
Diana turun dengan lesu, dia tak bersemangat dan masih mengantuk sebab semalaman tak bisa tidur karena memikirkan ucapan Sofia.
"Selamat pagi, Tante," sapa Diana, dia menarik kursi dan segera duduk di hadapan Siska, sementara Sofia tidak terlihat.
"Selamat pagi, Di," balas Siska, kemudian mengernyit melihat mata keponakannya yang sembab, "kamu kenapa, Di? Habis nangis, ya?"
Diana mendadak gugup, "Hem, enggak, kok. Aku cuma kurang tidur aja, Tante."
"Memangnya ada apa sampai kamu kurang tidur?"
"Enggak ada apa-apa, Tan."
"Kamu harus jaga kesehatan, Di! Kalau kamu sakit, kasihan Dafa."
Diana mengangguk, "Iya, Tante."
Sejenak tak ada pembicaraan di antara mereka, keduanya menikmatinya sarapan masing-masing.
"Hem, ada yang mau aku katakan, Tan," ujar Diana akhirnya.
Siska sontak menatap keponakannya itu, "Apa itu, Di?"
"Aku berencana untuk pindah dan mengontrak rumah saja," beber Diana sedih, dia sudah memikirkan semuanya semalaman dan mantap mengambil keputusan ini.
Siska terkejut, "Loh, kenapa mendadak? Apa karena kata-kata Sofia kemarin?"
Diana menggeleng meskipun dalam hati dia mengakui jika Sofia lah salah satu alasannya, "Enggak, Tan. Aku berpikir mungkin udah saatnya aku hidup mandiri dan enggak menyusahkan Tante lagi."
"Di, kamu dan Dafa enggak pernah nyusahin Tante, kok! Tante malah senang kalian ada di rumah ini, Tante jadi enggak kesepian. Kamu kan tahu kalau Sofia jarang ada di rumah, dia terlalu sibuk dengan karir dan dunianya sendiri. Jadi Tante mohon, kamu jangan pindah ya dari rumah ini?"
Diana menatap Siska dengan mata berkaca-kaca, "Maafkan aku, Tante. Tapi aku enggak bisa terus-terusan ada di sini."
Siska lantas menggenggam tangan Diana, wajahnya terlihat sendu, "Di, kalau kamu keluar dari rumah ini, kamu mau tinggal di mana? Biaya sewa rumah itu mahal, belum lagi untuk kebutuhan sehari-hari, sedangkan gaji kamu enggak besar. Terus kalau kamu kerja, Dafa sama siapa? Kasihan dia!"
"Rencananya aku akan meminjam uang dari Bu Eliana untuk menyewa rumah, aku juga akan minta izin agar Dafa boleh ikut ke laundry selama aku bekerja," terang Diana.
"Diana, Tante memang enggak bisa melarang jika itu memang sudah menjadi keputusan kamu, tapi tolong pikirkan lagi! Jangan sampai kamu menyesal mengambil keputusan ini," ucap Siska.
"Keputusan aku sudah bulat, Tante. Aku sudah memikirkannya matang-matang," sahut Diana, bulir-bulir air mata mulai membasahi pipinya.
Siska mengembuskan napas pasrah, "Baiklah kalau begitu, Tante enggak bisa bilang apa-apa lagi. Tante cuma berharap ini keputusan yang terbaik buat kamu dan Dafa. Tapi ingat, pintu rumah ini selalu terbuka untuk kalian. Kapan pun kalian bisa kembali ke sini."
Diana mengangguk, "Iya, tante."
__ADS_1
Sejujurnya Diana sedih jika harus meninggalkan rumah yang sudah dua tahun lebih ini dia tempati bersama sang buah hati, namun dia tak ada pilihan lagi, dia tak ingin Sofia terus-terusan menghinanya dan menganggap dia beban untuk Siska. Dan alasan lain yang membuat Diana mantap untuk angkat kaki dari sini ialah, untuk menghindari Revan. Dia tak ingin pria itu sering-sering bertemu dengan dirinya dan sang buah hati.
***
Diana berdiri di depan ruko tempatnya bekerja, dia menghirup udara dalam-dalam sehingga memenuhi rongga dadanya, lalu mengembuskanya perlahan untuk mengurangi rasa gugup saat bertemu dengan Eliana nanti. Dia harus menebalkan wajahnya untuk meminjam uang dari wanita paruh baya itu agar bisa menyewa sebuah rumah, dan dia berharap Eliana mau berbaik hati kepadanya.
Diana pun lantas masuk dan bertambah gugup saat melihat Eliana sedang menyusun beberapa pakaian yang sudah selesai dimasukkan ke dalam plastik.
"Selamat pagi, Bu El," sapa Diana.
"Selamat pagi, Diana." Eliana menoleh sekilas, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
Dian berjalan melewati Eliana lalu menggantung tas yang dia pakai di rak pakaian.
"Tadi malam Raka ke rumah kamu, ya?" tanya Eliana tiba-tiba.
"Iya, Bu," jawab Diana.
"Pulangnya pukul berapa?" tanya Eliana lagi.
"Sekitar pukul delapan, Bu."
Eliana tertegun mendengar jawaban Diana.
Eliana tersentak dan menggeleng cepat, "Enggak, enggak ada apa-apa, kok!"
"Tapi kenapa dia sampai rumah pukul dua pagi?" batin Eliana bertanya-tanya.
"Bu, ada yang mau aku bicarakan sebentar." Diana memberanikan diri untuk menyampaikan niatnya.
"Iya, silakan! Kamu mau bicara apa, Di?"
"Hem, boleh enggak aku pinjam uang? Nanti Ibu bisa potong tiap bulan dari gaji aku," ucap Diana takut-takut.
"Memangnya untuk apa, Di?"
"Aku rencananya mau mengontrak rumah, Bu," jawab Diana dengan kepala tertunduk karena malu dan takut.
"Loh, kenapa tiba-tiba kamu mau mengontrak rumah sendiri? Apa kamu ada masalah dengan Tante dan sepupu kamu?"
Diana menggeleng, " Enggak ada, kok, Bu! Aku cuma ingin hidup mandiri dan enggak menyusahkan mereka lagi."
"Ya sudah, kalau begitu kamu tinggal di sini aja! Enggak perlu sewa!" putus Eliana.
__ADS_1
Diana tercengang, "Di sini, Bu?"
Eliana mengangguk, "Iya, di lantai atas kan ada kamar, kamu gunakan aja kamar itu! Jadi kamu bisa kerja sekalian jaga anak kamu di sini."
"Ibu serius?" Diana tak percaya Eliana akan berbaik hati memberikannya tempat tinggal gratis dan bahkan mengizinkan dia bekerja sambil menjaga Dafa.
"Tentu saja serius! Jadi kapan kamu akan pindah?"
"Secepatnya, Bu," sahut Diana penuh semangat.
"Ya sudah, nanti kalau ada waktu luang, kamu bersihkan! Soalnya sudah lama enggak digunakan, pasti banyak debunya."
"Iya, Bu. Kalau begitu terima kasih banyak, ya, Bu." Diana benar-benar bersyukur karena dia dikelilingi orang-orang baik seperti Siska, Raka dan Eliana.
"Sama-sama," balas Eliana sembari tersenyum.
***
Sofia sedang melakukan syuting sebuah acara, dari kejauhan Revan memandangi kekasihnya itu. Tapi meskipun tatapannya tertuju ke Sofia, tapi sesungguhnya dia sedang memikirkan Dafa. Walaupun sudah satu malam, tapi rasa kesal masih menghinggapi benaknya.
Kata-kata Dafa masih terngiang-ngiang seolah bocah itu terus saja mengatakannya tanpa henti.
"Tapi aku cuma punya Bunda, aku enggak punya ayah,"
"Kalau gitu Om mau enggak jadi ayah aku?"
"Yeee, aku punya ayah!"
"Berengsek!" bentak Revan kesal sambil menendang kaki meja di depannya tanpa sadar.
Suasana seketika hening, syuting sontak berhenti dan semua orang menatapnya dengan bingung. Untung saja ini bukan acara langsung jadi syutingnya masih bisa diulang lagi.
Revan yang sadar sudah bertingkah konyol dan diluar kontrolnya, merasa malu. Dia merutuki dirinya sendiri.
Sofia mendekati Revan, "Mas kenapa?"
"Enggak apa-apa!" jawab Revan datar.
"Kalau enggak apa-apa, kenapa Mas tiba-tiba marah?"
"Aku ada sedikit urusan, kalian lanjutkan syutingnya!" Revan bergegas pergi meninggalkan Sofia dan lokasi syuting begitu saja.
Sofia memandangi Revan dengan bingung bercampur kesal, dia heran melihat sikap aneh kekasihnya itu dan curiga ada sesuatu yang terjadi.
__ADS_1
***