Diana (Gadis Yang Ternoda)

Diana (Gadis Yang Ternoda)
Episode 50.


__ADS_3

Setelah mengurus semuanya, Diana dan Revan akhirnya menikah sirih di kediaman Adiguna. Pernikahan mendadak itu hanya dihadiri kedua orang tua Revan, Siska, asisten dan sahabat Revan yang bertindak sebagai saksi, juga tak lupa pak penghulu yang sudah sepakat untuk menjaga rahasia ini. Karena Diana yatim-piatu dan tidak memiliki saudara, akhirnya dia menggunakan wali hakim sebagai wali nikahnya.


Setelah melakukan ijab kabul, Diana dan Revan pun akhirnya sah menjadi suami istri. Diana mencium punggung tangan Revan dengan penuh hormat, kemudian Revan mencium kening Diana dengan mesra, hal itu membuat jantung keduanya berdebar kencang.


Kemudian mereka berfoto bersama sebagai bukti jika mereka sudah menikah, tentu saja Dafa tidak diajak ikut berfoto bersama mereka, karena semua ini akan di setting seolah-olah foto empat tahun yang lalu sebelum Dafa lahir ke dunia. Bahkan Revan sudah minta tolong pada asistennya untuk mengedit wajah mereka di foto itu agar terlihat lebih muda.


"Besok kita akan mengadakan jumpa pers, aku akan klarifikasi rumor itu. Jadi tolong kamu atur semuanya!" pinta Revan pada asistennya.


"Siap, Mas! Aku akan atur semuanya dan menghubungi wartawan untuk meliput acara besok."


"Bagus! Lalu bagaimana dengan detektif yang kau sewa? Apa dia sudah mengetahui siapa dalang penculikan anak ku?" tanya Revan, diam-diam dia meminta asistennya itu untuk menyewa seorang detektif swasta untuk mencari tahu siapa orang yang mengutus penculik waktu itu. Revan sengaja tak melaporkan kejadian tersebut ke polisi sebab tak mau kedua orang tuanya tahu.


"Sepertinya belum, Mas. Tapi dia akan terus menyelidiki kasus ini dan mengabarkannya jika sudah mendapatkan petunjuk."


"Baiklah. Sekarang kamu boleh pulang! Terima kasih banyak."


"Iya, Mas. Kalau begitu aku permisi dulu, selamat malam."


"Selamat malam."


Asisten Revan yang paling setia itu pun bergegas meninggalkan kediaman mewah bosnya tersebut. Siska, sahabat Revan dan Pak Penghulu juga sudah pulang dari beberapa menit yang lalu.


"Hem, maaf. Kamarnya di mana?" tanya Diana.


Revan langsung berbalik menatap istrinya itu, "Kamar? Kau sudah enggak sabar rupanya!"


Diana mengernyit bingung, "Maksudnya?"


"Jangan pura-pura! Aku tahu ini malam pengantin kita, tapi aku enggak menyangka kau menginginkannya secepat ini!" ujar Revan dengan wajah genit.


Diana tercengang, wajahnya sontak merah, "Kau ini bicara apa, sih? Jangan mikir macam-macam! Aku tanya di mana kamarnya karena aku mau ganti pakaian, aku gerah memakai kebaya seperti ini terus!"


"Oh, aku kirain kau sudah enggak tahan!" goda Revan sambil mengedipkan sebelah matanya dengan genit.


"Dasar buaya mesum!" Diana langsung berlalu pergi dari hadapan suaminya itu.


Revan pun tertawa dan bergegas menyusul Diana. Dia mengajak Diana menaiki anak tangga karena kamarnya ada di lantas atas, tapi rupanya Diana kesusahan melangkah karena rok yang dia pakai terlalu ketat, hingga dia nyaris terjatuh. Untung Revan sigap menangkapnya.


"Kau hati-hati, dong! Kalau jatuh gimana?"


"Roknya sempit banget, aku jadi sulit berjalan," keluh Diana dengan wajah masam.

__ADS_1


Revan mengamati rok bercorak batik itu, memang terlihat sangat ngepas. Tanpa pikir panjang, dia pun mengangkat tubuh Diana, walaupun harus menahan sakit di pinggangnya.


Sontak saja Diana yang kaget meronta-ronta dan minta diturunkan, "Apa yang kau lakukan? Turunkan aku!"


"Kalau kau bergerak-gerak seperti ini, kita akan jatuh!" ancam Revan sambil pura-pura akan melepaskan Diana, membuat wanita spontan mengalungkan lengannya di leher Revan sebab ketakutan.


Revan tersenyum senang karena usahanya berhasil, dan adegan itu juga disaksikan oleh Lenny serta Adiguna yang sedang menemani Dafa makan camilan di lantai bawah.


Akhirnya pasangan pengantin baru itu naik ke lantai atas, Diana hanya bisa pasrah di dalam gendongan Revan.


"Bunda dan Om itu mau ke mana?" tanya Dafa polos.


"Mau bikin adik untuk kamu," jawab Lenny asal, dan Adiguna langsung memelototi istrinya itu.


"Bikin adik?" Dafa bingung.


"Oma hanya bercanda, kok!" sela Adiguna, lalu mengelus kepala Dafa, "mulai sekarang kamu panggil Om itu ayah, ya!"


Dafa mengerutkan keningnya, "Ayah? Tapi aku sudah punya ayah, Opa. Namanya Om Raka."


Lenny dan Adiguna saling pandang mendengar ucapan Dafa.


Adiguna lalu mengalihkan pandangannya ke Dafa lagi, "Siapa itu Om Raka?"


Adiguna terdiam kebingungan.


"Raka itu anak pemilik laundry tempat Diana bekerja, yang waktu itu Revan ceritakan di rumah sakit," terang Lenny berusaha mengingatkan suaminya.


Adiguna manggut-manggut setelah teringat semuanya.


"Sayang, Om Raka bukan ayah kamu, dia cuma teman Bunda. Yang sebenarnya ayah kamu itu Om Revan, jadi mulai sekarang kamu harus memanggil Om Revan dengan sebutan ayah. Mengerti?" Dengan hati-hati dan perlahan Lenny memberikan penjelasan pada cucunya itu.


Dafa mengangguk meskipun dia tak terlalu memahami semua ini, tapi karena dia bocah yang baik dan cerdas, dia pun menuruti perintah Lenny.


"Anak pintar!" Lenni mengusap kepala Dafa sambil tersenyum.


***


Begitu tiba di depan pintu kamarnya, Revan langsung menurunkan Diana lalu ngedumel, "Ternyata kau berat juga!"


Wajah merah Diana seketika masam, "Makanya lain kali jangan gendong gendong aku lagi!"

__ADS_1


"Iya, nanti aku angkat-angkat aja! Naik turun!" bisik Revan dengan wajah menggoda.


Diana yang sudah sangat malu sontak memukul pundak Revan dengan kuat, "Ish, kau ini!"


Tawa Revan pecah, membuat wajah Diana kian cemberut. Dia lantas membuka pintu kamarnya dan mempersilakan Diana masuk.


Diana termangu saat melihat kamar mewah yang di dominasi warna putih itu sudah dihias dengan sedemikian rupa, ada banyak kelopak bunga mawar di atas ranjang, ada juga lilin-lilin aromaterapi yang menambah kesan romantis.


"Ini pasti ulah Mama," tebak Revan yang juga terkejut melihat semua itu. Tadi sebelum dia menjemput Diana, semua ini tidak ada.


Diana tak menjawab, dia berusaha mengalihkan situasi dengan mengedarkan pandangan mencari koper yang tadi dia bawa, tapi tidak ada.


"Koperku mana?" tanya Diana.


"Mana aku tahu! Memangnya tadi kau letak di mana?"


"Tadi saat datang, asisten rumah tanggamu mengambil koperku, katanya mau diletakkan di kamar. Tapi kenapa enggak ada? Apa mungkin di kamar yang lain?"


"Mungkin di lemari, biar aku cek dulu!" Revan segera membuka pintu lemari, dan sedikit terkejut saat melihat lemari itu kosong. Hanya ada sebuah lingerie seksi berwarna merah menyala.


"Ada?" Diana memastikan.


"Koper dan pakaian mu enggak ada, yang ada cuma ini!" Revan mengambil lingerie itu dan menunjukkan kepada Diana.


Mata Diana melotot melihatnya, seumur hidup dia belum pernah mengenakan baju haram itu.


"Ya sudah pakai ini aja!" Revan menyodorkan lingerie itu pada Diana.


Diana menggeleng cepat, "Enggak! Lebih baik aku tidur pakai kebaya daripada pakai baju seperti itu, apalagi di depanmu!"


"Memangnya kenapa kalau kau pakai ini di depanku? Aku bahkan sudah pernah melihat tubuhmu tanpa sehelai benangpun!" ujar Revan asal.


Diana mendadak kesal dan malu, dia lantas menatap Revan dengan tajam, "Bisa enggak kau berhenti mengungkit kejadian menjijikkan itu? Apa kau bangga dengan perbuatan bejatmu?"


Revan yang sadar telah salah bicara pun menjadi salah tingkah dan tak enak, "Aku kan hanya bercanda!"


"Bercanda mu enggak lucu! Nyebelin!" Diana merajuk dan berbalik hendak pergi.


Melihat Diana marah, Revan langsung melempar lingerie itu ke lantai dan buru-buru mengejar sang istri lalu memeluknya dari belakang.


"Lepaskan aku!" Diana memberontak, tapi Revan semakin mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


"Aku minta maaf, sayang," bisik Revan mesra di telinga Diana, membuat wanita itu tertegun dan merinding.


***


__ADS_2