
Revan duduk di depan ruang IGD sambil menatap layar ponselnya yang tertera nama Sofia, sejak tadi wanita itu terus menghubunginya, tapi tak sekalipun dia menjawab.
"Bagaimana keadaan Dafa?" tanya Siska yang baru tiba di rumah sakit.
Revan tersentak dan langsung menoleh wanita paruh baya itu, "Sudah mendingan, Tante. Dokter sudah memberikannya obat, tinggal menunggu dia sadar dan bisa pulang ke rumah."
Siska mengembuskan napas lega, "Syukurlah, Tante sempat takut sekali tadi."
"Aku juga, Tante," sahut Revan, dan Siska menatapnya penuh arti.
"Dokter bilang apa? Dafa enggak sakit yang serius, kan?" tanya Siska lagi.
"Enggak, dia cuma keracunan makanan aja," jawab Revan sedikit menyesal.
Siska terkejut mendengar penuturan produser ganteng itu, "Keracunan makanan? Kok bisa?"
"Mungkin dari salah satu camilan yang aku kasih kemarin."
"Ya ampun!"
"Ini salah aku, Tante. Aku sudah memberikan dia makanan yang tidak baik untuk kesehatannya, aku sudah membahayakan dia," sesal Revan.
"Sudahlah, kamu kan enggak tahu kalau bakal seperti ini. Lagian Dafa juga enggak apa-apa, kok. Jadi jangan merasa bersalah."
Revan mengangguk meski dalam hati dia tetap merasa bersalah atas apa yang menimpa bocah gemas itu.
"Oh iya, ini kunci mobil kamu." Siska menyodorkan sebuah kunci, dan Revan menerimanya.
"Tadi Sofia menelepon Tante, katanya kamu ada pekerjaan dan mau temani dia syuting. Ya sudah, kamu bisa pergi sekarang, biar Tante yang temani Diana dan Dafa."
Revan menggeleng, "Enggak apa-apa, Tante. Aku di sini aja, aku juga ingin menemani Dafa sampai dia bangun."
"Tapi bagaimana dengan Sofia dan pekerjaan kamu?"
"Nanti aku bisa hubungi asisten aku untuk menghandle semuanya, Tante tenang aja!"
"Baiklah, kalau begitu Tante lihat Dafa dulu."
"Iya, Tante."
Siska tersenyum dan bergegas masuk ke dalam ruang IGD, dia bisa melihat betapa Revan sangat peduli dan khawatir pada Dafa.
"Bagaimana Dafa, Di?" tanya Siska saat berada di samping Diana yang terus menjaga buah hatinya itu.
"Dia masih tidur, Tante. Tapi sudah lebih baik, panasnya sudah turun dan dia enggak muntah-muntah lagi," terang Diana.
"Syukurlah. Tante dengar dari Revan, katanya Dafa keracunan makanan."
"Iya, ini semua gara-gara makanan yang dia berikan, anakku jadi sakit begini," gerutu Diana.
__ADS_1
"Dia enggak sengaja, Di. Dia juga enggak menyangka akan seperti ini, jadi kamu jangan menyalahkan dia lagi."
"Biar aja, Tante. Biar dia enggak lancang memberikan apa pun untuk anakku lagi."
"Diana, dia itu ayah kandung Dafa. Wajar kalau dia memberikan sesuatu untuk anaknya."
Diana bergeming, sebenarnya dia ingin membantah ucapan Siska, tapi dia takut menyinggung perasaan tantenya itu.
Melihat Diana diam membisu, Siska sengaja mengalihkan pembicaraan, "Oh iya, kamu sudah memberi kabar ke Bu Eliana kalau hari ini kamu enggak masuk kerja?"
Diana baru tersadar, "Ya ampun, belum. Aku pinjam ponsel Tante, ya? Ponselku tertinggal. Aku mau menelepon Bu El."
Siska mengangguk lalu mengeluarkan telepon genggamnya dari dalam tas yang dia bawa, "Ini, pakailah!"
Diana segera menghubungi Eliana dan menyampaikan apa yang terjadi sekalian meminta izin untuk cuti bekerja.
Sementara itu, Sofia mendengus jengkel, dia sudah berulang kali menghubungi Revan, tapi pria itu sama sekali tak menjawab panggilannya. Bahkan pesan yang dia kirim juga enggak dibalas.
"Kamu lagi ngapain, sih? Apa susahnya jawab telepon aku? Nyebelin banget!" Sofia mengomel sambil terus menelepon kekasihnya itu.
***
Revan mengantarkan Diana, Dafa dan Siska pulang ke rumah setelah balita lucu itu bangun. Tadinya Diana menolak dan lebih memilih naik taksi, tapi Revan memaksa dengan alasan kenyamanan untuk sang putra.
"Aku bawa Dafa ke kamar dulu." Diana langsung menggendong putranya itu ke kamar tanpa mengatakan apa pun pada Revan.
Merasa tidak enak karena dicuekin oleh Diana, Siska pun membuka pembicaraan dengan Revan.
"Enggak sama sekali, Tante. Ini sudah tanggung jawab aku, karena Dafa sakit kan karena aku."
Siska tersenyum, "Kamu ini masih saja menyalahkan diri sendiri."
"Permisi." Raka tiba-tiba datang sambil membawa parcel berisi buah-buahan.
"Eh, Nak Raka. Silakan masuk!"
Raka tersenyum dan melangkah masuk.
"Aku mau jenguk Dafa, Tan. Tadi begitu dengar kabar dia sakit dan sudah dibawa pulang, aku langsung ke sini." Raka menjelaskan maksud kedatangannya.
Revan hanya menatap pemuda di depannya itu dengan tajam, dia merasa kesal dengan kedatangan Raka, ada rasa tak rela di dalam hatinya jika pemuda itu dekat-dekat dengan Dafa dan Diana.
"Dafa baru aja ke kamar bersama Diana," sahut Siska.
"Kalau begitu aku titip ini ke Tante aja, deh!" Raka menyerahkan parcel yang dia bawa.
"Iya, nanti Tante sampaikan ke Dafa dan Diana." Siska menerima parcel itu.
"Kalau begitu aku permisi dulu, Tante."
__ADS_1
"Iya, terima kasih, ya," ucap Siska.
"Mari, Mas." Raka menegur Revan sebelum pergi, dan produser ganteng itu hanya tersenyum simpul.
"Hem, yang tadi itu pacarnya Diana, ya, Tante?" tanya Revan penasaran.
Siska sedikit terkejut mendengar pertanyaan Revan itu.
"Bukan, dia itu anak pemilik laundry tempat Diana bekerja. Tapi dia menyukai Diana, makanya dia selalu perhatian pada Diana dan Dafa."
"Sepertinya Dafa sudah akrab dengan dia," lanjut Revan, ada sedikit rasa cemburu mengingat Dafa ingin pemuda itu menjadi ayahnya.
"Iya, Nak Raka itu orangnya baik dan ramah, dia gampang akrab dengan siapa aja. Terus kelihatannya dia juga sayang dengan Dafa, makanya Tante sarankan ke Diana agar mau menerima dia jadi suami." Siska sengaja mengatakan hal itu untuk memancing reaksi Revan.
Mendengar semua itu, hati Revan menjadi panas, dia tak rela ada pria lain yang menjadi ayah untuk Dafa.
"Apa Diana mau menikah dengan dia, Tante?" Revan memastikan.
"Diana sih belum mengiyakan, tapi dia juga enggak menolak Nak Raka. Ya namanya perempuan, kalau terus-terusan dikasih perhatian, pasti nanti luluh juga," jawab siska sok tahu.
Perasaan Revan jadi tak karuan, dia mendadak takut Diana menerima pemuda bernama Raka itu sehingga Dafa jadi menganggap orang lain sebagai ayah.
"Tan, boleh aku minta nomor Diana?"
Siska mengernyit, "Buat apa?"
"Agar aku bisa menanyakan keadaan Dafa, untuk memastikan dia baik-baik aja," dalih Revan.
"Kamu kan bisa tanya ke Sofia saja."
"Tante kan tahu Sofia jarang ada di rumah dan sering pulang larut malam, mana mungkin dia tahu kondisi Dafa dua puluh empat jam."
"Diana juga enggak tahu, seharian dia di laundry, cuma malam saja bareng Dafa. Yang dua puluh empat jam bersama Dafa itu Tante, berarti kamu simpan nomor Tante aja."
Revan kesal, karena alasannya tak tepat untuk meminta nomor Diana.
"Ya sudah, ini kamu catat nomor Tante. Kalau mau tahu tentang Dafa, telepon Tante aja."
Revan mengangguk pasrah, dia tak mungkin menolak.
Siska pun menyebutkan satu persatu angka, dengan malas Revan mencatatnya di ponsel lalu menyimpannya dengan nama -Mama Sofia-
"Kalau begitu aku pamit dulu, Tante." Revan beranjak dari duduknya.
"Iya, sekali lagi terima kasih, ya. Jangan lupa telepon kalau mau tahu tentang Dafa!"
Revan mengangguk, "Aku permisi, Tante. Selamat siang."
"Selamat siang," balas Siska, dia terkekeh geli karena berhasil mengerjai Revan, padahal yang dia kasih itu memang nomor Diana.
__ADS_1
Siska sengaja memberikan nomor keponakannya itu kepada Revan agar mereka ada komunikasi tentang Dafa.
***