Diana (Gadis Yang Ternoda)

Diana (Gadis Yang Ternoda)
Episode 29.


__ADS_3

"Sofia?" gumam Diana dengan wajah tegang bercampur kaget.


Begitu juga dengan Revan, dia pun terkejut melihat mantan kekasihnya itu. Padahal baru saja dia mereject telepon Sofia, ternyata wanita itu ada di sini.


"Hebat banget kalian, ya? Selingkuh di tempat usaha orang lain!" ujar Sofia sinis sembari melangkah mendekati Diana.


Diana panik, "Sof, ini enggak seperti yang kamu pikirkan! Aku dan dia enggak ada apa-apa!"


Plak.


Sofia sontak melayangkan tamparan keras ke pipi Diana.


"Bunda!" jerit Dafa yang memeluk erat kaki Diana.


Revan spontan berlari menghalangi Sofia dan menyembunyikan Diana di balik tubuhnya, "Sofia, apa-apaan kau ini?"


"Kenapa? Kau enggak terima selingkuhan mu ini disakiti? Segitu sayangnya kau pada dia?" sungut Sofia penuh emosi.


"Sofi, kau salah paham," bantah Diana dari balik punggung Revan.


"Salah paham kau bilang? Dia tega mutusin aku karena kau! Dan sekarang aku memergoki kalian berduaan di sini!" ujar Sofia.


"Sofia sudahlah! Pergi dari sini!" Revan berusaha mendorong Sofia keluar tapi wanita itu tak mau.


"Lepaskan aku! Aku enggak akan pergi dari sini! Aku belum puas memaki pelacur murahan ini!" teriak Sofia.


"Sofia, jaga bicaramu!" bentak Revan marah, sementara Diana hanya menangis terisak-isak.


"Kenapa kau marah? Bukankah yang aku katakan itu benar? Dia menjual dirinya hingga hamil tanpa suami, lalu sekarang dia merayu semua pria termasuk kau! Apa namanya kalau bukan pelacur?"


"Sudah kubilang, aku enggak pernah menjual diri atau merayu pria mana pun!" sanggah Diana dengan air mata berderai.


"Lalu bagaimana anak haram sialan itu bisa ada?" Sofia menunjuk Dafa yang bersembunyi di antara kaki Diana.


Plak.

__ADS_1


Revan reflek menampar pipi Sofia, membuat wanita itu terkejut setengah mati. Diana pun kaget dan tak menyangka Revan akan bertindak kasar seperti itu pada seorang wanita.


Sofia meraba pipinya yang perih, "Kau berani menampar ku?"


"Aku bahkan bisa melakukan lebih dari itu, jika kau masih terus menghina Diana dan juga anakku!"


Sofia tercengang, "Anakmu?"


"Iya, Dafa itu anakku, darah dagingku. Akulah orang yang memperkosa Diana empat tahun yang lalu, jadi dia enggak pernah menjual diri seperti yang kau tuduhkan!" beber Revan.


Sofia terperangah, tubuhnya mendadak lemas mendengar pengakuan Revan, dia tak percaya jika mantan kekasihnya itu adalah pria yang selama ini selalu dia hujat bersama sang sepupu.


Diana pun tak menyangka kalau Revan akan mengungkap rahasia besarnya itu pada Sofia.


"Jangan pernah menghina anakku lagi! Atau aku akan membuat kariermu tamat!" ancam Revan.


Sofia tak mampu berucap lagi, kenyataan yang barusan dia dengar membuatnya sangat syok. Dia pun memutuskan untuk pergi dari tempat itu dengan perasaan campur aduk.


Revan berbalik menatap Diana, "Kau enggak apa-apa?"


"Kenapa kau mengatakannya pada Sofia?" Diana balik bertanya.


"Tapi kau membuat dia terluka dan semuanya semakin kacau!"


"Lalu aku harus diam saja mendengar kalian di hina? Sementara semua itu karena kesalahan ku!"


Diana tak menjawab, dia hanya terduduk dan kembali menangis sambil memeluk Dafa.


"Di, aku mohon maafkan aku dan menikahlah denganku! Kita akan merawat Dafa bersama-sama," pinta Revan.


Diana menggeleng, "Aku enggak bisa!"


"Di, tolong beri aku kesempatan!"


"Pergi dari sini!" usir Diana, dia mengabaikan permohonan Revan.

__ADS_1


"Diana!"


"Pergi dan jangan pernah datang lagi!"


Revan menatap Diana dengan sedih dan terluka, apa sesusah itu Diana memaafkan dirinya? Padahal dia tulus ingin bertanggung jawab. Revan lantas mengalihkan pandangannya ke Dafa yang masih ketakutan, dia mengulurkan tangan hendak menyentuh kepala putranya itu, tapi Diana buru-buru menarik Dafa agar menjauh dari jangkauan tangan Revan.


Dengan berat hati dan perasaan sedih, Revan membawa langkahnya keluar. Diana pun bergegas menutup pintu dan menguncinya, lalu menangis terisak-isak.


Melihat Diana menangis, Dafa mendekati Diana dan memeluk kaki sang ibunda meski dia tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, dia masih terlalu kecil untuk memahami betapa peliknya persoalan hidup orang dewasa.


Diana berjongkok kemudian memeluk Dafa dengan sangat erat, "Maafkan Bunda, ya, sayang."


"Bunda jangan nangis! Aku jadi ikut nangis." Dafa yang polos pun kembali meneteskan air matanya di dalam pelukan sang ibu.


Sementara itu di luar, Revan yang sudah masuk ke dalam mobil masih terpaku memandangi pintu besi laundry yang sudah tertutup rapat. Hatinya sedih dan pilu, rasa bersalah atas apa yang terjadi semakin membuat dia menyesali semuanya.


***


Begitu tiba di rumah, Sofia langsung masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu. Siska yang kebetulan melihat Sofia menangis merasa heran dan bergegas menyusul putrinya itu.


"Sofi, kamu kenapa?" tanya Siska sembari mengetuk pintu kamar Sofia.


"Aku sedang ingin sendiri!" teriak Sofia dari dalam kamar.


"Kamu lagi ada masalah? Cerita sama Mama! Siapa tahu Mama bisa bantu," lanjut Siska.


"Aku bilang, aku ingin sendiri! Jangan ganggu aku!" jerit Sofia lagi.


Siska mengembuskan napas, dia pun berlalu dari depan kamar Sofia.


Di dalam kamar, Sofia menangis sejadi-jadinya. Tadi saat lewat di depan laundry, tak sengaja dia melihat mobil Revan terparkir di depan tempat kerja Diana itu, makanya dia langsung mendatanginya dan mendapatkan kenyataan pahit yang begitu menyakitkan baginya, dia sudah terlanjur mencintai Revan dan apa yang baru saja dia dengar tak bisa dia terima begitu saja.


"Kenapa semuanya harus seperti ini? Kenapa Diana selalu merusak kebahagiaan ku? Kenapa?"


Sofia kembali menangis terisak-isak, ini seperti mimpi buruk baginya. Sekarang dia tahu kenapa selama ini Revan selalu mengejar Diana dan Dafa, kenapa sikap Diana aneh saat bertemu Revan. Jadi ini jawabannya! Seketika Sofia curiga jika sebenarnya selama ini Revan sengaja memanfaatkan dirinya untuk mendekati Diana dan Dafa.

__ADS_1


"Lihat saja, aku akan membalas mu, Revan Adiguna! Kau harus membayar rasa sakit ku!" ucap Sofia sinis.


***


__ADS_2