mengeluarkan satu cup bubur kacang hijau yang masih hangat lalu membuka penutupnya. Aroma khas kacang hijau langsung menyerbu indera penciumannya dan membuat perutnya kian terasa lapar. Diana mengambil sendok yang memang sudah disediakan oleh si penjual, dia menyendok bubur itu lalu meniupnya perlahan dan kemudian memakannya.
Revan sejak tadi mengamatinya, dan tanpa sadar pria itu tersenyum melihat Diana makan dengan lahap. Baru kali ini dia bisa melihat Diana dan berdekatan dengan wanita itu dalam suasana yang tenang tanpa amarah.
Revan mengalihkan pandangannya dari Diana saat wanita itu menoleh ke arahnya, dia langsung pura-pura bermain ponsel.
"Apa kau sudah menghubungi tanteku?" tanya Diana.
"Sudah, tapi enggak dijawab. Aku juga sudah kirim pesan tapi belum dibaca sampai sekarang," sahut Revan.
Diana merasa sedikit cemas karena Siska tdiak menjawab telepon, dia takut terjadi sesuatu pada Siska dan Dafa.
"Kalau begitu coba hubungi nomor telepon laundry!" pinta Diana.
"Aku enggak tahu nomornya!"
"Aku tahu!"
"Kalau begitu kau saja yang telepon!" Revan bangkit lalu berjalan mendekati Diana sembari menyodorkan ponselnya.
Dengan sedikit ragu Diana meraih benda pipih berlogo apel tergigit itu, kemudian menatap Revan, "Layarnya terkunci, bagaimana aku bisa menelepon?"
Revan menyentuh finger print ponselnya, seketika layar itu menyala dan menampilkan foto Dafa yang waktu itu dia ambil saat berkunjung ke rumah Siska.
Diana sempat tertegun memandangi foto sang putra yang menjadi wallpaper telepon genggam Revan, namun dengan cepat dia berhasil menguasai diri dan segera menekan beberapa angka kemudian menghubunginya.
Tak berapa lama, seorang wanita menjawab panggilan itu.
__ADS_1
"Halo."
"Halo, Bu El. Ini Diana," ujar Diana.
"Diana! Bagaimana keadaan kamu, Nak? Kamu baik-baik saja, kan?"
"Aku baik-baik aja, Bu," jawab Diana.
"Syukurlah, dari tadi kami semua mencemaskan mu! Kami gelisah karena enggak tahu kamu dibawa ke mana?"
"Aku berada di rumah sakit ...." Diana menatap Revan yang sejak tadi mengawasinya, dia tak tahu ini di rumah sakit mana.
"Rumah sakit Citra Medica, di kamar Camelia 1," kata Revan, dia mengerti maksud tatapan Diana.
"Aku berada di rumah sakit Citra Medica, di kamar Camelia 1, Bu," terang Diana mengikuti kata-kata Revan.
"Baiklah, kami akan segera ke sana! Kamu tunggu, ya!"
Eliana yang tampaknya sangat cemas bergegas mematikan teleponnya sebelum Diana sempat mengatakan apa-apa lagi.
Revan meraih ponselnya tapi dia sengaja menyentuh tangan Diana.
Sontak Diana menarik tangannya dengan cepat dan mendelik menatap Revan, "Dasar buaya mesum!"
"Memangnya ada buaya setampan aku?" balas Revan bercanda.
Diana tak menggubris pertanyaan Revan tersebut dan kembali menyantap buburnya dengan cepat.
"Makannya pelan-pelan saja! Enggak akan ada yang minta, kok!" sindir Revan.
Diana tetap bergeming, dia benar-benar malas meladeni pria itu.
Tapi rupanya Revan tak mau berhenti, dia kembali menggoda Diana. Tanpa permisi dia mengusap sudut bibir Diana dengan ibu jarinya, "Sudah kubilang makannya pelan-pelan aja! Lihatlah, jadi belepotan gini!"
__ADS_1
Diana tertegun dengan wajah merona, darahnya seketika berdesir dan jantungnya berdebar kencang karena tiba-tiba mendapat perlakuan manis itu dari Revan, namun dia berusaha menguasai diri.
Revan mengulum senyum, dia bisa melihat wajah Diana yang merah karena malu. Padahal tadi dia berbohong karena sama sekali tidak ada sisa bubur di bibir wanita itu.
"Wah, wajahmu merah! Jadi enggak pucat lagi!" ledek Revan.
Diana merasa canggung dan malu, dia lantas meletakkan cup berisi bubur itu di atas meja.
"Loh, sudah selesai makannya? Kan buburnya masih banyak?" cecar Revan.
"Aku hilang selera dan mual gara-gara dekat kau!"
"Masa, sih? Biasanya para wanita justru makin bertambah selera makannya jika berada di dekatku," seloroh Revan.
Wajah Diana berubah masam, "Tapi aku enggak! Sebaiknya kau pergi dan jauh-jauh dariku!"
"Aku enggak akan pergi dan menjauhi mu, meski kau mengusirku berulang kali," sahut Revan.
"Kalau begitu aku yang akan pergi!" Diana hendak turun dari atas ranjang, tapi dengan cepat Revan memeluknya, membuat wanita itu melotot karena terkejut dan syok.
"Aku juga enggak akan membiarkan kau pergi dan menjauhiku," ucap Revan.
"Lepaskan aku!" Diana berusaha melepaskan diri dan mendorong dada Revan, tapi pria itu justru semakin mengeratkan pelukannya.
Tepat di saat itu, pintu ruang perawatan Diana terbuka. Raka, Siska dan Dafa pun menyelonong masuk.
Darah Raka langsung mendidih melihat pemandangan tersebut, dengan langkah yang lebar dia berjalan mendekati kedua insan itu lalu menarik bahu Revan, "Lepaskan dia, bangsat!"
Pelukan Revan terlepas dari Diana, dan Raka langsung melayangkan pukulan telak ke wajah Revan.
Bugh.
***
__ADS_1
Maaf kalau aku akan slow update, soalnya lagi sibuk banget buat persiapan lebaran.ππΌπ