
Revan tersungkur ke atas ranjang tepat di sisi Diana saat pukulan keras Raka menghantam wajahnya, membuat Diana maupun Siska histeris dan panik.
"Berengsek!" umpat Revan geram, dia bangkit dan hendak membalas Raka, tapi dengan cepat Diana menahan lengannya.
"Jangan!" pinta Diana memohon, matanya bahkan sudah mulai digenangi cairan bening.
Revan sontak menatap Diana lalu melirik tangan wanita itu yang mencekal lengannya dengan sangat erat. Dia bisa merasakan ketakutan yang sedang Diana rasakan dan hal itu membuat amarahnya mereda seketika.
Raka yang melihat itu pun merasa cemburu bercampur kesal, dia melangkah mendekati Revan dan kembali ingin memukul pria itu tapi Siska sigap menariknya.
"Nak Raka, sudah! Ini rumah sakit, jangan membuat keributan!" kecam Siska.
"Tapi aku enggak terima dia memeluk calon istriku!" ujar Raka dengan nada tinggi sembari menyentak kan tangannya dari pegangan Siska.
Diana dan Siska terkejut dengan sikap tak sopan Raka itu.
"He, dia masih calon, belum sah jadi istrimu! Jadi jangan berlagak kau memiliki dia!" sahut Revan dingin.
"Diam kau, bajingan!" bentak Raka.
"Kau yang bajingan!" balas Revan tak mau kalah.
"Sudah, hentikan! Kalau kalian enggak bisa diam, silakan keluar dari sini!" ujar Diana yang mulai kesal dengan dua pria itu.
Revan dan Raka seketika bergeming namun masih saling melempar tatapan tidak suka satu sama lain.
"Iya Diana benar! Kalau kalian masih ingin berkelahi, sebaiknya di luar, jangan di sini! Diana sedang butuh istirahat!" sela Siska, lalu mengusap kepala Dafa yang takut meskipun dia tak mengerti apa yang sedang terjadi, "lagian kalian juga membuat Dafa ketakutan!"
Revan langsung mengalihkan pandangan ke Dafa yang berdiri di hadapannya, bocah berambut lurus itu memang terlihat ketakutan.
"Aku minta maaf," ucap Revan pelan.
Raka masih bergeming dan menatap Revan dengan sinis, tapi dia berusaha menahan emosinya.
Diana pun melepaskan cekalan tangannya di lengan kekar Revan, dan merasa sedikit canggung, "Sebaiknya sekarang kau pergi dari sini!"
Revan sontak menatap Diana dengan tak percaya, "Kenapa kau mengusirku?"
__ADS_1
"Karena aku enggak mau kau ada di sini," sahut Diana.
"Tapi, aku ...."
"Aku mohon pergilah! Terima kasih sudah membawa ku ke sini," potong Diana cepat sebelum Revan selesai bicara.
"Diana." Revan memelas.
Diana memalingkan wajahnya, dia tak mau menatap Revan lagi.
"Sudahlah Nak Revan, sebaiknya kamu keluar dulu! Biarkan Diana tenang!" pinta Siska menengahi.
Revan mengembuskan napas berat, kemudian melangkah keluar dengan kecewa. Saat melewati Raka, dia hanya melirik pemuda itu dengan sinis.
Raka juga melirik Revan sembari tersenyum penuh kemenangan, dia seakan ingin mengejek Revan yang diusir oleh Diana.
Setelah kepergian Revan, Siska dan Dafa langsung mendekati Diana.
"Bunda!" seru Dafa.
Diana langsung memeluk putranya itu, "Kesayangan Bunda. Maaf ya, gara-gara Bunda kamu jadi sedih dan ketakutan."
"Bagaimana keadaan kamu, Di?" tanya Siska.
Diana mengurai pelukannya dan memandang Siska yang berdiri di belakang Dafa, "Sudah lebih baik, Tante. Cuma masih sedikit pusing dan lemas saja."
"Kamu harus banyak istirahat, biar cepat pulih."
"Iya, tapi aku mau istirahat di rumah saja. Aku enggak mau di sini!" sahut Diana.
"Nanti kita tanya dokter, kamu sudah boleh pulang atau belum."
Diana pun mengangguk setuju.
"Kamu mau makan apa? Biar aku belikan." sela Raka yang berjalan mendekati ranjang Diana.
"Aku sudah makan, Mas," jawab Diana.
__ADS_1
"Makan apa?"
"Bubur kacang hijau." Diana menunjuk cup bekas bubur kacang hijau yang terletak di atas meja.
Raka mengalihkan pandangannya ke meja, dia terkesiap saat melihat cup dengan label salah satu restoran mahal dan terkenal. Raka yakin pasti tadi Revan yang membelikan bubur itu untuk Diana, ternyata dia kalah cepat.
Sementara itu, Revan berjalan dengan gontai di lorong rumah sakit, dia kecewa dan sedih karena Diana masih belum bisa berdamai dengannya walaupun dia sudah berusaha bersikap baik pada wanita itu. Jauh di dalam hati Revan, dia merasa cemburu karena Raka bisa dengan leluasa berada di sisi Diana dan dekat dengan wanita itu.
"Sampai kapan kau akan terus memusuhi aku seperti ini?" gumam Revan pelan.
Tiba-tiba ponselnya berdering, Revan buru-buru merogoh saku dan menjawab panggilan masuk dari asistennya itu sebelum bunyi ponselnya mengganggu sekitar.
"Halo, ada apa?"
"Mas, kami enggak bisa menghubungi Mbak Sofia, sementara syuting akan segera dimulai."
Mendengar nama Sofia, emosi Revan kembali naik, "Tunda sementara syutingnya, lalu gantikan saja dia dengan artis lain yang lebih berkompeten dan profesional! Aku enggak ingin bekerja sama dengan artis yang enggak bisa bertanggung jawab dengan pekerjaannya."
"Berarti kita harus memutuskan kontrak kerja dengan mbak Sofia?"
"Iya, nanti aku yang akan bertanggung jawab untuk semuanya," sahut Revan.
"Baiklah kalau begitu, Mas. Saya akan mengadakan rapat dengan tim dulu dan mencari pengganti Mbak Sofia."
"Oke, kalau ada masalah, cepat kabarin aku!"
"Siap, Mas."
Panggilan masuk dari si asisten itu pun terputus. Revan menggenggam erat ponselnya sambil mengeraskan rahang.
"Aku akan membuat kariermu hancur, Sofia! Karena tanpa aku, kau bukan apa-apa!" ucap Revan sinis.
Revan lah orang yang telah mengangkat Sofia hingga bisa menjadi model sekaligus artis yang dikenal publik dalam waktu singkat. Berkat dia, wanita itu bisa menjadi pembawa acara reality show yang cukup populer di tanah air. Karena sebelumnya Sofia hanya model kelas teri yang tak pernah dilirik sutradara manapun.
***
Hai, BESTie.🥰
__ADS_1
Maaf baru sempat update.🙏🏼
Aku juga mau mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri, Minal Aidin Wal Faidzin, mohon maaf lahir dan batin.