Diana (Gadis Yang Ternoda)

Diana (Gadis Yang Ternoda)
Episode 43.


__ADS_3

Revan buru-buru masuk ke dalam ruang ICU setelah mendapat telepon dari Lenny bahwa sang ayah telah bangun dari koma.


"Papa! Syukurlah Papa sudah sadar!" seru Revan lega sembari berlari mendekati ranjang Adiguna.


Tapi begitu melihat Revan, mata tua Adiguna langsung menatap tajam putranya itu, "Mau apa kau ke sini? Dasar anak kurang ajar!"


Langkah Revan terhenti, wajah bahagianya berubah sendu.


"Papa, tenanglah dulu! Papa kan masih lemah, jangan marah-marah!" Lenny berusaha menenangkan sang suami.


"Bagaimana aku enggak marah-marah kalau anak kurang ajar ini sudah mencoreng nama baik keluarga kita! Dia melempar kotoran ke wajah kita, mempermalukan kita!" ujar Adiguna penuh emosi dan terengah-engah karena sedikit sesak.


"Papa sudahlah! Nanti papa sakit lagi!" Lenny mengusap dada suaminya itu.


"Aku minta maaf, Pa. Tapi aku bisa jelaskan apa yang sebenarnya terjadi, berita itu enggak sepenuhnya benar!" ucap Revan.


"Apa pun yang kau jelaskan, itu enggak akan membuat nama baik keluarga kita bersih lagi!"


"Tapi setidaknya Papa harus tahu yang sebenarnya!"


"Iya, Revan benar, Pa! Dengarkan dulu penjelasannya, agar Papa enggak salah paham dan mengerti apa yang sebenarnya terjadi," sela Lenny menengahi.


Adiguna bergeming menatap anak dan istrinya bergantian.


Sementara itu, Diana dan yang lainnya sudah tiba di laundry, Siska membantunya berbaring di atas kasur. Sedangkan Raka dan Dafa mengantarkan Eliana pulang karena hari sudah hampir gelap.


"Kamu butuh sesuatu, Di?" tanya Siska.


"Enggak, Tan," jawab Diana.


Siska lantas duduk di sisi Diana dan menatap keponakannya, "Kamu yakin enggak mau tinggal di rumah Tante aja untuk sementara waktu ini? Sampai kamu pulih saja, Di!"


"Enggak usah, Tante. Aku di sini aja! Besok juga paling udah segar lagi, aku hanya butuh istirahat aja," sahut Diana.

__ADS_1


"Tapi kan lebih baik kalau di rumah Tante, Di. Kamu bisa istirahat dengan baik, biar Tante yang menjaga Dafa dua puluh empat jam. Terus Tante juga bisa memasakkan makanan yang sehat untuk kamu."


"Aku enggak mau merepotkan Tante," dalih Diana, padahal alasan utamanya adalah dia tak ingin bertemu Sofia.


"Ya sudah, kalau begitu Tante saja yang menginap di sini! Tante enggak bisa membiarkan kamu dan Dafa dalam keadaan seperti ini."


"Tapi bagaimana dengan Sofia? Siapa yang akan mengurus semua keperluannya kalau Tante enggak ada di rumah?"


"Sofia enggak ada di rumah, katanya ada syuting di luar kota dan enggak tahu kapan pulangnya," terang Siska.


Diana terhenyak mendengar penjelasan Siska, benar kah Sofia pergi karena ada syuting di luar kota? Atau sepupunya itu sengaja ingin menghindari semua orang terutama Revan dan dirinya.


"Sebenarnya Tante curiga kalau dia sedang ada masalah, soalnya tadi malam dia pulang dan marah-marah lalu mengurung diri di kamar. Tapi Tante tak ingin memaksa dia untuk cerita, kamu tahu sendiri kan adik kamu itu seperti apa?" lanjut Siska.


Diana termangu, dia tentu tahu alasan Sofia marah-marah, pasti karena apa yang terjadi tadi malam. Diana jadi merasa bersalah dan cemas Sofia melakukan sesuatu yang buruk.


"Di, kenapa kamu melamun?" tegur Siska sebab melihat sang keponakan termenung.


"Sudah, tapi nomornya enggak aktif."


Hati Diana semakin gelisah dan tak tenang, dia takut Sofia kalut dan berbuat yang tidak-tidak.


Diana bangkit dan menatap Siska dengan raut cemas, "Tan, aku takut Sofia berbuat macam-macam, kita harus cari tahu keberadaan dia!"


Siska mengernyit heran, "Maksud kamu apa, Di?"


Diana mendadak gugup, "So-Sofia sudah tahu kalau Dafa adalah anak Revan dan aku menduga dialah orang yang menyebarkan berita itu ke media."


Siska tercengang, "Apa! Tapi dari mana dia tahu?"


Diana tertunduk kemudian menceritakan apa yang terjadi semalam. Siska benar-benar terkejut dan syok mendengarnya, sekarang dia tahu alasan Sofia marah-marah tadi malam.


"Ya Tuhan, jadi ini ulah Sofia? Anak itu benar-benar keterlaluan!" gerutu Siska setelah Diana selesai bercerita.

__ADS_1


"Ini masih dugaanku saja, Tante."


"Sudah pasti dia orangnya! Siapa lagi yang bisa melakukan semua ini kecuali dia? Tante benar-benar minta maaf atas apa yang Sofia lakukan, Tante pasti akan memarahinya dan menghukumnya nanti."


"Enggak usah, Tan! Aku mengerti kenapa Sofia melakukan semua ini, dia pasti kecewa dan terluka atas apa yang terjadi."


"Iya, tapi seharusnya dia memikirkan resikonya. Kamu dan Dafa itu kan keluarganya, masa dia tega melakukan semua ini?" ucap Siska kesal.


Diana bergeming, dia juga merasa kecewa atas apa yang Sofia lakukan, tapi bagaimana pun juga Sofia itu keluarganya dan dia menyayangi adik sepupunya itu.


"Di, boleh Tante kasih saran?" Siska tiba-tiba bertanya.


Diana sontak menatap Tantenya itu, "Saran apa, Tan?"


"Batalkan lamaran Nak Raka, dan terima lah tawaran Nak Revan untuk menikah. Cuma itu satu-satunya cara untuk membersihkan nama baik kalian dan menyelamatkan masa depan Dafa. Kamu lihat kan? Saat ini orang-orang menghujat dan menghina kalian, kalau kalian bisa tahan, bagaimana dengan Dafa? Tante enggak mau Sofia merasa menang, Tante ingin kamu dan Dafa hidup tenang."


"Tapi aku membenci dia, Tante. Bagaimana aku bisa hidup dengan orang yang aku benci?" bantah Diana.


"Di, antara benci dan cinta itu hanya dibatasi oleh dinding yang sangat tipis. Kalau sekarang kamu membenci dia, bukan berarti nanti kamu enggak bisa mencintai dia? Apalagi Tante lihat Nak Revan itu sangat tulus pada kalian, dia juga bukan orang jahat. Tante yakin dia bisa membahagiakan kalian."


Diana terdiam, dia dilema dengan perasaannya saat ini.


"Kamu kan sudah tahu seperti apa tabiat Nak Raka, apa kamu yakin dia bisa berubah dan lebih baik dari Nak Revan? Bagaimana pun juga Dafa pasti lebih baik hidup bersama kedua orang tua kandungnya, yaitu kamu dan Nak Revan. Coba kamu pikirkan itu, Di! Sekali ini aja buang rasa egois dan amarah mu, pikirkan masa depan Dafa!" sambung Siska.


Diana masih bergeming, sejujurnya dia juga sudah merasa ragu dan berat untuk melanjutkan hubungan dengan Raka, namun dia takut melukai perasaan pemuda itu dan juga sang mama. Dia juga masih belum bisa menerima Revan meskipun sebenarnya dia tak lagi marah pada ayah dari anaknya itu.


Tanpa keduanya sadari, Raka yang sudah kembali dan berdiri di anak tangga teratas mendengar semua pembicaraan mereka.


"Om, kenapa berdiri di sini?" tanya Dafa yang heran sebab Raka menghentikan langkahnya dan mematung di tangga.


Raka menunduk dan memandangi bocah gemas itu, seketika dia teringat Revan. Raka pun mengepalkan tangannya dengan kuat.


***

__ADS_1


__ADS_2