
Di dalam kamar Revan duduk di tepi ranjang sambil memegangi pinggangnya, dia meringis kesakitan. Diana menjadi panik dan cemas, dia merasa bersalah karena menyebabkan Revan kesakitan seperti ini.
"Sakit sekali, ya?" tanya Diana, dan Revan hanya mengangguk sambil memejamkan mata.
"Apa kau ingin aku ambilkan obat?"
"Enggak usah! Tolong bantu aku buka baju dan cek lukanya, aku takut jahitannya terbuka lagi."
Diana tertegun mendengar permintaan Revan itu.
"Cepat, Di!" desak Revan saat melihat Diana terdiam.
"Iya-iya." Diana pun bergegas membantu Revan membuka kemeja putih yang pria itu kenakan, dia sempat terpana melihat tubuh atletis Revan dan perut kotak-kotak pria itu, namun dia segera mengendalikan diri.
"Coba lihat lukanya, apakah terbuka?" pinta Revan.
Diana mengamati luka di pinggang Revan yang mulai mengering, syukurlah jahitan luka itu tidak terbuka lagi seperti yang Revan khawatirkan.
"Bagaimana?"
"Enggak terbuka, kok. Lukanya aman."
"Tapi kenapa sakit sekali?" keluh Revan.
"Kalau begitu biar aku ambilkan obat saja, biar sakitnya reda." Diana hendak keluar kamar.
Revan menggeleng, "Enggak usah!"
Langkah Diana langsung terhenti, dia berbalik menatap Revan yang lagi-lagi merintih kesakitan, membuatnya semakin merasa bersalah.
"Hem, aku minta maaf. Aku enggak sengaja, aku lupa kalau kau sedang terluka," ucap Diana penuh penyesalan.
Mendengar permohonan maaf Diana, Revan pun jadi mendapatkan ide licik.
"Kau pasti sengaja! Aku tahu itu!" tuduh Revan, lalu kembali meringis.
"Enggak, aku bersumpah kalau aku enggak sengaja!"
"Kau kan membenciku, pasti kau senang kalau aku kesakitan seperti ini." Revan semakin menjadi.
"Jangan bicara sembarangan! Aku enggak sejahat itu! Aku sungguh enggak sengaja tadi!"
__ADS_1
"Ah, sakit sekali. Dadaku juga terasa sesak!" Revan pura-pura sesak napas.
Melihat kondisi Revan, Diana bertambah panik dan cemas, "Kau kenapa? Aku cari bantuan dulu!"
"Aku enggak tahan! Aku butuh napas buatan! Tolong aku, Diana!" Revan terjatuh di atas kasur dan berakting seolah-olah dia kesulitan bernapas.
"Napas buatan?" Diana ragu dan bingung.
"Dia-na to-long!" Revan mulai terbata-bata.
Diana yang panik dan polos pun mau-maunya saja menuruti permintaan Revan, dia naik ke atas ranjang dan memberikan napas buatan untuk Revan. Tentu saja kesempatan emas ini dimanfaatkan sebaik-sebaiknya oleh Revan, dia sontak memeluk Diana dan membalikkan tubuh wanita itu menjadi di bawahnya. Revan mengambil alih situasi, upaya napas buatan itu kini berubah menjadi ciuman yang liar. Diana yang kaget berusaha melepaskan diri dari Revan, tapi sama seperti tadi, dia tak berhasil.
Diana kembali ingin mengigit bibir Revan, tapi dengan cepat pria genit itu melepaskan tautan bibir mereka dan tersenyum menatap Diana yang kini berada di bawah kungkungan nya.
"Ternyata kau ngerjain aku!" sungut Diana kesal.
"Tadi aku memang benaran sakit, tapi begitu kau memberikan napas buatan, sakitnya langsung hilang dan rasanya terlalu rugi jika enggak memanfaatkan semua itu," ujar Revan santai.
"Alasan! Dasar buaya mesum licik! Lepaskan aku!" Diana memberontak dan berusaha melepaskan diri.
"Bukankah sudah kubilang kalau kita akan melewati malam ini dengan penuh gairah, jadi kali ini aku enggak akan melepaskan mu lagi!"
"Aku enggak mau!" tolak Diana.
Diana terdiam, dia pernah mendengar ceramah seperti itu dan dia tahu hukumnya menolak melayani suami, tapi masalahnya dia belum siap melakukan hubungan itu dengan Revan. Bagaimana pun juga, tak mudah baginya menerima Revan dan melupakan begitu saja semua yang pria itu lakukan di masa lalu.
"Kenapa diam? Kau sudah pasrah sekarang?"
"Bisa enggak kau beri aku waktu sampai aku benar-benar siap melakukannya denganmu?"
"Waktu? Sampai kapan?"
"Sampai aku bisa menerima mu dan melupakan semua rasa sakit ini," jawab Diana, air matanya pun jatuh menetes.
Revan termangu, melihat air mata Diana, dia menjadi tak tega untuk melanjutkan apa yang sudah lama dia inginkan. Akhirnya dia memutuskan untuk turun dari ranjang dan memakai kembali kemejanya, lalu berjalan keluar kamar.
Diana memandangi kepergian Revan dengan sedih, meskipun dia bersedia menikah dengan Revan, tapi dia belum bisa sepenuhnya menerima Revan, walau dia tak lagi marah dan membenci pria itu. Dia butuh waktu sampai hatinya benar-benar siap dan yakin dengan keputusannya. Dia juga ingin Revan melakukan semua itu karena cinta, bukan sekedar nafsu belaka seperti empat tahun yang lalu.
***
Gemerlap lampu kelap-kelip dan dentuman musik yang bising menemani sesosok pria malang yang sedang patah hati. Dialah Raka. Sudah belasan gelas minuman keras dia tenggak, berharap bisa melupakan kesedihan dan rasa sakit yang tengah dia rasakan saat ini.
__ADS_1
"Diana, kenapa kau tega meninggalkan aku? Padahal aku sangat mencintaimu." Raka yang sudah mulai mabuk pun meracau saat mengingat Diana yang lebih memilih Revan ketimbang dirinya, apalagi dia tahu dari sang mama jika malam ini wanita yang dia cintai itu akan menikah. Hati Raka benar-benar hancur berkeping-keping.
Raka pun meletakkan gelas kosong di tangannya ke atas meja bar, dia lalu melempar beberapa lembar uang ke bartender, kemudian bangkit dan berjalan sempoyongan.
Kepala Raka sangat berat dan pusing, dia ingin pulang dan tidur. Namun begitu keluar dari bar, tak sengaja dia bertabrakan dengan Sofia yang baru saja datang. Raka nyaris terjatuh, untung Sofia sigap menahannya.
"Lepaskan aku!" Raka menepis tangan Sofia dengan kasar dan kembali melanjutkan langkahnya.
"Tunggu! Bukannya itu Mas Raka?" Sofia akhirnya sadar jika itu Raka.
Sofia pun buru-buru mengejar pemuda yang pernah dia taksir dulu.
"Diana, kenapa kau meninggalkan aku?" racau Raka lagi, dan Sofia bisa mendengarnya dengan jelas.
"Mas Raka!" tegur Sofia, dia menarik tangan Raka.
Dengan kepala yang berat, Raka menoleh, menatap Sofia dengan mata sayu.
"Siapa kau? Apa kau Diana?" tanya Raka yang tak bisa mengenali Sofia karena wanita itu memakai masker.
"Bukan, Mas. Aku Sofia. Mas Raka sepertinya mabuk berat, ya?"
Bukannya menjawab pertanyaan Sofia, Raka malah mendorong model seksi itu, "Pergi sana! Jangan ganggu aku!"
Sofia bingung, tapi dia tak mau menyerah dan kembali mendekati Raka, "Mas Raka kenapa? Apa Mas ada masalah dengan Diana?"
Mendengar nama Diana, Raka sontak menghentikan langkahnya dan termangu.
"Apa Diana menyakiti Mas Raka?" tebak Sofia sok tahu.
"Diana menolak ku, dan hari ini dia menikah dengan pria itu," adu Raka sambil mengepalkan tangannya menahan emosi.
Sofia mengerutkan keningnya, "Pria itu? Maksudnya Mas Revan?"
"Iya, mereka menikah dan bahagia di atas rasa sakit ku."
Sofia terperangah, dia tak tahu hal itu. Mendadak hatinya terasa sakit seperti dihantam gada berduri.
"Tapi aku dengar, bukankah Mas Raka sudah melamar Diana dan kalian akan menikah?"
"Iya, tapi Diana sudah membatalkannya. Dia menolak cintaku!" Raka pun akhirnya menangis.
__ADS_1
"Jadi Mas Revan dan Diana benar-benar menikah?" gumam Sofia pelan, lalu menggeleng tak terima, "Enggak! Aku enggak boleh membiarkan mereka bersama dan hidup bahagia, sementara aku terpuruk seperti ini. Aku harus lakukan sesuatu."
***