
Beberapa hari kemudian, Revan sudah diperbolehkan pulang oleh dokter, dan selama dirawat di rumah sakit, Diana selalu datang untuk mengurusnya. Diana bahkan sampai bela-belain ambil cuti demi bisa merawatnya. Hal itu membuat Revan senang sebab bisa semakin dekat dengan Diana.
Revan masih merahasiakan keadaannya dari kedua orang tuanya, dia mengatakan kepada mereka jika ada urusan penting dan mendadak di luar kota. Untungnya mereka percaya dengan kebohongannya tersebut.
Dan hari ini sepulang dari rumah sakit, Revan berencana mengajak Diana juga Dafa untuk bertemu dengan kedua orang tuanya, dan kebetulan Adiguna juga sudah pulang ke rumah. Revan ingin menyampaikan keputusannya untuk segera menikahi ibu dari anaknya itu.
"Apa enggak sebaiknya kau beristirahat saja dulu, nanti kalau kau sudah pulih baru kita menemui orang tuamu?" ujar Diana saat mendengar rencana Revan, sebenarnya dia juga masih belum siap untuk bertemu dengan kedua orang tua Revan.
"Aku sudah enggak sabar, aku enggak mau menundanya terlalu lama. Takutnya kau berubah pikiran," sahut Revan.
"Tapi kau baru saja keluar dari rumah sakit! Aku khawatir lukamu kenapa-kenapa!" dalih Diana.
"Jangan khawatir! Aku baik-baik saja, kok!" balas Revan.
"Kau ini keras kepala sekali! Kalau terjadi sesuatu, aku enggak mau mengurus mu lagi! Aku juga enggak akan mau datang menjenguk mu!" rajuk Diana dengan wajah cemberut.
"Kalau begitu aku terpaksa harus pasrah dirawat dan diurusin oleh perawat," ujar Revan enteng, selama di rumah sakit, ada beberapa perawat yang salah tingkah dan cari-cari perhatian dengannya. Diana pun menyadari hal itu, namun memilih untuk diam.
Entah mengapa mendadak Diana menjadi kesal, "Ya sudah, enggak usah keluar aja dari sini sekalian! Biar bisa dirawat terus dengan perawat-perawat itu!"
Revan tersenyum menatap Diana, entah kenapa hatinya berbunga-bunga mendengar kata-kata wanita itu.
"Kenapa senyum-senyum begitu?" tegur Diana.
"Aku senang, ternyata kau peduli padaku. Buktinya kau cemburu dan mencemaskan aku!"
Wajah Diana berubah merah, dia memalingkan wajahnya dengan gugup, "Siapa yang cemburu? Enggak usah kepedean, deh! Aku cuma enggak mau kau menyusahkan aku lagi seperti beberapa hari ini."
"Maaf, kalau sudah menyusahkan mu! Tapi jujur beberapa hari ini aku bahagia sekali, aku merasa seolah-olah di sekitar ku penuh dengan bunga-bunga yang indah."
"Lebay!" ejek Diana dan langsung melenggang pergi.
__ADS_1
Revan pun tertawa terbahak-bahak, dia puas karena bisa menggoda Diana sampai wajah wanita itu merah padam. Dia lantas bergegas menyusul Diana yang sudah keluar dari ruang perawatan.
"Diana, tunggu! Jalannya jangan cepat-cepat! Pinggangku sakit!" rengek Revan sok manja.
Diana memutar bola matanya dengan malas, lalu menghentikan langkahnya dan berbalik memandang Revan yang tengah berjalan pelan sembari memegangi pinggang.
"Makanya jadi orang jangan sok-sokan! Masih lemah tapi berlagak baik-baik saja!" Diana mengomel.
"Kau yang jalannya terlalu cepat! Bukankah seharusnya kau menggandeng ku dan membantu aku berjalan?"
"Kau kan bisa jalan sendiri!"
"Kau tega membiarkan aku jalan sendiri?" Revan memasang wajah sedih, membuat Diana merasa sedikit iba.
Diana mengembuskan napas kesal, kemudian berjalan mendekati Revan dan menggandeng lengan pria itu, "Ya sudah, yuk!"
Lagi-lagi Revan tersenyum senang, dia pun langsung bergelayut sok manja di pundak Diana, tapi wanita itu sontak mendorong kepalanya sebab malu dan tak nyaman. Namun Revan tak mau menyerah, dia terus saja melakukan hal itu sampai Diana akhirnya menyerah dan membiarkannya.
Namun tanpa sepengetahuan mereka, seseorang yang memakai topi dan masker sejak tadi mengintai mereka dari kejauhan. Dia sudah mendapatkan kabar jika Revan belum mati, makanya hari ini dia ke rumah sakit untuk memastikan.
"Berengsek! Ternyata kau belum pergi ke neraka!" ucapnya sinis, dia kesal karena orang-orang suruhannya telah gagal.
***
Mobil Revan memasuki halaman sebuah rumah besar nan mewah bercat putih, Diana saja sampai takjub melihat betapa megahnya kediaman orang tua Revan, bahkan pekarangannya saja sangat luas dan indah.
"Ini rumah siapa, Bunda?" tanya Dafa polos, dia bingung melihat asing tempat itu.
"Hem, ini rumah ...."
"Rumah Opa dan Oma kamu," potong Revan cepat sebelum Diana selesai bicara.
__ADS_1
Diana langsung menatapnya, tapi Revan pura-pura tidak tahu.
"Oma dan Opa aku?" tanya Dafa sembari memandangi Revan dan Diana bergantian, dia bingung.
"Iya, sayang. Opa dan Oma pasti senang bertemu kamu!" sahut Revan, dia mematikan mesin mobilnya dan bergegas turun.
Revan membukakan pintu di samping Diana dan Dafa, "Yuk, turun!"
Diana bergeming, dia tampak ragu dan wajahnya berubah tegang.
Revan mengernyit, "Kenapa?"
"Aku deg-degan, takut mau masuk," jawab Diana.
Revan pun tertawa, "Jangan takut, Papa dan Mama enggak makan orang, kok!"
"Bukan begitu, aku cuma ...."
"Sudah, ayo masuk!" Revan langsung mengambil Dafa dari pangkuan Diana dan meletakkan bocah itu di sisinya, untung saja Dafa sudah lebih dulu berdamai dengan Revan.
Diana menghirup udara dalam-dalam lalu membuangnya dengan kasar, dia berusaha menenangkan diri dan menghalau perasaan gugupnya.
Dengan perlahan Diana pun keluar dari mobil dan Revan langsung menggandeng tangannya. Diana sontak menatap Revan, tapi pria itu lagi-lagi cuek.
Mereka bertiga melangkah masuk ke dalam rumah mewah bak istana itu, tampak Lenny sedang memapah Adiguna dan melatih sang suami berjalan.
"Selamat siang, Ma, Pa," sapa Revan.
Lenny dan Adiguna seketika menoleh saat mendengar suara Revan, keduanya terkejut melihat sang putra datang bersama Diana dan Dafa. Namun pandangan Adiguna terfokus pada Dafa yang berdiri di sisi putranya itu.
"Anak itu!" ucap Adiguna dengan mata melotot.
__ADS_1
***