Diana (Gadis Yang Ternoda)

Diana (Gadis Yang Ternoda)
Episode 8.


__ADS_3

Revan duduk di ruang tamu, dia masih berusaha menenangkan diri. Ternyata benar yang dikatakan Sofia, anak Diana itu sangat mirip dengannya sewaktu kecil, bahkan mereka seperti kembar.


"Silakan di minum!" Siska datang dan menghidangkan segelas teh hangat di atas meja.


"Terima kasih, Tante," ucap Revan.


Siska tersenyum, lalu duduk di hadapan produser ganteng tersebut.


Dafa pun menghampiri wanita paruh baya itu dan langsung naik ke pangkuannya, "Oma, kenapa Bunda belum pulang?"


"Mungkin sebentar lagi, kita tunggu, ya!" balas Siska pelan.


Revan terus memandangi Dafa yang kini duduk di depannya, semakin diperhatikan, bocah berambut lurus itu semakin mirip dengannya.


"Kamu sudah kenalan dengan Om ini belum?" tanya Siska demi mengalihkan perhatian Dafa agar tidak terus merengek menanyakan Diana.


Dafa menggeleng dengan wajah cemberut.


"Sekarang salam Om ini, terus ajak kenalan!" pinta Siska.


Dafa turun dari pangkuan Siska dan berjalan mendekati Revan lalu mengulurkan tangannya, "Aku Dafa, nama Om siapa?"


Revan menjabat tangan kecil Dafa dengan gemetar, hatinya seperti ingin meledak menahan perasaan yang tak karuan.


"Hai, Dafa. Kenalin nama Om, Revan." Revan ingin sekali memeluk tubuh kecil yang berdiri di hadapannya itu, tapi dia tak cukup berani untuk melakukannya.


Di saat bersamaan Diana pulang dan melihat semua itu. Dia mendadak panik serta cemas, tanpa pikir panjang dia langsung mendekati Revan dan Dafa lalu menggendong sang putra.


"Jangan sentuh anakku!" Diana memeluk Dafa dan menatap tajam Revan.


Tingkah Diana itu sontak membuat Revan dan Siska terkejut, begitu juga dengan Sofia yang baru saja turun.


"Diana!" seru Siska bingung.


"Apa-apaan kau ini?" sergah Sofia sembari berjalan mendekati Revan.


"Aku enggak suka anakku disentuh oleh orang asing!" kecam Diana penuh emosi.


"Dia bukan orang asing, dia pacarku!" sungut Sofia sembari memeluk lengan Revan.


"Tapi dia orang asing untuk anakku!" balas Diana dan bergegas membawa Dafa pergi dari sana.


Revan memandangi kepergian ibu dan anak itu dengan kecewa, tapi dia sadar yang dikatakan Diana itu benar. Dia memang orang asing untuk bocah gemas itu.


"Dia kenapa, sih? Sombong banget! Udah untung orang mau menyentuh anak haramnya itu!" gerutu Sofia, dan Revan langsung menatap kekasihnya itu dengan tajam.


"Sofia, jaga bicaramu!" tegur Siska.


"Mama kenapa marahin aku? Seharusnya Mama marahin dia karena udah bikin malu kita di hadapan Mas Revan! Dasar enggak punya sopan santun!"


"Iya, tapi kata-kata kamu itu enggak pantas! Bagaimana kalau Diana dengar? Dia pasti sakit hati." Siska mengomeli putrinya itu.

__ADS_1


"Itu kan kenyataan, Ma! Anaknya itu lahir di luar nikah dan enggak jelas siapa ayahnya, apa coba namanya kalau bukan anak haram." Sofia kembali menghina Diana.


Revan mengeraskan rahangnya mendengar Sofia lagi-lagi menghina Diana dan Dafa, dia ingin sekali marah, tapi tak mau memperkeruh suasana.


"Cukup, Sofi!" Siska membentak putrinya itu.


Sofia sontak terdiam malu karena Siska memarahinya di depan Revan, wajahnya langsung cemberut.


Siska lalu menatap Revan, "Tante minta maaf atas nama Diana, ya, Nak Revan? Tante juga enggak tahu kenapa dia seperti itu, biasanya dia ramah dan sopan, kok!"


"Enggak apa-apa, Tante. Mungkin dia enggak suka kalau anaknya disentuh oleh sembarangan orang," jawab Revan, dia mencoba bersikap biasa saja walaupun hatinya tak karuan.


Sofia memutar bola matanya dengan malas mendengar sang ibu masih saja membela Diana.


"Tante juga minta maaf atas sikap Sofia!" lanjut Siska.


Sofia tak terima, "Mama!"


"Iya, Tante. Kalau begitu aku permisi dulu, aku masih ada urusan." Revan beranjak dari duduknya.


"Iya, Nak Revan."


"Selamat sore."


"Selamat sore," balas Siska dan Sofia bersamaan.


Revan segera meninggalkan rumah Siska dengan perasaan campur aduk.


"Kenapa kamu membuka aib Diana di depan Nak Revan? Itu enggak baik, Sof!" protes Siska saat dia hanya tinggal berdua dengan sang putri.


Siska mengerutkan keningnya, "Tahu dari mana?"


"Aku sudah cerita semuanya ke dia!"


"Kamu ini! Bukankah kita sudah sepakat untuk menutupi aib Diana, kenapa kamu cerita ke orang lain?"


"Ma, Revan bukan orang lain! Dia pacar aku dan sebentar lagi kami akan menikah, jadi apa salahnya aku cerita. Toh, nanti dia juga akan tahu tentang Diana dan Dafa."


"Tapi bukan berarti kamu bisa menghina Diana di depan dia seperti tadi!"


"Sudahlah, Ma! Aku capek terus-terusan berdebat dengan Mama karena Diana! Sebenarnya yang anak kandung Mama itu aku atau dia, sih?"


"Kamu memang anak kandung Mama, tapi Mama juga sudah menganggap Diana seperti anak sendiri."


"Kalau begitu bela saja dia terus, dan jangan pedulikan aku lagi!" Sofia merajuk dan berlalu dari hadapan Siska.


"Sofia!" panggil Siska, tapi sang putri tak menggubrisnya.


Siska menghela napas, dia heran kenapa Sofia enggak pernah bisa bersikap baik terhadap Diana? Putrinya itu selalu saja menghina dan merendahkan Diana.


Sementara itu di dalam kamarnya, Diana memeluk Dafa dan menangis sesenggukan. Dia benar-benar panik dan cemas, dia takut Revan mengetahui tentang Dafa.

__ADS_1


"Bunda kenapa? Kok nangis lagi?"


Diana melepaskan pelukannya dan menatap Dafa dengan mata yang basah, "Kamu kenapa mau dekat-dekat dengan orang tadi? Bunda kan sudah bilang jangan dekat-dekat dengan orang yang enggak kamu kenal."


"Oma yang suruh aku kenalan sama Om itu, Bunda," adu Dafa polos.


"Lain kali jangan mau dekat-dekat dengan dia, ya! Dia itu orang jahat!"


Dafa mengangguk, "Iya, Bunda."


Diana kembali memeluk tubuh kecil sang putra dengan erat.


Tiba-tiba pintu kamar Diana diketuk dari luar, lalu terdengar suara Siska, "Di, boleh Tante masuk?"


"Iya, boleh Tante," sahut Diana sembari mengurai pelukannya pada Dafa dan mengusap air matanya.


Dengan perlahan pintu berwarna coklat tua itu terbuka, Siska muncul dan melangkah mendekatinya.


"Kamu baik-baik saja, Di?" tanya Siska sebab melihat mata keponakannya itu sembab dan merah.


Diana mengangguk, "Iya, Tante."


"Sebenarnya kamu kenapa? Kamu lagi ada masalah?"


Diana terdiam, dia mencoba mencari jawaban yang tepat untuk menjawab Siska.


Siska menyentuh pundak keponakannya itu, "Diana, kamu bisa cerita pada Tante."


"Aku hanya enggak suka ada orang asing menyentuh anakku, Tan," jawab Diana akhirnya.


"Tapi kamu enggak seperti ini sebelumnya! Waktu itu Dafa pernah digendong oleh tetangga baru kita yang belum kamu kenal, kamu enggak semarah ini. Kenapa tadi sepertinya kamu marah banget?"


Diana kembali terdiam, dia bingung harus memberikan alasan apa.


"Diana, sepertinya Nak Revan itu orangnya baik, jadi kamu jangan khawatir kalau Dafa dekat dengannya," sambung Siska.


Dada Diana bergemuruh hebat mendengar kata-kata yang diucapkan Siska, dia bahkan sampai mengepalkan tangannya menahan geram dan amarah. Siska tak tahu jika pria itu lah penyebab dari semua penderitaan dan hinaan yang dia rasakan. Revan adalah orang yang paling dia benci di dunia ini, dan dia tak rela pria itu menyentuh darah dagingnya.


"Aku minta maaf, Tante. Tapi aku tetap enggak suka dia menyentuh anakku."


"Iya, tapi apa alasannya?"


"Aku enggak suka aja!" Diana bersikeras.


Siska mengembuskan napas berat, "Ya sudah kalau kamu enggak suka, Tante enggak bisa paksa. Itu hak kamu, karena Dafa putramu."


Diana tak membalas ucapan Siska, sampai kapanpun dia enggak akan mengizinkan Revan menyentuh Dafa.


"Kalau begitu sekarang Tante keluar dulu, sebentar lagi turunlah untuk makan malam."


"Iya, Tante."

__ADS_1


Siska beranjak dan segera keluar dari kamar Diana. Sebenarnya dia masih bingung, hatinya bertanya-tanya, kenapa Diana begitu marah saat Revan menyentuh Dafa tadi. Dia merasa ada yang aneh dan janggal dengan sikap keponakannya itu, tapi dia tak bisa menemukan alasan yang tepat dan masuk akal.


***


__ADS_2