
Di ranjang rumah sakit, Revan terbaring lemah dan tak sadarkan diri pasca operasi pengambilan peluru yang bersarang di pinggangnya. Untung saja peluru tersebut tidak mengenai organ vitalnya.
Di sisi Revan, Diana berdiri sambil memandang pria itu dengan cemas. Sejak tadi dia tak berhenti menangis saking panik dan cemasnya, dia takut terjadi hal yang buruk pada ayah anaknya itu.
Sejujurnya Diana merasa bersalah, dia tak menyangka pria yang amat sangat dia benci itu rela mengorbankan diri hingga terluka seperti ini demi menyelamatkan dirinya. Diana berhutang nyawa pada Revan.
"Diana, sudahlah! Jangan menangis lagi! Revan kan enggak apa-apa," pinta Siska yang ikut mengantarkan Revan ke rumah sakit, sementara Dafa yang masih ketakutan mereka titipkan pada Eliana dan dibawa ke rumah wanita itu, sedangkan laundry langsung ditutup.
"Tapi aku masih merasa takut dan cemas, Tante," sahut Diana.
"Jangan takut, semua pasti akan baik-baik saja!" Siska mengusap pundak Diana sembari tersenyum.
Diana mengangguk sambil menyeka air matanya.
"Kira-kira siapa yang orang-orang tadi? Kenapa mereka menginginkan Dafa dan sampai nekat begitu?"
"Entahlah, Tante! Aku juga enggak tahu. Aku merasa enggak punya musuh atau sedang bermasalah dengan seseorang," jawab Diana bingung.
"Apa ini ulah Sofia? Dia sengaja menyewa orang-orang tadi untuk menculik Dafa," tebak Siska yang entah mengapa mencurigai putrinya itu.
Diana terdiam, dia baru sadar jika Sofia sangat membencinya dan Dafa, tapi apa sepupunya tersebut setega itu?
"Karena saat ini hanya dia orang yang punya alasan kuat untuk melakukan semua itu," lanjut Siska.
"Tapi aku rasa enggak mungkin, Tante! Sofia enggak akan sejahat itu! Bagaimana pun juga Dafa itu kan keponakannya, dia tak mungkin tega menyakiti Dafa," sanggah Diana, dia berusaha menepis pikiran buruk tentang Sofia.
"Semoga saja itu benar, karena Tante pun berharap bukan Sofia dalangnya, walaupun Tante curiga pada dia."
"Iya, semoga saja, Tan," balas Diana penuh harap.
"Kalau begitu Tante pulang dulu, Tante mau pastikan keadaan Dafa. Kasihan, dia pasti ketakutan banget tadi."
"Iya, biar aku yang menemani Revan sampai dia sadar. Aku mau mengucapkan terima kasih padanya."
"Baiklah, Tante permisi dulu!"
Diana kembali mengangguk, "Tante hati-hati, ya. Cepat kabari aku kalau ada apa-apa!"
Sisak tersenyum dan segera meninggalkan ruang perawatan Revan.
Diana mengembuskan napas berat setelah Siska menghilang dibalik pintu, beberapa hari ini sungguh melelahkan dan menguras tenaga, pikiran serta emosinya. Diana rasanya ingin sekali pergi jauh bersama Dafa agar bisa terlepas dari semua kepedihan serta kesedihan ini. Tapi dia tahu, dia tak mungkin bisa lari dari kenyataan yang ada.
__ADS_1
"Em!"
Diana sontak berbalik memandang Revan yang baru saja bersuara, dia bergegas mendekati pria itu.
Dengan perlahan Revan membuka mata, sepertinya efek obat biusnya sudah habis dan kesadarannya mulai kembali.
"Bagaimana keadaanmu? Apa masih sakit?" cecar Diana sedikit cemas.
Revan tak menjawab, dia hanya menatap Diana tanpa berkedip, membuat wanita itu grogi dan salah tingkah sendiri.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa yang kau rasakan?" Diana kembali bertanya meski dia mulai risih dengan tatapan Revan.
"Apa aku sudah mati?" tanya Revan pelan.
Diana tercengang, dia merasa bingung dengan pertanyaan Revan dan berpikir pria itu masih linglung karena efek obat bius.
"Tentu saja kau masih hidup! Kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Tapi kenapa aku melihat bidadari di sini," ujar Revan dengan wajah datar.
Raut wajah Diana langsung berubah masam, sekarang dia sadar kalau Revan tengah mengerjainya.
"Kau ini! Aku serius, kau malah bercanda!" gerutu Diana dan hendak menjauhi Revan, tapi dengan sigap pria itu menarik tangannya.
"Aku akan lepaskan kalau kau berjanji untuk tetap berada di dekatku!"
"Aku enggak mau!"
"Kau tega bersikap seperti ini padaku? Padahal aku sedang terluka," rengek Revan pura-pura sedih.
Diana tersadar jika Revan seperti ini karena dirinya, dia pun mengalah dan mengangguk, "Ya sudah, tapi lepaskan tanganku!"
Revan tersenyum lalu melepaskan cekalan tangannya.
Sesuai janjinya, Diana tetap berada di dekat Revan walaupun dia tak mau menatap pria itu.
Revan terus menatap dan mengamati wajah cantik Diana, terlihat mata wanita itu sembab dan merah karena habis menangis.
"Pasti tadi kau sangat mencemaskan aku, kan?" Revan bertanya dengan penuh percaya diri.
"Ya cemas lah! Kalau kau mati, aku pasti merasa sangat bersalah karena itu terjadi gara-gara aku!" sahut Diana ketus, dia tetap tak mau memandang Revan.
__ADS_1
"Kalau kau tahu ini semua gara-gara kau, seharusnya kau mengucapkan terima kasih padaku," seloroh Revan.
Diana bergeming, dia memang berniat mengucapkan terima kasih, tapi entah mengapa saat ini lidahnya terasa kelu. Dia gengsi.
"Kenapa diam? Kau enggak berniat mengucapkannya?"
"Iya-iya, terima kasih!" ucap Diana malas.
"Begitu aja?"
Diana sontak memutar kepalanya menatap Revan dengan sinis, "Jadi harus bagaimana lagi?"
"Harusnya kau mencium ku sebagai tanda terima kasih!" kelakar Revan.
"Dasar buaya mesum! Dalam situasi begini pun kau masih saja ingin mencari kesempatan!" Diana kesal dan memukul Revan.
"Aduh, sakit!" Revan merintih sembari memegangi pinggangnya.
Diana terhenyak dan merasa bersalah, "Maaf-maaf! Aku lupa!"
"Kau kasar sekali!" keluh Revan.
"Habis kau menyebalkan!" balas Diana dan kembali membuang muka karena kesal.
Revan tersenyum melihat Diana merajuk, seolah rasa sakit di pinggangnya sirna begitu saja. Revan lalu meraih tangan Diana kemudian menggenggamnya dengan sangat erat.
Diana spontan menoleh, namun sebelum sempat protes, Revan sudah lebih dulu bicara.
"Diana, menikahlah denganku! Agar aku bisa menjaga kamu dan Dafa!"
Diana tertegun mendengar kata-kata Revan itu, dia bahkan lupa kalau tangannya masih digenggam pria itu.
"Kamu lihat kan apa yang terjadi? Itu artinya ada orang yang ingin menyakiti kalian, jadi izinkan aku menjaga kalian setiap saat. Lagipula ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan nama baik kita dan masa depan Dafa, jadi aku mohon batalkan lamaran mu dengan si Raka itu lalu menikah denganku!" lanjut Revan.
"Aku sudah membatalkan lamaran Mas Raka."
Revan terkesiap, wajahnya langsung sumringah, "Benarkah? Itu artinya kau bersedia menikah denganku?"
Diana kembali terdiam mendengar pertanyaan Revan itu.
***
__ADS_1
Kira-kira Diana terima enggak ya?🤔
Ayo komen!ðŸ¤