Diana (Gadis Yang Ternoda)

Diana (Gadis Yang Ternoda)
Episode 53.


__ADS_3

Revan duduk termenung di ruang keluarga, entah mengapa kata-kata Diana barusan begitu mengganggu pikirannya? Hatinya seolah berdenyut saat mendapati kenyataan bahwa wanita yang selama ini selalu mengganggu pikirannya itu belum bisa menerima dirinya, bahkan melupakan rasa sakit yang pernah dia torehkan dulu. Apakah Diana begitu membenci dirinya sampai sulit memaafkan dan menerima dirinya? Padahal selama ini dia menyimpan perasaan yang dia yakini itu adalah cinta.


Dia memaksa Diana untuk menikah dengannya bukan semata hanya ingin menutupi aib, tapi dia memang benar-benar ingin memiliki wanita itu. Dia berharap bisa menebus semua kesalahannya dengan mencintai dan menjaga Diana seumur hidupnya, begitu juga dengan Dafa.


Sebenarnya bisa saja dia mengungkapkan perasaannya ini pada Diana, tapi dia takut Diana tak mempercayainya. Dia ingin perlahan-lahan menunjukkan rasa cintanya hingga Diana yakin padanya, tapi sayangnya dia terlalu sulit mengontrol diri dan hawa nafsunya, apalagi selama ini dia sangat merindukan ibu dari anaknya itu.


Tiba-tiba Lenny keluar dari kamar, dia hendak mengambil minum karena tenggorokannya kering setelah membacakan cerita untuk Dafa yang kini sudah tertidur pulas, dan dia terkesiap melihat Revan sedang duduk melamun seorang diri, dia pun segera menghampiri putranya itu.


"Revan!" tegur Lenny.


Revan yang kaget sontak menoleh, "Eh, Mama."


"Sedang apa kamu di sini sendirian?" cecar Lenny penasaran, bukankah tadi Revan berkata ingin membuatkan adik untuk Dafa, tapi kenapa sekarang putranya itu ada di sini?


"Aku sedang ingin sendiri, Ma," jawab Revan pelan, wajahnya tampannya terlihat murung dan sendu.


Melihat gelagat Revan, Lenny curiga jika ada sesuatu yang menggangu sang putra, dan feeling-nya ini ada sangkut pautnya dengan Diana.


"Kamu kenapa? Sedang ada masalah, ya?" tebak Lenny.


"Enggak, kok, Ma."


"Van, Mama ini ibu yang melahirkan kamu. Mama bisa merasakan kegundahan hatimu, Mama tahu kamu pasti sedang ada masalah."


Revan bergeming. Di saat bersamaan Diana menuruni anak tangga dan mendengar percakapan ibu dan anak itu, dia lantas bersembunyi dibalik tembok agar bisa menguping pembicaraan mereka.


Lenny menyentuh pundak putranya itu, "Van, cerita pada Mama! Siapa tahu Mama bisa bantu, atau paling enggak bisa sedikit mengurangi beban di hati kamu."


"Aku lagi galau, Ma," ujar Revan akhirnya.


"Galau kenapa? Kamu dan Diana bertengkar?"


Revan menggeleng, "Bukan, Ma. Aku sedih karena Diana belum bisa menerima aku dan melupakan apa yang pernah aku lakukan dulu."

__ADS_1


Diana tertegun mendengar pengakuan Revan itu, dia jadi ikut merasa sedih.


"Sayang, Diana pernah mengalami masa yang sangat sulit dan berat dalam hidupnya, dia pasti trauma. Jadi kalau dia belum bisa melupakan apa yang terjadi, itu wajar! Karena pasti enggak mudah baginya melewati semua itu."


"Iya, aku tahu, Ma. Tapi entah kenapa aku merasa sakit?"


"Sakit mu enggak ada apa-apanya dibandingkan rasa sakit yang selama ini Diana rasakan, jadi bertahanlah sedikit!"


"Aku pikir setelah aku minta maaf dan bertanggung jawab dengan menikahinya, dia akan memaafkan aku. Tapi ternyata dia masih saja membenciku."


"Mama yakin Diana enggak membenci kamu lagi, dia hanya butuh waktu untuk menyembuhkan lukanya dan melupakan rasa sakitnya. Nanti setelah dia pulih, dia pasti akan menerima kamu dengan sepenuh hati. Karena Mama tahu Diana itu wanita yang baik."


Revan kembali bergeming mendengar nasihat dari sang mama. Diana juga merasa terharu, dia sampai tak kuasa menahan air matanya.


"Sekarang Mama tanya, kamu mencintai Diana?"


Revan diam, namun pada akhirnya dia mengangguk, "Iya, Ma."


"Sejak kapan?"


Diana yang masih bersembunyi di balik tembok semakin merasa terharu, air matanya bertambah banyak. Dia teringat pada pengorbanan Revan yang rela terluka dan nyaris mati demi menyelamatkan dirinya.


"Jadi selama ini dia mencintaiku?" batin Diana, dia benar-benar tak menyangka pria yang pernah sangat dia benci itu menaruh hati padanya. Dia pikir selama ini Revan hanya ingin memanfaatkan dirinya dan menggodanya saja, tapi ternyata dia salah.


***


Setelah menguping pembicaraan Lenny dan Revan tadi, Diana kembali ke kamar sebelum ada yang menyadari kehadirannya. Dia duduk termenung di tepi ranjang, pengakuan Revan barusan benar-benar membuat perasaannya campur aduk. Selama ini dia tak pernah berpikir jika Revan mencintainya, dia bahkan tak berharap ada cinta di antara mereka. Tapi entah mengapa ketika mengetahui kenyataan ini, hatinya justru merasa bersalah.


Diana kembali teringat dengan semua sikap dan kelakuan Revan, perhatian, amarah bahkan sentuhan pria itu selama ini. Sedikitpun dia tak mengira jika itu karena cinta. Lalu bagaimana dengan dirinya sendiri?


Diana menyentuh dadanya yang tiba-tiba berdebar, dia teringat ucapan Siska tempo hari jika antara cinta dan benci itu hanya dibatasi dinding yang tipis. Mungkinkah tanpa dia sadari bahwa dirinya juga mencintai Revan?


Pintu kamar itu terbuka, dia yang kaget sontak menoleh. Rupanya setelah mencurahkan keresahan hatinya pada Lenny, Revan kembali ke kamar sambil menyeret koper Diana yang dia minta dari sang mama.

__ADS_1


"Ini kopermu," ujar Revan dengan wajah datar sembari menyerahkan benda berbentuk kotak itu pada sang istri.


Diana bangkit dan meraih koper itu, "Terima kasih."


"Sekarang kamu bisa ganti pakaian!" Revan langsung berbalik hendak pergi lagi setelah mengatakan itu.


"Hem, tunggu!"


Langkah kaki Revan terhenti mendengar suara Diana, dia lantas berbalik menatap istrinya itu, "Kau butuh sesuatu?"


Diana menggeleng, "Enggak, aku cuma mau minta maaf padamu."


Revan mengernyit bingung, "Minta maaf untuk apa?"


Diana sedikit gugup, "Hem, karena selama ini aku sudah berkata dan bersikap kasar padamu. Aku juga sudah menolak mu tadi."


Revan memaksakan senyuman, "Enggak perlu minta maaf, aku mengerti kenapa kau melakukan itu. Bahkan jika kau ingin membenciku seumur hidupmu pun, aku terima. Karena aku memang pantas mendapatkannya."


Diana tertegun sedih mendengar kata-kata Revan, sama halnya seperti Revan yang juga merasa sedih mengatakannya.


"Aku sudah memaafkan mu, dan membuang rasa benci itu. Aku sudah putuskan untuk berdamai denganmu dan masa laluku," ucap Diana dengan air mata berlinang.


Revan terkesiap, "Benarkah? Kau sudah enggak benci lagi padaku?"


"Iya, aku lelah terus berkubang di dalam rasa sakit dan kebencian. Toh, nyatanya itu enggak membuat semuanya lebih baik, dan aku tetap enggak bahagia."


Tanpa permisi Revan langsung berlari dan memeluk Diana dengan erat, air matanya bahkan jatuh menetes, "Terima kasih, Diana! Terima kasih banyak! Maafkan aku karena pernah jadi penyebab kehancuran hidupmu, aku sudah membuatmu menderita dan bersedih selama ini."


Diana hanya mengangguk sambil menangis di dalam pelukan Revan, dia tak bisa berkata-kata lagi. Tapi satu hal yang dia tahu, kini hatinya merasa sangat lega dan tenang.


Revan mengurai pelukannya dan menatap Diana dengan mata yang basah, "Bisakah kita memulai lembaran baru sebagai keluarga? Kita akan merawat Dafa bersama dan mengejar kebahagiaan kita."


Diana lagi-lagi mengangguk, dan Revan kembali memeluk istrinya itu dengan penuh kebahagiaan dan rasa syukur.

__ADS_1


"Terima kasih, Tuhan. Terima kasih, Diana. Aku berjanji akan selalu menjaga dan membahagiakan kalian," tutur Revan lalu mengecup kepala Diana dengan air mata berderai, dia benar-benar tak kuasa menahan rasa bahagia dan syukurnya.


***


__ADS_2