
Lenny terduduk lemas setelah mendengar cerita empat tahun yang lalu dari Revan, dia benar-benar syok mengetahui jika putra kesayangannya itu telah menodai seorang wanita baik-baik hingga hamil.
"Aku sungguh menyesal, Ma. Aku enggak menyangka kalau semuanya akan begini," sesal Revan dengan kepala tertunduk.
"Lalu di mana sekarang wanita itu dan anaknya?" tanya Lenny dingin, sejujurnya dia kecewa dan marah pada Revan, tapi nasi sudah menjadi bubur, semua telah terjadi.
"Mereka tinggal di sebuah ruko tempat wanita itu bekerja," jawab Revan.
"Dia sudah menikah?"
Revan menggeleng, "Belum, Ma."
"Kalau begitu kamu harus bertanggung jawab atas semua yang kamu lakukan? Nikahin dia!"
Revan mengangkat kepalanya menatap Lenny dengan sedih, "Aku sudah berusaha memintanya untuk menikah denganku, Ma. Aku bersedia untuk tanggung jawab, tapi dia menolak."
"Apa alasannya dia menolak?"
Revan kembali menunduk, "Karena dia sangat membenciku, dia tak ingin anakku tahu siapa ayahnya."
Lenny mengembuskan napas berat, apa yang Diana lakukan memang terkesan egois, tapi dia bisa memahami perasaan wanita itu. Andai dia diposisi Diana, dia juga pasti akan melakukan hal yang sama. Tiba-tiba sebuah ide brilian muncul di pikiran Lenny untuk meredam gosip yang sedang beredar tentang sang putra.
"Kalau begitu ajak Mama menemui dia!" pinta Lenny.
Revan sontak menatap wajah mamanya itu, "Mama mau ngapain?"
"Mama harus bertemu dia dan cucu Mama," sahut Lenny.
"Tapi saat ini aku masih ada urusan lain, Ma," bantah Revan.
"Memangnya ada urusan yang lebih penting dari ini?"
__ADS_1
"Ma, aku harus mencari mucikari sialan itu dan meminta dia klarifikasi ke media bahwa Diana bukan wanita malam. Aku harus menyelamatkan nama baik Diana!"
"Kamu ingin menyelamatkan nama baik wanita itu, sementara nama baikmu dan keluarga kita akan tetap rusak jika mucikari itu menceritakan yang sebenarnya terjadi. Kamu jangan bodoh, Revan!"
Revan terdiam, apa yang Lenny katakan ada benarnya juga. Sebagai seorang publik figur dan anak dari pengusaha terkenal, nama baik Revan serta keluarganya harus tetap dijaga dengan baik.
"Mama punya cara lain agar gosip sialan itu bisa diredam."
Revan mengernyit, "Apa itu, Ma?"
"Nanti juga kau akan tahu, makanya sekarang antar Mama bertemu dengan dia!"
"Tapi kalau kita pergi, siapa yang akan menemani Papa di sini?"
"Di sini banyak dokter dan perawat yang akan menjaga serta mengawasi Papa kamu selama dua puluh empat jam, jadi jangan khawatir! Lagian kita enggak akan lama, setelah bertemu dan bicara dengan wanita itu, kita langsung balik ke sini."
"Tapi Mama jangan bicara macam-macam, apa lagi kasar padanya! Aku enggak ingin dia tersinggung dan sakit hati karena sikap serta ucapan Mama."
Lenny memandang Revan dengan penuh selidik, "Sejak kapan kamu mengkhawatirkan perasaan seorang wanita? Bukankah dari dulu kamu enggak pernah peduli dengan perasaan wanita mana pun, bahkan perasaan Mama saja kamu abaikan."
"Alah, Mama kenal kamu Revan! Mama selalu tahu semua yang kamu lakukan." Lenny memang sering mendengar jika Revan sering mempermainkan wanita-wanita yang selama ini dekat dengannya, bahkan Lenny pun tahu jika Revan tak pernah mencintai Sofia dan hanya memanfaatkan wanita itu saja.
Revan meringis sambil garuk-garuk kepala, dia tak bisa membantah lagi. Sedangkan Lenny tersenyum penuh arti, sepertinya dia memahami sesuatu.
"Oh iya, kenapa pelipis kamu?" tanya Lenny yang melihat pelipis Revan ditutupi plaster luka, tadi dia terlalu syok dan marah sampai lupa bertanya.
"Ini terbentur, hanya luka kecil, kok." Revan meraba plaster luka itu dan tersenyum mengingat kejadian kemarin malam saat bersama Diana.
***
Diana melamun sembari memegangi kain-kain yang baru saja dia keluarkan dari mesin cuci, dia masih memikirkan semua yang terjadi hari ini. Sebenarnya dia tak bersemangat untuk melakukan aktivitas apa pun, tapi dia harus tetap profesional mengerjakan semua pekerjaannya di laundry. Untung saja Siska datang dan bersedia menemani Dafa agar tidak mengganggu dirinya. Sementara Raka sudah pergi menemui temannya yang seorang wartawan.
__ADS_1
Eliana yang sejak tadi mengawasi Diana merasa kasihan pada wanita itu, dia tahu pasti semua yang terjadi sangat berat untuk karyawannya itu. Ada sedikit rasa takut di hatinya kalau-kalau Diana berubah pikiran dan akhirnya membatalkan lamaran Raka.
"Di, kamu istirahat aja! Biar Ibu yang lanjutkan pekerjaan ini!" perintah Eliana yang berjalan mendekati karyawan itu.
Diana tersentak kaget dan kembali melanjutkan pekerjaannya, "Eh, enggak usah, Bu! Biar aku aja!"
"Tapi kamu kelihatan lelah dan kacau, sebaiknya kamu istirahat serta menenangkan diri."
"Iya, Di. Mbak El benar, Tante perhatikan dari tadi kamu banyak melamun, sebaiknya kamu tenangkan pikiran kamu dulu," sela Siska yang juga berada di tempat itu, dia belum mengetahui apa yang Raka lakukan sebab Diana belum sempat cerita dan Eliana juga tak mau mengatakan apa-apa.
Diana memaksakan senyuman, "Enggak apa-apa, Tante. Sedikit lagi selesai, kok!"
"Oma, aku mau pipis," adu Dafa.
Siska mengalihkan pandangannya ke bocah gemas itu, "Kamu mau pipis? Mari Oma antar ke toilet."
Siska langsung menggendong Dafa dan membawa bocah gemas itu masuk ke dalam kamar mandi. Diana tersenyum, dia merasa beruntung karena Siska begitu me peduli dan menyayangi Dafa.
"Selamat siang, permisi."
Diana dan Eliana menoleh ke arah pintu masuk, seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik berjalan memasuki laundry.
Eliana langsung menyambut Lenny yang dia kira seorang pelanggan, "Selamat siang, silakan, mau cuci kering atau ...."
"Oh, maaf! Saya bukan mau cuci pakaian, tapi saya ingin bertemu Diana," potong Lenny sebelum Eliana selesai bicara.
Eliana langsung menatap Diana yang kebingungan karena ada yang mencarinya. Dia pun meletakkan pakaian-pakaian yang dia pegang, kemudian menghampiri Lenny yang berdiri seorang diri, sementara Revan masih menjawab telepon dari seseorang di luar.
"Iya, saya Diana." Diana memperkenalkan diri.
Lenny memandangi Diana dari ujung kaki hingga ujung kepala, membuat wanita itu bingung dan risih.
__ADS_1
"Jadi kamu yang namanya Diana? Kenalkan, saya Lenny Adiguna, mamanya Revan," ujar Lenny kemudian.
***