Diana (Gadis Yang Ternoda)

Diana (Gadis Yang Ternoda)
Episode 24.


__ADS_3

"Lepaskan dia!" bentak Raka.


Diana dan Revan sontak menoleh ke arah Raka yang sedang berjalan menuju mereka dengan tatapan tajam.


"Mas Raka?" gumam Diana dengan mata melotot dan wajah yang tegang.


Revan langsung melepaskan tangan Diana dan menatap Raka dengan sinis, sejujurnya dia tidak menyukai pemuda itu meskipun mereka tak pernah terlibat masalah sebelumnya.


Diana pun berlari ke arah Raka lalu bersembunyi di belakang pemuda itu, "Mas , tolong aku!"


"Ada apa ini, Di?" tanya Raka bingung, dia memandang Diana dengan cemas.


"Dia mau mengganggu aku, tolong usir dia, Mas!" adu Diana sambil menunjuk Revan yang terpaku di hadapan mereka dengan tatapan tajam yang seolah menembus jantungnya.


Raka mengalihkan pandangannya ke Revan, "Sebaiknya Mas pergi dari sini! Jangan membuat keributan dan mengganggu karyawan kami!"


"Sudah aku katakan, aku enggak akan pergi dari sini sebelum kau memaafkan aku dan mengatakan di mana anakku berada," sahut Revan tegas, dia masih menatap Diana.


Raka mengernyit, "Maaf? Anak? Maksudnya?"


Diana menelan ludah, dia semakin panik dan takut.


"Dafa itu anakku, dan dia menyembunyikannya dariku!" beber Revan seraya menunjuk Diana yang berdiri di belakang Raka.


Raka terhenyak, dia sontak menoleh ke Diana dengan mata yang melotot, "Benar itu, Di?"


Wajah Diana bertambah tegang, lidahnya serasa Kelu dan tubuhnya gemetar. Dia tak berani mengiyakan ataupun membantah perkataan Revan barusan.


"Kenapa kamu diam? Jawab, Di!" desak Raka sebab Diana hanya bergeming dengan kepala tertunduk.


Diana akhirnya mengangguk sambil meremas jari jemarinya untuk menghilangkan rasa gugup dan tegang yang tengah dia rasakan.

__ADS_1


Raka kembali terkejut, "Tapi kenapa kamu bilang kalau ayah Dafa sudah meninggal?"


Revan termangu, dia merasa sakit hati karena Diana mengatakan ke orang lain jika dirinya sudah mati.


Diana mengangkat kepalanya, matanya mulai digenangi cairan bening yang siap tumpah, "Karena aku membencinya dan menganggap dia sudah mati. Jadi aku ingin anakku juga begitu!"


"Kau enggak bisa lakukan itu! Dia berhak tahu siapa ayah kandungnya!" protes Revan.


"Tapi aku enggak ingin anakku tahu kalau ayahnya itu manusia biadab dan menjijikan seperti kau!" balas Diana, dia segera masuk ke dalam laundry dengan berlinang air mata.


"Diana!" Raka bergegas menyusul Diana, dia sungguh bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.


Sementara Revan hanya terdiam, ada sedikit rasa sakit di dalam hatinya mendengar umpatan Diana barusan. Sebegitu bencinya kah Diana terhadap dirinya? Haruskah dia membiarkan semuanya berjalan seperti semula? Tapi dia tak bisa begitu saja mengabaikan darah dagingnya.


***


Mau tak mau akhirnya Diana pun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada Raka dan Eliana. Ibu dan anak itu terkejut setengah mati mengetahui fakta jika Diana korban perdagangan manusia hingga harus melahirkan anak tanpa suami. Seketika mereka ingat ucapan Diana tempo hari tentang masa lalunya yang buruk.


Diana mengangguk sembari mengusap air matanya yang terus saja jatuh menetes, dia berpikir pasti saat ini Raka dan Eliana mengecapnya buruk.


"Ya ampun, Diana! Kalau hanya ini, aku enggak peduli! Aku tetap akan mencintaimu dan bersedia menjadi ayah untuk Dafa," lanjut Raka.


"Iya, Di. Tante juga enggak masalah, kok. Itu kan cuma masa lalu, lagian kamu korban dan kamu enggak bersalah," sela Eliana yang mendekap erat tubuh kecil Dafa.


Diana tertegun, dia tak menyangka anak dan ibu itu masih mau menerimanya meski tahu seperti apa masa lalunya.


"Tapi aku ini wanita kotor, aku ...."


"Cukup, Di!" potong Raka sebelum Diana selesai bicara, "berhenti menghakimi dirimu sendiri! Benar yang Mama katakan, kamu enggak bersalah, begitu juga dengan Dafa. Kalian hanya korban, dan kini saatnya kalian menata kembali hidup serta masa depan kalian."


Diana terdiam, merasa terharu sebab Raka dan Eliana mau berpikiran positif tentang dirinya. Tak banyak orang yang menganggap dia sebagai korban, sebagian besar dari mereka justru berpikir Diana gadis nakal yang liar.

__ADS_1


"Raka benar, Di. Kamu dan anak kamu berhak untuk bahagia, lupakan masa lalu yang buruk itu dan fokus pada masa depan kamu," sambung Eliana.


Diana kembali bergeming memikirkan ucapan Eliana dan Raka, dia memang tak bisa melupakan kejadian di malam kelam itu, dan setiap kali teringat, rasa sakitnya langsung menyergapnya. Tapi dia akan coba untuk mulai memikirkan kebahagiaan dan masa depannya bersama sang buah hati.


***


Revan kembali ke apartemennya setelah memutuskan pergi dari tempat Diana bekerja, perasaan dan pikirannya benar-benar kacau saat ini.


"Tapi aku enggak ingin anakku tahu kalau ayahnya itu manusia biadab dan menjijikan seperti kau!"


Revan berjalan dengan gontai sambil mengembuskan napas berat, dadanya terasa sesak setiap kali teringat kalimat yang Diana lontarkan tadi. Dia sadar jika dia adalah lelaki berengsek, tapi saat Diana mengumpatnya tadi, seperti ada besi tajam yang menusuk hatinya.


Begitu tiba di depan pintu apartemennya, Revan langsung membuka pintu. Namun dia terkesiap saat melihat Lenny sudah duduk manis di dalam apartemennya, memang mamanya itu tahu kode sandi pintu apartemen tersebut.


"Dari mana kau?" sergah Lenny sinis.


"Lokasi syuting," jawab Revan bohong sembari melangkah masuk.


"Kenapa kau enggak datang ke restoran semalam? Kau juga enggak menjawab telepon dari Mama, kau sengaja ingin membuat Mama dan Papa malu, ya?"


"Ma, sudah aku bilang kalau aku enggak mau dijodohkan! Jadi jangan salahkan aku kalau Mama dan Papa malu karena aku enggak datang!"


Lenny mengepalkan tangannya menahan geram, "Kau ini benar-benar keras kepala! Mau sampai kapan kau seperti ini? Gosip tentang hubungan kau dengan model-model murahan itu sangat menggangu nama baik keluarga kita, mau sampai kapan kau membuat Mama dan Papa terus-terusan malu? Lagian kau sudah enggak muda lagi, sudah seharusnya berumah tangga!"


"Ma, aku pasti akan menikah, tapi aku enggak mau dijodohkan seperti ini! Biarkan aku mencari pendamping hidupku sendiri!" sahut Revan.


"Tapi mau sampai kapan kami menunggu? Kami sudah tua, sudah sakit-sakitan, enggak tahu akan bertahan berapa lama lagi! Kami ingin melihat kau menikah dan memiliki anak sebelum kami meninggal, Van," sungut Lenny penuh emosi, cairan bening pun jatuh menetes dari mata tuanya, namun buru-buru dia hapus.


Revan tertegun merasa bersalah bercampur iba saat melihat Lenny menangis, dia bisa melihat sebuah pengharapan yang besar tersirat di dalam mata sang ibunda. Seketika dia teringat Dafa yang merupakan darah dagingnya.


"Mama tenang aja, aku akan secepatnya memberikan Mama dan Papa seorang cucu," pungkas Revan penuh keyakinan.

__ADS_1


***


__ADS_2